Senin, 31 Mei 2021

TUGAS NABI DAN RASUL

2-Membawa kabar gembira kepada umat manusia yang beriman dan beramal shaleh dan memberikan kabar peringatan kepada umat manusia yang ingkar

3-Berdakwah kepada umat manusia untuk selalu menyembah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukan Allah dengan selain Allah

4-Menjelaskan cara beribadah dan beriman kepada Allah dengan baik dan secara rinci

5-Memperbaiki perilaku atau akhlak umat manusia dan menjadi suri tauladan bagi umat manusia

Penjelasan apa itu nabi dan rasul :

Nabi ialah seorang manusia Hamba Allah SWT yang diberi kepercayaan berupa wahyu untuk dirinya sendiri. sedangkan Rasul berasal dari kata Risala yang artinya penyampaian. Arti Rasul secara istilah, yakni seseorang yang mendapat wahyu dan kepercayaan dari Allah SWT, selanjutnya diamalkan dan memiliki kewajiban menyampaikan wahyu yang di trima

  • *TERIMA KASIIH*
Masuk untuk menambahkan komentar

Ada pertanyaan lain?

Pertanyaan baru di B. Arab

TENTANG RUKUN IMAN

 Iman dalam Islam merupakan dasar atau pokok kepercayaan yang harus diyakini setiap muslim. 

Jika tak memiliki iman, maka seseorang dianggap tidak sah menganut Islam.

 Berdasarkan hadis yang diriwayatkan Umar bin Khattab RA, ketika malaikat Jibril menyaru menjadi seorang laki-laki, ia bertanya kepada Nabi Muhammad SAW: " ...

Beritahukan kepadaku tentang Iman' Rasulullah SAW menjawab 'Engkau beriman kepada Allah, kepada para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, kepada para rasul-Nya, kepada hari Kiamat dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk.' Orang tadi [Jibril] berkata, 'Engkau benar'," (H.R. Muslim). 

Hadis di atas menjelaskan enam rukun Iman yang mesti diyakini seorang muslim sebagai berikut:

Iman pada adanya Tuhan Allah Yang Maha Esa.

Iman pada adanya malaikat Allah SWT. 

Iman pada adanya kitab-kitab Allah SWT. Iman pada adanya rasul-rasul Allah SWT. 

Iman pada adanya hari kiamat. Iman pada qada dan qadar, adanya takdir baik dan buruk ciptaan Allah SWT. 

Dalam buku Rukun Iman (2012), Hudarrohman menjelaskan bahwa iman menjadi sah ketika dilakukan dalam tiga hal, yaitu iman yang diyakini dalam hati, kemudian diikrarkan dengan lisan, dan diamalkan dengan anggota badan. 

Aspek-aspek rukun iman dalam Islam dijelaskan dalam uraian sebagai berikut: 

1. Iman kepada Allah SWT Iman kepada Allah SWT dilakukan dengan mempercayai dan meyakini bahwa Allah itu benar-benar ada, kendati seseorang tidak pernah melihat wujud-Nya atau mendengar suara-Nya.

Untuk beriman kepada-Nya, seorang muslim harus mengetahui sifat-sifat-Nya, baik itu sifat-sifat wajib, jaiz, atau mumkin, atau dapat juga dilakukan dengan mengenal 99 Asmaul Husna yang tertuang dalam Alquran atau hadis. 

2. Iman kepada Malaikat Allah SWT Iman kepada malaikat Allah SWT dilakukan dengan mempercayai bahwa malaikat itu benar-benar ada. 

Seorang muslim mesti meyakini adanya malaikat kendati tidak pernah melihat wujudnya, mendengar suaranya, atau menyentuh zatnya. 

Perintah mengimani malaikat ini tertera dalam Alquran surah Al-Baqarah ayat 285: "Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya," (QS. Al-Baqarah [2]: 285). 

10 Nama-Nama Malaikat dan Tugasnya Menurut Agama Islam

3. Iman kepada Kitab-kitab Allah SWT Iman kepada kitab-kitab Allah SWT dilakukan dengan mempercayai bahwa Allah menurunkan kitab kepada utusan-Nya. 


Al-quran adalah kitab suci umat Islam. 

Kehadirannya adalah sebagai petunjuk bagi manusia dan merupakan prinsip-prinsip dasar untuk semua masalah kehidupan. 

Al-quran juga berfungsi sebagai panduan hidup di dunia dan akhirat. 

Perjalanan Al-quran, mulai pertama kali diturunkan hingga sekarang mengalami perjalanan sejarah yang amat panjang, melewati periode lebih dari 1400 tahun lampau. 

Kendati berusia panjang, tidak seperti kitab-kitab suci lainnya yang terdistorsi, Allah SWT menjamin keutuhan dan keaslian Al-quran, sebagaimana firman-Nya: 

"Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-quran dan Kamilah yang memeliharanya," (QS Al Hijr [15]: 9).

 Dilansir dari NU Online, di masa kenabian, Al-quran diturunkan dalam dua cara. 

Pertama, Al-quran diturunkan secara lengkap di malam Lailatulqadar dari Lauh Al-Mahfudz ke Baitul Izzah atau langit dunia pada bulan suci Ramadan. 

Hal ini dijelaskan Allah SWT dalam surah Al-Qadr ayat pertama: "Sesungguhnya kami telah menurunkannya [Al-quran] pada malam kemuliaan [Lailatulqadar]," (Al-Qadr [97]: 1).

Kedua, usai diturunkan di langit dunia, lalu wahyu Al-quran ini diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad SAW sesuai dengan konteks dan kebutuhan, selama kira-kira 23 atau 25 tahun. 

Ayat pertama yang turun kepada Nabi Muhammad, sekaligus juga tanda pengangkatannya sebagai Rasululullah SAW adalah surah Al-Alaq ayat 1-5 yang berisi perintah membaca (Iqra!).

Sejarah Periodisasi Al-quran Sepanjang perjalanan turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW, para ulama membagi sejarah Al-quran dalam dua periode, yaitu periode sebelum hijrah dan periode selepas hijrah.

Ayat-ayat Al-quran yang turun sebelum hijrah dikenal dengan sebutan ayat-ayat makiyah, sementara ayat-ayat Al-quran yang turun usai hijrah dikenal dengan ayat-ayat madaniyah.

 Yusuf Hasyim dalam buku Akidah Akhlak (2020) menjelaskan sejarah periodisasi Al-quran sebagai berikut: 

1. Periode Sebelum Hijrah dan Ayat-ayat Makiyah Pada periode sebelum hijrah, ayat-ayat Al-quran diturunkan selama Nabi Muhammad SAW berdakwah di Makkah. Karena itulah, ayat-ayatnya dinisbatkan ke lokasi turunnya wahyu yaitu di Makkah. Ayat-ayatnya diberi julukan sebagai ayat-ayat makiyah. 

Di periode pertama ini, terdapat 86 surah makiyah yang diturunkan selama 12 tahun lima bulan. 

Sebagaimana disebutkan di atas, wahyu pertama diturunkan pada 17 Ramadan 610 M di Gua Hira ketika Nabi Muhammad SAW menyendiri dari kaumnya. 

Pada umumnya, isi ayat-ayat makiyah berkenaan dengan akidah dan penguatan tauhid.

 Wahyu Al-quran di periode sebelum hijrah merupakan pokok ajaran Islam untuk mengokohkan keimanan umat yang ditindas oleh orang-orang kafir Quraisy.

 2. Periode Selepas Hijrah dan Ayat-ayat Madaniyah Pada periode kedua ini, ayat-ayat Al-quran diturunkan selama Nabi Muhammad SAW berdakwah di Madinah. 

Karena itulah, ayat-ayatnya dinisbatkan ke lokasi turunnya wahyu yaitu di Madinah. Ayat-ayatnya diberi julukan sebagai ayat-ayat madaniyah. Di periode kedua ini, terdapat 28 surah yang turun selama 9 tahun 9 bulan.

 Karena pengokohan iman sudah dijelaskan melalui ayat-ayat makiyah, maka usai hijrah, ayat-ayat madaniyah umumnya berkaitan dengan muamalat, syariat, dan hukum-hukum Islam. Di periode ini, ayat terakhir yang diturunkan adalah ayat 

3 dalam surah Al-Maidah ketika Nabi Muhammad SAW melakukan haji Wada' sekaligus penutup dari wahyu Al-quran.

 "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan bagimu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam menjadi agamamu,” (QS. Al-Maidah [5]:

 3). Sejarah Pembukuan Al-Quran Di masa Rasulullah SAW, Al-quran belum terkumpul rapi seperti sekarang. 

Ketika wahyu diturunkan, Nabi Muhammad SAW membacakannya pada para sahabat, baik untuk langsung ditulis atau dihafalkan. 

Usai Rasulullah SAW meninggal, terdapat kebutuhan untuk membukukan dan menstandardisasi Al-quran agar tetap utuh dan terjaga keotentikannya. 

Penjelasan mengenai sejarah pembukuan Al-quran dijelaskan dalam uraian berikut ini: 

1. Al-quran di Masa Nabi Muhammad SAW Salah satu alasan Al-quran belum dibukukan pada masa kenabian adalah proses perjalanan wahyu yang masih berlangsung selama hidup Nabi Muhammad SAW. Ketika wahyu diturunkan, Rasulullah SAW kemudian membacakannya kepada para sahabat, serta meminta beberapa orang untuk menuliskan wahyu tersebut.

 Sahabat-sahabat penulis wahyu itu di antaranya adalah Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Talib, Muawiyah bin Abu Sufyan, Ubay bin Kaab, dan lain sebagainya. Media tulis yang digunakan saat itu adalah pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit bintang, kayu, pelana, potongan tulang binatang, dan lain sebagainya. 

Selain langsung dituliskan, banyak sahabat yang langsung menghafalkannya ketika dibacakan oleh Nabi Muhammad SAW. Karena itulah, pengumpulan Al-quran di masa kenabian ini dikenal dengan dua cara, yaitu melalui tulisan (jam'u fi as-suthur) dan melalui hafalan (jam'u fi ash-shudur). 

2. Al-quran di Masa Kekhalifahan Rasyidin Usai Rasulullah SAW meninggal, terpilihlah khalifah-khalifah pengganti beliau di masa Kekhalifahan Rasyidin. Di waktu inilah, para khalifah, dimulai dari Abu Bakar As-Shiddiq hingga Utsman bin Affan merasa perlu untuk mengumpulkan dan membukukan Al-quran menjadi kesatuan yang utuh. 

Awalnya, kebutuhan untuk membukukan Al-quran ini dirasa sangat penting usai perang Yamamah di masa khalifah Abu Bakar. 

Pada perang itu, banyak dari para hafiz atau penghafal Al-quran dari para sahabat mati syahid. 

Khawatir Al-quran akan bernasib sama seperti kitab-kitab suci lain yang banyak terdistorsi karena telat dibukukan, Umar bin Khattab mengusulkan kepada Abu Bakar agar Al-quran segera dikumpulkan. 

Kendati awalnya ragu-ragu, namun akhirnya khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq memerintahkan Zaid bin Tsabit, salah seorang penulis wahyu di masa kenabian agar memimpin proyek pengumpulan Al-quran tersebut. 

Dalam uraian "Sejarah Al-Quran" yang ditulis Cahaya Khaeroni disebutkan bahwa Zaid ibn Tsabit menerapkan empat prinsip dalam proyek pengumpulan Al-quran: Ayat yang diterima hanya yang ditulis di hadapan Rasulullah; Ayat Al-quran ditulis dari hafalan para sahabat; Ayat Al-quran tidak akan ditulis, kecuali disetujui oleh dua orang saksi bahwa ayat itu pernah ditulis di hadapan Rasulullah; dan- Hafalan Al-quran para sahabat tidak diterima, kecuali yang telah mereka dengar langsung dari Rasulullah SAW. 

Usai Al-quran dibukukan, kemudian dilakukan standardisasi di masa khalifah Utsman bin Affan. 

Perbedaan dialek (lahjah) kemudian disatukan oleh Utsman agar tidak menimbulkan perpecahan di kalangan umat Islam. 

Karena itulah, mushaf yang umum ditemui sekarang dikenal dengan cara penulisan Utsman atau Rasm Utsmani. Perjalanan panjang sejarah penulisan Al-quran ini makin mengokohkan keotentikan Al-quran. Bukti bahwa Al-quran merupakan kitab suci ilahi ini dijelaskan dalam surah Hud ayat 13: "Bahkan mereka mengatakan, 'Dia [Muhammad] telah membuat-buat Al-quran itu.' Katakanlah, '[Kalau demikian], datangkanlah sepuluh surah semisal dengannya [Alqur'an] yang dibuat-buat, dan ajaklah siapa saja di antara kamu yang sanggup selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar," (QS. Hud [11]: 13). 

Allah SWT menantang jika ada yang berani mengingkari kebenaran Al-quran, maka diminta untuk membuat surah seperti surah Al-quran. 

Namun, kendati mushaf Al-quran sudah tersebar di berbagai tempat di belahan dunia, namun tak seorang pun yang bisa membuat semacam Al-quran. Hal ini menandakan bahwa Al-quran benar-benar otentik dan berasal dari Allah SWT.

Baca selengkapnya di artikel "Sejarah Turunnya Al-Qur'an dan Keistimewaannya", 

Kitab ini merupakan pedoman, petunjuk kebenaran dan kebahagiaan, baik itu di dunia maupun akhirat. Keberadaan kitab-kitab Allah SWT ini tertera dalam Alquran surah Al-Hadid ayat 25: “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Alkitab dan neraca [keadilan] supaya manusia dapat melaksanakan keadilan,” (QS.Al-Hadid [57]: 25). Dengan beriman kepada kitab Allah, seorang muslim membenarkan secara mutlak bahwa kitab-kitab itu merupakan firman Allah SWT.

Isinya adalah kebenaran yang wajib diikuti dan dilaksanakan.

 Dalam buku Rukun Iman (2007) yang diterbitkan Universitas Islam Madinah, disebutkan bahwa beriman kepada kitab Allah dapat dilakukan dengan dua hal, yaitu beriman secara umum dan terperinci. 

Pertama, beriman secara umum artinya meyakini bahwa Allah SWT menurunkan kitab-kitab kepada rasul-Nya. Jumlahnya, tiada yang tahu kecuali Allah SWT sendiri. Kedua, beriman secara terperinci artinya mengimani kitab-kitab yang disebutkan Allah SWT secara spesifik dalam Alquran, seperti Taurat, Injil, Zabur, Alquran, serta Suhuf Ibrahim dan Musa. 4. Iman kepada Rasul-rasul Allah SWT Iman kepada rasul-rasul Allah SWT dilakukan dengan mempercayai bahwa Allah benar-benar menurunkan rasul-Nya kepada suatu masyarakat tertentu untuk menyampaikan ajaran-Nya. 

Siapa saja yang mengikuti rasul-rasul itu akan memperoleh hidayah dan petunjuk. Sebaliknya, yang mengingkari Rasul-Nya akan tersesat. Keberadaan rasul Allah SWT ini tertera dalam Alquran surah Al-Hajj ayat 75: “Allah memilih utusan-utusan-Nya dari malaikat dan dari manusia, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat,” (QS.Al-Haj [22]:75). Baca juga: Tugas Rasul-Rasul Allah SWT sebagai Penyampai Wahyu kepada Manusia 

5. Iman kepada Hari Kiamat Iman kepada hari kiamat dilakukan dengan mempercayai bahwa suatu hari kehidupan di semesta akan musnah. Selepas itu, manusia akan dibangkitkan dari kubur, dikumpulkan di padang mahsyar, dan diputuskan ke surga atau neraka. Dalam surah Al-Infithar ayat 14 dan 15, Allah SWT berfirman: “Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka. Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan [hari kiamat],” (QS. Al-Infithar [82]:14-15).

 6. Iman kepada Qada dan Qadar Iman kepada qada dan qadar dilakukan dengan mempercayai bahwa Allah SWT telah menetapkan takdir manusia, baik itu yang buruk maupun yang baik. 

Pertama, qada merupakan takdir atau ketetapan yang tertulis di lauh al-mahfuz sejak zaman azali. 

Takdir dan ketetapan ini sudah diatur oleh Allah SWT bahkan sebelum Dia menciptakan semesta berdasarkan firman-Nya dalam surah Al-Hadid ayat 22: “Tiadalah sesuatu bencana yang menimpa bumi dan pada dirimu sekalian, melainkan sudah tersurat dalam kitab [lauh al-mahfuz] dahulu sebelum kejadiannya,” (QS. Al-Hadid [57]: 22). Artinya, qada merupakan ketetapan Allah SWT terhadap segala sesuatu sebelum sesuatu itu terjadi. 

Hal ini juga tergambar dalam sabda Nabi Muhammad SAW: "Allah SWT telah menetapkan takdir untuk setiap makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi," (H.R. Muslim). 

Kedua, qadar adalah realisasi dari qada itu sendiri. Artinya, adalah ketetapan atau keputusan Allah SWT yang memiliki sifat Maha Kuasa (qudrah dan qadirun) atas segala ciptaan-Nya, baik berupa takdir yang baik, maupun takdir yang buruk. 

Jika qada itu ketetapan yang belum terjadi, maka qadar adalah terwujudnya ketetapan yang sudah ditentukan sebelumnya itu.

 Dilansir dari NU Online, karena qada dan qadar adalah perkara gaib, keduanya tidak bisa menjadi alasan seorang muslim bersikap pasif dan pasrah dengan takdirnya. 

Dengan beriman kepada qada dan qadar, seorang muslim tetap harus berikhtiar, berusaha, dan mengupayakan potensinya agar dapat terwujud, serta produktif di kehidupan sehari-hari.

Baca selengkapnya di artikel "Pengertian Rukun Iman dan Penjelasan 6 Aspeknya dalam Agama Islam", 

5 Pengertian Nilai Nilai Pancasila Dalam Kehidupan Berbangsa Dan Bernegara Di Indonesia.



Nilai nilai Pancasila merupakan landasan atau pegangan dasar bagi masyarakat Indonesia dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara.

Setiap aktivitas, keputusan, dan kebijakan baik oleh pemerintah maupun masyarakat selayaknya berpedoman pada Pancasila.

Fungsi Pancasila memang sangat penting, maka dari itu dijadikan sebagai dasar negara Indonesia.

Nilai dari Pancasila sendiri bisa ditunjukkan melalui lima sila yang tercantum:

  1. Ketuhanan yang Maha Esa
  2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan
  5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Setiap sila tersebut mengandung nilai-nilai yang harus diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Simak penjelasan nilai nilai Pancasila berikut ini, yuk!

Nilai Nilai Pancasila dalam Setiap Sila

1. Nilai Ketuhanan

sila 1 pancasila

Nilai ketuhanan adalah nilai yang mencerminkan Indonesia sebagai negara yang beragama. Artinya, setiap warga Indonesia memeluk agama yang dipercaya.

Sila pertama dalam Pancasila dilambangkan dengan bintang berwarna emas dengan latar belakang berwarna hitam.

Lambang Pancasila ini menggambarkan bahwa segenap bangsa Indonesia mengakui adanya Tuhan yang Maha Esa.

Pun warna emas pada bintang tersebut merupakan gambaran sumber cahaya dari Tuhan yang menerangi Indonesia.

Sila pertama ini mengandung nilai nilai Pancasila sebagai berikut:

  • Mengimani adanya Tuhan yang Maha Esa dan mengikut perintah serta larangannya
  • Saling menghormati dan menghargai antar pemeluk agama
  • Memiliki rasa toleransi dalam kehidupan beragama
  • Tidak memaksakan kehendak antar umat beragama
  • Tidak mencemooh dan merendahkan agama orang lain

2. Nilai Kemanusiaan

sila 2 pancasila

Nilai kemanusiaan adalah nilai yang mengajarkan bahwa setiap warga Indonesia harus bersikap adil dan manusiawi kepada setiap orang terlepas dari perbedaan yang ada.

Sila ke-2 dalam Pancasila dilambangkan dengan rantai emas dengan latar belakang berwarna merah.

Kalau diperhatikan perhatikan dengan baik, gelang-gelang rantai pada lambang ini memiliki bentuk yang tidak sama dan terikat tanpa putus.

Dalam ikatan rantai tersebut terdapat bentuk lingkaran yang melambangkan pria dan bentuk persegi yang melambangkan wanita.

Rantai-rantai ini terikat tanpa putus sebagai gambaran hubungan rakyat Indonesia yang saling terikat dan membantu.

Baik pria maupun wanita, keduanya memiliki kesetaraan hak sebagai rakyat Indonesia.

Berikut nilai-nilai yang terkandung dalam sila ke-2:

  • Seluruh rakyat Indonesia memiliki hak yang sama di mata hukum, agama, masyarakat, dan lainnya
  • Tidak ada perbedaan sosial antara sesama rakyat Indonesia
  • Mengutamakan sikap tenggang rasa dan saling tolong menolong
  • Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan antar rakyat Indonesia
  • Saling menghargai pendapat

3. Nilai Persatuan

sila 3 pancasila

Nilai persatuan adalah nilai yang memiliki arti bahwa warga Indonesia harus bersatu dan tidak boleh terpecah-belah karena adanya perbedaan.

Sila ke-3 dalam Pancasila dilambangkan dengan sebuah pohon beringin berlatar belakang putih yang berperan sebagai simbol negara Indonesia sendiri.

Pohon ini memiliki arti sebagai tempat berteduh dan sebuah bentuk kesatuan meskipun masyarakat Indonesia sangat beragam.

Layaknya akar pada pohon beringin yang banyak, setiap akar tersebut masih dalam satu pohon yang sama.

Berikut nilai nilai Pancasila yang terkandung dalam sila ke-3:

  • Menggunakan bahasa persatuan Indonesia
  • Memperjuangkan dan mengharumkan nama Indonesia
  • Cinta terhadap tanah air
  • Mengutamakan kesatuan dan persatuan
  • Berjiwa patriotisme di manapun kaki berpijak

4. Nilai Kerakyatan

sila 4 pancasila

Nilai kerakyatan adalah nilai yang menunjukkan bahwa negara harus mengutamakan rakyat.

Sila ke-4 dalam Pancasila dilambangkan dengan kepala banteng berwarna hitam dan putih dengan latar belakang merah.

Lambang ini menggambarkan kehidupan rakyat Indonesia yang hidup rukun bersosial dengan satu sama lain.

Dengan demikian, keputusan bersama harus dicapai dalam hidup bersosial.

Berikut nilai-nilai yang terkandung dalam sila ke-4:

  • Pemimpin bangsa Indonesia harus bijaksana
  • Mengutamakan kekeluargaan
  • Kedaulatan bangsa berada di tangan rakyat
  • Kebijakan dalam mengambil solusi
  • Keputusan bersama harus diambil melalui musyawarah
  • Tidak memaksakan kehendak

5. Nilai Keadilan

sila 5 pancasila

Nilai keadilan adalah nilai yang mengajarkan bahwa setiap warga negara Indonesia harus bersikap adil kepada semua orang tanpa membeda-bedakan.

Sila ke-5 dalam Pancasila dilambangkan dengan padi dan kapas yang merupakan sumber sandang pangan rakyat Indonesia.

Lambang ini merupakan gambaran tujuan bangsa Indonesia yang ingin menciptakan kesejahteraan sosial tanpa adanya kesenjangan sosial, ekonomi, budaya, dan politik.

Dengan demikian, keadilan diharapkan dapat diwujudkan.

Berikut nilai-nilai yang terkandung dalam sila ke-5:

  • Harus menerapkan perilaku adil dalam bidang ekonomi, sosial, dan politik
  • Harus menghormati hak dan kewajiban setiap orang
  • Perwujudan keadilan sosial bagi bangsa Indonesia
  • Menggapai tujuan adil dan makmur
  • Mendukung kemajuan dan pembangunan Indonesia

Fungsi Utama Pancasila

Sebagai dasar negara, Pancasila memiliki beberapa fungsi utama yang menjadi jati diri dari bangsa Indonesia.

Ronto dalam bukunya yang berjudul Pancasila sebagai Ideologi dan Dasar Negara, menuliskan 9 poin fungsi utama pancasila:

  1. Pancasila sebagai ideologi negara
  2. Pancasila sebagai dasar negara
  3. Pancasila sebagai jiwa bangsa Indonesia
  4. Pancasila sebagai kepribadian bangsa Indonesia
  5. Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia
  6. Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum atau sumber tertib hukum bagi negara republik Indonesia
  7. Pancasila sebagai perjanjian luhur bangsa Indonesia
  8. Pancasila sebagai cita-cita dan tujuan bangsa Indonesia
  9. Pancasila sebagai falsafah hidup yang mempersatukan bangsa

***

Semoga artikel ini bermanfaat ya,,, sahabat Baraya kultum


Anak Sebagai Aset Mahal Orang Tua




Anak Sebagai Aset Mahal Orang Tua


Tanggal 1 Juni Adalah Hari Anak Sedunia


إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِه اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ فَيَااَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِالتَّقْوَي االلَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ : يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّابَعْد.

Hadirin Jama’ah Jum’at Yang Berbahagia. . .

Alhamdulillah, Segala puji bagi Allah yang sampai saat ini masih memberikan berbagai macam nikmat dan karunia-Nya kepada kita semua. Sehingga pada saat ini, kita masih dapat menghirup udara yang segar serta merasakan indahnya hari ini. Dan juga kita masih dapat melangkahkan kaki ini menuju ke tempat yang mubarokah ini, guna untuk melaksanakan kewajiban kita sebagai ummat Islam yaitu shalat Jum’at secara berjama’ah. Dan tak lupa marilah kita kembali meningkatkan ketaqwaan dan keimanan kita kepada Allah SWT, yaitu dengan menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala apa larangnya.

Selawat dan salam kepada Nabiullah Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir, yaitu Nabi yang telah mengeluarkan manusia dari alam kegelapan menuju ke alam yang terang benderang seperti yang kita rasakan pada saat ini. Dan Nabi yang telah berjuang membelah agama Allah dari orang-orang kafir, demi tegaknya kalimat tauhid dipermukaan bumi ini, Yaitu kalimat “LA ILAAHA ILLALLAH” Hadirin Jama’ah Jum’at Yang Berbahagia. . .

Allah berfirman dalam surah At-Tahriim : 6

Artinya : wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Rasulullah SAW bersabda :

(رواه البخاري) كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Artinya: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan yang suci (fitrah), maka orang tuanya yang menyebabkan dia menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari)

Hadirin Jama’ah Jum’at Yang Berbahagia. . .

Alangkah manisnya dan alangkah indahnya dunia ini, sehingga banyak manusia yang tejerat oleh tipu dayanya, Sehingga tidak heran apabila banyak diantara manusia yang lalai akan kehidupan akhiratnya, dan lebih mengutamakan kehidupan dunianya. Dengan alasan bahwa mereka akan hidup selama-lamanya di permukaan bumi ini, akan tetapi anggapan mereka itu salah besar.

Dalam surat At-Tahriim ayat 6 tersebut, terdapat salah satu kewajiban bagi manusia diantara kewajiban-kewajiban lainnya yang Allah tetapkan bagi kita semua. Adapun kewajiban tersebut yaitu Allah memerintahkan agar kita manusia menjaga diri dan keluarga kita dari api neraka dan selalu mengingat Allah, dan tidak lalai akan kehidupan akhirat nantinya.

Ali r.a berkata dalam menafsirkan ayat ini :

أَدِّبُوْاهُمْ وَعَلِّمُوْاهُمْ

Sebagaimana juga telah yang telah diterangkan dalam hadits Bukhari tadi, bahwa yang menyebabkan seorang anak menjadi yahudi atau nasrani ataupun majusi, tidak lain adalah orang tuanya sendiri. Hadits ini juga menegaskan bahwasanya, orang tua merupakan faktor dominan yang akan membentuk sebuah karakter seorang anak yaitu dengan memanfaatkan saat-saat awal seorang anak mengalami pertumbuhannya. Dengan cara menanamkan dalam jiwa seorang anak akan kecintaan terhadap agamanya, cinta terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya, sehingga ketika seorang anak tersebut berhadapan dengan lingkungan yang berbeda, anak tersebut memiliki daya resistensi yang dapat menangkal setiap pengaruh negatif yang akan merusak dirinya.

Hadirin Jama’ah Jum’at Yang Berbahagia. . .

Anak adalah buah hati bagi kedua orang tuanya yang sangat disayangi dan dicintainya. Dan anak yang shaleh adalah merupakan salah satu aset bagi kedua orang tua dunia dan akhirat. Akan tetapi begitu banyak orang tua yang menelantarkan anaknya sehingga anaknya menjadi anak yang salah bukan menjadi anak yang shaleh. Sebagai orang tua yang bertanggungjawab, maka seharusnya meraka menjaga amanah yang dititipkan oleh Allah SWT, dengan memberikan berbagai pengajaran dan pendidikan kepada anaknya.

Begitu banyak nasehat-nasehat yang telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an, namun begitu banyak pula orang tua yang melalaikan akan penjelasan naseha-nasehat tersebut. Diantaranya nasehat-nasehat Luqman kepada anaknya. Sebagaimana firman Allah dalam surah Luqman : 12-13

Artinya : (12) “Dan Sesungguhnya Telah kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. dan barangsiapa yang bersyukur kepada Allah, Maka Sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barang siapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. (13) “Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar”.

Hadirin Jama’ah Jum’at Yang Berbahagia. . .

Ayat di atas sudah sangat jelas, bahwasanya Allah memerintahkan kepada para orang tua untuk memberikan pelajaran yang baik kepada anaknya, menunjukkan arah yang baik kepada anaknya, tidak membiarkan anaknya pada jalan kesesatan, dan terpengaruh dengan lingkungan yang rusak, agar nantinya anak tersebut bisa menjadi aset bagi orang tuanya, dan bisa memberikan pertolongan serta syafaat pada hari akhir kelak nantinya. Karena pada umumnya orang tua menginginkan kelak anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang shaleh, agar ketika dewasa nantinya dapat membalas jasa-jasa kedua orang tuanya. Namun, kita perhatikan di zaman sekarang ini tidak sedikit orang tua yang menelantarkan anaknya, serta membiarkannya di arah yang sesat.

Inilah orang tua yang tidak bertanggung jawab pada anaknya. Bahkan orang tua yang seperti ini bisa dikatakan orang tua yang durhaka kepada anaknya, lain kata durhaka kepada amanah yang diberikan atau dititipkan oleh Allah SWT. Sehingga menghasilkan obsesi yang dilakukan oleh orang tua tidak sejalan dengan usaha yang dilakukannya. Padahal usaha merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan bagi terbentuknya watak dan karakter anak. Obsesi tanpa usaha adalah hayalan semu yang tak akan mungkin dapat menjadi kenyataan.

Dan akibat pandangan yang keliru juga , tidak sedikit orang tua menginginkan agar kelak anak-anaknya bisa menjadi bintang film atau artis, bintang iklan, fotomodel dan lain-lain. Karena mereka beranggapan dengan itu semua kelak anak-anak mereka dapat hidup makmur seperti kaum selebritis yang terkenal itu. Padahal dibalik itu, semua mereka berada di dalam kesalahan yang fatal. Sehingga sangat jarang kita saksikan atau kita dapatkan orang tua yang perduli dengan tujuan hakiki mereka diciptakan oleh Allah SWT. Apakah kita menginginkan anak-anak kita menjadi orang yang jauh dari agamanya yang kelihatannya bahagia di dunia namun menderita di akhirat? Tentu tidak.

Allah SWT berfirman dalam surah An Nisa: 9

Artinya : “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka”.

Hadirin Jama’ah Jum’at Yang Berbahagia. . .

Pengertian lemah dalam ayat ini adalah lemah iman, lemah fisik, lemah intelektual dan lemah ekonomi. Oleh karena itu selaku orang tua yang bertanggung jawab terhadap anak-anaknya, maka mereka harus memperhatikan keempat hal ini. Karena Pengabaian salah satu dari empat hal ini dapat menyebabkan ketidak seimbangan pada anak.

Imam Ibnu Katsir dalam komentarnya bahwa pengertian lemah pada ayat ini memfokuskan pada masalah ekonomi. Beliau mengatakan selaku orang tua hendaknya tidak meninggalkan keadaan anak-anak mereka dalam keadaan miskin. (Tafsir Ibnu Katsir: I, hal 432) Dan terbukti berapa banyak kaum muslimin yang rela meninggalkan aqidahnya atau murtad di era ini akibat keadaan ekonomi mereka yang dibawah garis kemiskinan. berapa banyak orang tua yang mementingkan perkembangan anak dari segi intelektual, fisik dan ekonomi semata dan mengabaikan perkembangan iman. Orang tua terkadang berani melakukan hal apapun yang penting kebutuhan pendidikan anak-anaknya dapat terpenuhi, sementara untuk memasukkan anak-anak mereka pada pendidikan TK-TP Al-Qur’an terasa begitu enggan. Padahal aspek iman merupakan kebutuhan pokok yang bersifat mendasar bagi anak.

Ada juga orang tua yang menyeimbangkan pemenuhan kebutuhan bagi anak-anak mereka dari keempat masalah pokok di atas, namun usaha yang dilakukannya kearah tersebut sangat diskriminatif dan tidak seimbang. Sebagai contoh: Ada orang tua yang dalam usaha mencerdaskan anaknya dari segi intelektual telah melaksanakan usahanya yang cukup maksimal, segala sarana dan prasarana kearah tercapainya tujuan tersebut dipenuhinya dengan sungguh-sungguh. Namun dalam usaha memenuhi kebutuhan anak dari hal keimanan, orang tua terlihat setengah hati, padahal mereka telah memperhatikan anaknya secara bersungguh-sungguh dalam segi pemenuhan otaknya.

Hadirin Jama’ah Jum’at Yang Berbahagia. . .

Karena itu sebagai orang tua yang bijaksana, mesti mampu memperhatikan langkah-langkah yang harus di tempuh dalam merealisasikan obsesinya dalam melahirkan anak yang shalih. beberapa langkah yang cukup membantu mewujudkan obsesi tersebut:

1.Opini atau persepsi orang tua tersebut harus benar-benar sesuai dengan kehendak Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah

Rasulullah SAW, bersabda:

إِذَا مَاتَ بْنُ آدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ، صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ.

Artinya: “Jika wafat anak cucu Adam, maka terputuslah amalan-amalannya kecuali tiga: Sadaqah jariah atau ilmu yang bermanfaat atau anak yang shalih yang selalu mendoakannya.” (HR.Muslim).

Dalam hadits ini sangat jelas disebutkan ciri anak yang shalih adalah anak yang selalu mendoakan kedua orang tuanya. Sementara kita telah sama mengetahui bahwa anak yang senang mendoakan orang tuanya adalah anak sedari kecil yang telah terbiasa terdidik dalam melaksanakan kebaikan-kebaikan, melaksanakan perintah-perintah Allah, dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Anak yang shalih adalah anak yang tumbuh dalam naungan Dien-Nya, maka mustahil ada anak dapat bisa mendoakan orang tuanya jika anak tersebut jauh dari perintah-perintah Allah SWT, dan senang bermaksiat kepada-Nya. Anak yang senang bermaksiat kepada Allah, jelas akan jauh dari perintah Allah dan kemungkinan besar senang pula bermaksiat kepada kedua orang tuanya sekaligus.

Dalam hadits ini juga telah dijelaskan tentang keuntungan memiliki anak yang shalih yaitu, amalan-amalan mereka senantiasa berkorelasi dengan kedua orang tuanya walaupun sang orang tua telah wafat. Jika sang anak melakukan kebaikan atau mendoakan orang tuanya maka amal dari kebaikannya juga merupakan amal orang tuanya dan doanya akan segera terkabul oleh Allah SWT. Jadi jelaslah bagi kita akan gambaran anak yang shalih yaitu anak yang taat kepada Allah, menjauhi larangan-laranganNya, selalu mendoakan orang tuanya dan selalu melaksanakan kebaikan-kebaikan.

2.Menciptakan lingkungan yang kondusif ke arah terciptanya anak yang shalih.

karena lingkungan merupakan tempat di mana manusia melaksanakan aktifitas-aktifitasnya. Baik itu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat.

Hadirin Jama’ah Jum’at Yang Berbahagia. . .

Amar ma’ruf adalah kewajiban setiap individu masing-masing yang harus dilaksanakan. Jika tidak maka Alla, pasti akan menimpakan adzabnya di tengah-tengah kita dan pasti kita akan tergolong orang-orang yang rugi.

Sebagaimana firman Allah Ali Imron : 104

Artinya : “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar. Dan merekalah orang-orang yang beruntung”.

Maka dari pada itu, kembali kita saling mengingatkan, agar supaya kita tidak lalai dari apa-apa yang telah Allah anugrahkan atau yang amanahkan kepada kita di kehidupan ini. Sehingga kebahagian dunia dan akhirat bisa kelak kita raih dengan sempurna. Serta marilah kita peduli terhadap kelangsungan hidup generasi-generasi kita, semoga dengan kepedulian kita itulah Allah SWT akan senantiasa menurunkan pertolonganNya kepada kita dan memenangkan Islam di atas agama-agama lainnya. Dan tidak lupa, mari kita selalu kembali meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan kita hanya kepada Allah semata, sang maha pengasih dan penyayang.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمِا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Khutbah Ke 2

اَلْحَمْدُلِلّهِ حَمْدًاكَثِيْرًاكَمَااَمَرَ. وَاَشْهَدُاَنْ لاَاِلهَ اِلاَّللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ. اِرْغَامًالِمَنْ جَحَدَبِهِ وَكَفَرَ. وَاَشْهَدُاَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُاْلاِنْسِ وَالْبَشَرِ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ مَااتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَاُذُنٌ بِخَبَرٍ اَمَّا بَعْدُ : فَيَااَ يُّهَاالنَّاسُ !! اِتَّقُوااللهَ تَعَالىَ. وَذَرُوالْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَوَمَابَطَنْ. وَحَافِظُوْاعَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ. وَاعْلَمُوْااَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَفِيْهِ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاًعَلِيْمًا: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْاتَسْلِيْمًا. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَاصَلَّيْتَ عَلىَ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ اَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. فىَ الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌمَجِيْدٌ اَللّهُمَّ اغْفِرْلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَاوَاهِبَ الْعَطِيَّاتِ. اَللّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّاالْغَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالرِّبَا وَالزِّنَا وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ. وَسُوْءَالْفِتَنِ مَاظَهَرَمِنْهَا وَمَابَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا هَذَاخَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِبَلاَدِالْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ رَبَّنَااَتِنَافِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلاَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.


Minggu, 30 Mei 2021

KELUARGA BESAR PAGUYUBAN KULTUM 141.200 MHZ.

SILAHKAN KLIK JUGA INFORMASI SELENGKAPNYA :

Yang ngaji : Oma Azam (Cijerah)
Qur'an        :  al-furqan ayat 42
judulnya.   :  Tarhib Romadon 


Pa Ade (Ciparay)
Ambu sera
Lia.
Teh intan
Bunda iin
Neng opes. (Cihanjuang)
Neuneu. (Cianjur)
Mamah Fera (Ciparay)
Teh Tita. (patiukur)
Oma Azam (Cijerah)





ANGGOTA AKTIF DALAM ACARA KULTUM :

001. Ustadz Yachya Yusliha
002. Atang  (ketua 141.200)
003. Bunda noor
004. Kolor
005. Adam Star /Cicalengka
006. Gobin /Lembang
007. Om etoy (NCS)
008. Bunda Mia
009. Deden Doni
010. Teh intan
011. Mom Ayu
012. AA Kamarung
013. Teh Orin. Cimahi
014. Heri Susanto Cinambo
015. Nene/Cianjur
016. Dodo Cibiru
017. Amel /Cicadas
018. Ade (Ciparay)
019. Abah Ojon
020. Kang Yana. 
021. Abah Giok
022. Bunda Maci Caringin
023. Dewo
024. Didin cigending
025. Bunda Iim
026. Mamah pera
027. Teh Dera
028. Cecep pendil
029. Dani
030. Jeki/jelekong
031. Lia /Bojong koneng
032. Om Salim/garut
033. Amel ciburial
034. Bundring. (Sekretaris)
035. Nanang Banjaran
036. Babah Carly Tanjung sari
037. Citra (Lewi gajah)
038. Ambu Sera/ Tanjung sari
039. Elsya. (Banjaran)
040. Apih Remek
044. Dedem/Cikutra
045. Teh Inyoh/Ranca ekek
047. Abah ido /Pasteur
048. Dewan Syuro (ketua kultum)
050. Cep Rorom
051. Neng Nuri /cimahi
055. Asep Jebred
061. Abah Oka
062. Awi.
063. Imel GBA
064. Gula gula
066. Aki Ahong
068. Dayat
069. Abah Ragil/Cimenyan
072. Haji Dadang /Cigadung
073. Neng /Tanjung Sari
074. Nensi
075. Bunda Iin /Jelekong
076. Kang Bayu /kircon
079. Bunda Uni/kamuning
081. Meta Puspita/Cimahi
083. Pak Rahmat
084. Ajeung/Cigadung
085. Ega Nagreg
088. Om Aim
093. Imas ismiati
089. Teh Faniy
099. Om Jabrik/ (SESEPUH)
100. Abah Rama
106. Jojo (Cipatik)
108. Kang Kabayan
109. Dadang garut
110. Ridho/Cijambe
111. Nopi.
112. Peri majalaya
114. Opik gunung letik
115. Ike Cimahi
116. Neng Cici/Paster
119. Abah Doger
120. Omah Dian/Banjaran
121. Teh mila. Cinambo
124. Ohang
125. Om Boyo/Cicahem
126. Wa Ape /Soreang
127. Oma Azam (bendahara)
128. Opa kinan
129. Abah jenggot/Ciparay
130. Ma urif/Buah Batu
133. Oy oy / Cimahi
134. Kong aji/Solokan jeruk
135. Bravo
136. Cikal
140. Bunda Maya
141. Tita/patiukur
142. Aki jilun / Soreang
143. H. Adeng/Majalaya
144. ABS/Barnas Solokan jeruk
146. Pa kumis
147. Ocon /Cangkuang
148. Agus/cipatik
149. Zi i /Pati ukur
151. GS/Parakan Muncang
153. Iman / Pacet
154. Wa Age
155. Neng Opes
156. Udin/lembang
158. Haji Deden / Dago
160. Pak Heri/Cinangka
161. Teh Wina/dago
164. Ayah Dodi/cijerah
165. Jelly/ kebon kopi
166. Dahlan
167. Abah Radit
168. Andri
171. Ana/Pangalengan
172. Mas teguh
173. kang Erik



Astaghfirullah Rabbal Barroya
Astaghfirullah Minal khotoya.
Astaghfirullah Rabbal Barroya
Astaghfirullah Minal khotoya.


Rabbi zidni 'ilman naa fi'a

Wa wa fiqni 'amalam maqbula
Wa Wa habli rizqan waasi'a
Wa tub 'alaia taubatan nasuha
Wa tub 'alaia taubatan nasuha

Astaghfirullah Rabbal Barroya
Astaghfirullah Minal khotoya.
Astaghfirullah Rabbal Barroya
Astaghfirullah Minal khotoya.


Rabbi zidni 'ilman naa fi'a
Wa wa fiqni 'amalam maqbula

Wa Wa habli rizqan waasi'a

Wa tub 'alaia taubatan nasuha
Wa tub 'alaia taubatan nasuha

Astaghfirullah Rabbal Barroya
Astaghfirullah Minal khotoya.
Astaghfirullah Rabbal Barroya
Astaghfirullah Minal khotoya

BACA JUGA MATERI KULTUM DI BAWAH INI :
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30.






TAFSIR SURAT AL-BAQARAH AYAT : 41

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَاٰ مِنُوْا بِمَاۤ اَنْزَلْتُ مُصَدِّقًا لِّمَا مَعَكُمْ وَلَا تَكُوْنُوْاۤ اَوَّلَ كَا فِرٍ بِۢهٖ ۖ وَلَا تَشْتَرُوْا بِاٰ يٰتِيْ ثَمَنًا قَلِيْلًا ۖ وَّاِيَّايَ فَا تَّقُوْنِ
wa aaminuu bimaaa angzaltu mushoddiqol limaa ma'akum wa laa takuunuuu awwala kaafirim bihii wa laa tasytaruu bi-aayaatii samanang qoliilaw wa iyyaaya fattaquun

"(Dan berimanlah kalian pada apa yang Kuturunkan), yakni Alquran (yang membenarkan apa yang ada beserta kalian), yaitu Taurat berupa kesamaan dalam ketauhidan kenabian Muhammad (dan janganlah kalian menjadi orang yang pertama kafir kepadanya), yakni dari golongan Ahlul Kitab karena orang-orang yang di belakang itu hanya akan mengikuti sikap dan tindakan kalian, sehingga dosa kekafiran mereka akan terpikul di atas pundak kalian (dan janganlah kalian jual) janganlah kalian tukar (ayat-ayat-Ku) yang terdapat dalam Kitab Suci kalian tentang sifat-sifat dan ciri-ciri Muhammad (dengan harga yang rendah) dengan pengganti yang rendah nilainya berupa harta dunia. 

SIFAT-SIFAT ORANG-ORANG KAFIR Oleh Syaikh Abdul Muhsin bin Muhammad al-Qâsim 

Allâh Subhanahu wa Ta’ala menciptakan makhluk dengan qudrah-Nya, kemudian dengan anugerah-Nya, Allah Azza wa Jalla memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan dengan keadilan-Nya, Allah Azza wa Jalla menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya. 

Semua ini tertulis pada lauhul mahfûdz. Allâh berfirman : 
 هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ فَمِنْكُمْ كَافِرٌ وَمِنْكُمْ مُؤْمِنٌ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ 

 Dia-lah yang menciptakan kamu maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang mukmin. 

dan Allâh Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” [at-Taghâbun/64 : 2] Allah Azza wa Jalla telah menjelaskan jalan orang-orang yang mendapatkan kebahagiaan serta orang-orang yang celaka. 

Allah Azza wa Jalla memuji para hamba yang bertakwa dan mencela orang-orang kafir. Allah Azza wa Jalla juga mengingatkan para hamba-Nya agar tidak latah meniru sifat-sifat orang kafir. 

Dalam al-Qur’ân banyak penjelasan tentang perbuatan dan keyakinan rusak orang-orang kafir serta perangai dan sifat-sifat mereka yang buruk.

 Diantaranya, mengingkari hari kebangkitan dan menganggapnya mustahil, tidak beriman kepada takdir, mengeluh dan berkeluh kesah ketika tertimpa musibah, tidak punya harapan kepada Allah Azza wa Jalla , dusta, sombong, berpaling dari ayat-ayat-Nya, hati mereka penuh hasad (rasa iri) terhadap kaum Mukminin yang telah mendapatkan nikmat iman dan mereka berharap nikmat iman itu sirna dari kaum Muslimin. 

Hasad inilah yang mendorong mereka berusaha menyesatkan orang beriman.

 Allah Azza wa Jalla berfirman :

 وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً 

 Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). 

[an-Nisâ/4:89] Tak henti-hentinya, orang-orang kafir membuat makar dan menipu kaum Muslimin, berusaha mencelakakan dan merampas kenikmatan dari kaum Muslimin. Mereka berpura-pura amanah, berprilaku dan berperangai terpuji supaya bisa mengambil manfaat dibalik semua ini.

 Namun, Allah Azza wa Jalla membongkar kedok mereka. Allah Azza wa Jalla berfirman, 

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ ۚ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ  

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil orang-orang yang di luar kalanganmu menjadi teman kepercayaanmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu.

 telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi.” [Ali Imrân/3:118)] Membungkus kedustaan dengan kejujuran, khianat dengan amanah, sering membela kebatilan dan menyembunyikan kebenaran.

 Meski tipu daya mereka terhadap kaum Muslimin sangat luar biasa, namun Allah Azza wa Jalla tidak akan tinggal diam.

 Allah Azza wa Jalla pasti akan menghancur leburkan tipu daya mereka serta akan merendahkan dan menghinakan mereka. Allah melarang rasul-Nya mentaati orang-orang kafir. 

Allah Azza wa Jalla berfirman :  

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللَّهَ وَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ 

 Hai Nabi, bertakwalah kepada Allâh dan janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik.

 [al-Ahzâb/33:1] Karena ilmu mereka hanya sebatas dunia. Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah rahimahullah mengatakan, “Seluruh amalan dan urusan orang kafir pasti ada cacatnya sehingga manfaatnya tidak pernah maksimal.” 

Orang-orang kafir tidak tahu menahu ilmu akhirat. 

Allah Azza wa Jalla berfirman : Baca Juga  Contoh Perbedaan Pendapat Diantara Ulama Ahlus Sunnah Akan Tetapi Mereka Tidak Saling Mengingkarinya 

 يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ  

Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” [ar-Rûm/30:7] Mereka hidup penuh kebingungan dan kebimbangan. 

Tujuan yang selalu mereka kejar dalam hidup hanya sebatas bersenang-senang, makan dan minum, tanpa peduli halal dan haram. Orang-orang kafir itu selalu menghalangi perbuatan baik, tidak bisa berterima kasih dan mengkonsumsi barang haram. Allâh berfirman : 

 يَعْرِفُونَ نِعْمَتَ اللَّهِ ثُمَّ يُنْكِرُونَهَا وَأَكْثَرُهُمُ الْكَافِرُونَ  

Mereka mengetahui nikmat Allâh, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir. 

 [an-Nahl/16:83] Mereka hidup dalam kegelapan, kesesatan serta hanya memperturutkan hawa nafsu.

 Anggota tubuh yang mestinya merupakan sarana menggapai hidayah sudah tidak berfungsi lagi. Hati mereka mati, telinga mereka tuli dan mata mereka buta, tidak mau mendengar dan melihat kebenaran. 

Setan menggiring mereka untuk selalu bermaksiat dan mencari kesenangan-kesenangan nafsu sesaat. 

Sehingga apa yang mereka lakukan seperti debu yang berterbangan. Amal kebaikan mereka tidak berguna.

 Di dunia mereka letih dan di akherat mereka akan merintih tersiksa.

 Allâh tidak mencintai mereka bahkan Allah Azza wa Jalla mengkhabarkan bahwa Dia musuh orang-orang kafir. 

Jika Allah Azza wa Jalla benci terhadap seorang hamba, Dia memanggil malaikat Jibril Alaihissallam, “Wahai Jibril sesunggunya Aku benci kepada Fulan, maka bencilah dia ! Dan Jibril pun membencinya.

 Kemudian Jibril menyeru seluruh penduduk langit bahwa Allah Azza wa Jalla membenci Fulan, maka bencilah dia ! Maka penghuni langit pun membencinya. 

Kemudian ditetapkan baginya kebencian di muka bumi.” [HR. Bukhâri dan Muslim] Jiwa orang kafir menjerit pedih akibat dosa-dosa yang telah ia perbuat dan karena jauh dari Allah Azza wa Jalla , dadanya terasa sesak serta tidak pernah merasakan manisnya iman. Laknat dan murka menimpa mereka. Mereka adalah makhluk Allâh yang paling buruk. Allah Azza wa Jalla berfirman : 

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ 

 Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya.

 Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. [al-Bayyinah/98 : 6] Kematian seorang kafir akan menimbulkan ketenangan dan ketentraman bagi penduduk dunia. 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ketika melihat rombongan membawa jenazah :

 الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إِلَى رَحْمَةِ اللَّهِ وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلَادُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ 

Hamba yang beriman akan istirahat dari keletihan dan derita dunia menuju rahmat Allah sementara hamba yang fâjir (bergelimang maksiat, jika dia mati-red) maka manusia, negeri, pepohonan dan binatang melata akan terbebas dari keburukannya [HR. Bukhâri] Pada hari kiamat, orang-orang kafir akan dibangkit untuk dihisab dengan wajah hitam pekat, berdebu serta bermuka masam.

 Kedua mata mereka terbelalak karena terperangah kaget dan takut; leher mereka terikat dengan rantai sebagai balasan yang setimpal. 

Inilah ini sebagian dari sifat-sifat buruk orang-orang kafir beserta balasan yang akan mereka terima. 

Keburukan yang bertumpuk-tumpuk tanpa henti, maka hendaklah kita berhati-hati dan tetap menjaga diri kita agar tidak terjerumus kedalam kekufuran.

 Kepedihan akibat dari sifat-sifat buruk mereka, hendaknya kita jadikan pelajaran berharga agar tidak mudah membeo prilaku mereka yang terkadang menipu dan tidak mudah mengamini ucapan-ucapan dan janji-janji manis mereka.

 Ingatlah sabda nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam :




Maksudnya janganlah kalian sembunyikan karena khawatir tidak akan memperoleh lagi keuntungan-keuntungan yang kalian dapatkan selama ini dari nenek moyang kalian (dan hanya kepada-Kulah kalian harus bertakwa) maksudnya harus takut dalam hal itu dan bukan kepada selain-Ku."

 Berikut ini adalah teks, transliterasi, terjemahan, dan kutipan sejumlah tafsir ulama atas Surat Al-Baqarah ayat 41:  

وَآمِنُوا بِمَا أَنْزَلْتُ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ وَلَا تَكُونُوا أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ  

Wa āminū bi mā anzaltu mushaddiqan li mā ma‘akum, wa lā takūnū awwala kāfirim bihī, wa lā tasytarū bi āyātī tsamanan qalīlan, wa iyyāya fattaqūni.

 Artinya, “Imanlah kalian (Yahudi-yahudi Madinah) kepada apa yang telah Kuturunkan (Al-Qur’an) yang membenarkan apa yang ada pada kalian (Taurat).

 Janganlah kalian menjadi orang yang pertama kafir kepadanya.

 Jangan kalian menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang murah. 

Hanya kepada-Ku hendaknya kalian takut,” (Surat Al-Baqarah ayat 41). 

Ragam Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 41 Syekh Jalaluddin As-Suyuthi dalam Tafsirul Jalalain mengatakan, Surat Al-Baqarah ayat 41 mengajak Ahli Kitab untuk beriman kepada Al-Qur’an karena Al-Qur’an dan Taurat memiliki kesamaan kandungan dalam hal tauhid dan kenabian.

 Surat Al-Baqarah ayat 41 mengimbau Ahli Kitab agar tidak menjadi orang pertama yang mengingkari Al-Qur’an karena generasi mereka berikutnya akan mengikuti kekufuran mereka.

Sedangkan dosa kufur generasi berikutnya juga menjadi tanggungan mereka. 

Surat Al-Baqarah ayat 41 mengingatkan Ahli Kitab agar tidak mengubah sifat-sifat Nabi Muhammad SAW yang tercantum di kitab suci mereka dengan harta benda duniawi dengan menyembunyikan sifat-sifat nabi akhir zaman yang dijanjikan karena takut kehilangan “upeti” yang selama ini mereka nikmati dari kalangan awam mereka. 

Surat Al-Baqarah ayat 41 mengingatkan Ahli Kitab agar takut hanya kepada Allah, bukan selain-Nya termasuk dalam bentuk kehilangan “upeti.”

 Imam Al-Baghowi dalam tafsirnya, Ma’alimut Tanzil fit Tafsir wat Ta’wil, mengatakan Surat Al-Baqarah ayat 41 turun perihal Ka’ab bin Asyraf pemuka-pemuka agama, dan tokoh-tokoh masyarakat Yahudi Madinah.

 Lalu bagaimana memahami Surat Al-Baqarah ayat 41 terkait larangan terhadap Ahli Kitab sebagai orang pertama yang ingkar terhadap Al-Qur’an? Padahal, bangsa Quraisy di Makkah telah lebih dahulu mengingkari Al-Qur’an sebelum keingkaran umat Yahudi Madinah. 

 Imam Al-Baghowi mengatakan, Surat Al-Baqarah ayat 41 melarang para pemuka Ahli Kitab di Madinah untuk ingkar terhadap Al-Qur’an karena kekufuran mereka akan diikuti oleh umat yang selama ini menjadi pengikut mereka sehingga dosa kufur pemuka Ahli Kitab memberikan jalan bagi dosa kufur pengikut mereka.

 Imam Al-Baghowi juga menceritakan bahwa selama ini para pemuka dan tokoh masyarakat Yahudi setiap tahun menarik upeti dari hasil pertanian, perahan susu ternak, dan peredaran mata uang dari lingkungan masyarakat awam mereka. 

 Mereka khawatir akan kehilangan itu semua bila mengungkapkan jujur sifat-sifat Nabi Muhammad SAW dalam Kitab Taurat mereka karena mereka kemudian akan mengikuti ajaran nabi akhir zaman tersebut. 

Mereka khawatir akan kehilangan pendapatan mereka dari upeti itu sehingga mereka mengubah sifat dan menyembunyikan nama Nabi Muhammad SAW. 

Mereka memilih dunia daripada akhirat. 

Imam Al-Baidhawi dalam kitab tafsirnya Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil mengatakan, Surat Al-Baqarah ayat 41 menganjurkan Ahli Kitab untuk beriman kepada Al-Qur’an yang maksudnya adalah perintah untuk memenuhi janji mereka sendiri terhadap Allah. 

Surat Al-Baqarah ayat 41, kata Imam Al-Baidhawi, mengatakan, Al-Qur’an membenarkan kitab-kitab suci sebelumya sesuai dengan yang disifatkan pada semua kitab tersebut atau sesuai dengan cerita-cerita nabi semelumnya, janji-janji ilahi, ajakan untuk bertauhid, perintah ibadah, perintah untuk berbuat adil, dan larangan terhadap perbuatan maksiat dan keji. Adapun perbedaan syariat yang bersifat furu’iyah, kata Imam Al-Baidhawi, didasarkan pada pertimbangan perbedaan zaman yang menuntut kemaslahatan yang juga berbeda sesuai zamannya. 

Bahkan, kalau saja nabi-nabi terdahulu dihidupkan kembali di hari ini, niscaya mereka akan diberikan wahyu sesuai dengan zaman kini. Oleh karenanya, Rasulullah bersabda, “Andai Musa hidup, niscaya tidak aka nada keluasan baginya kecuali mengikuti (syariat)ku.” 

Menurut Imam Al-Baidhawi, Ahli Kitab di Madinah wajib menjadi orang pertama yang beriman kepada Al-Qur;an karena mereka adalah orang yang menyaksikan dan mengetahui mukjizat Nabi Muhammad SAW. 

Mereka juga kelompok yang tertolong oleh kehadiran Nabi Muhammad SAW. Mereka juga kelompok Ahli Kitab yang berbahagia karena mengalami zaman nabi akhir zaman yang dijanjikan di kitab-kitab suci sebelumnya.

 Upeti sebagai kenikmatan dunia yang Ahli Kitab terima dari masyarakat awam mereka selama ini sebesar apapun itu, kata Imam Al-Baidhawi, terbilang kecil dan murah jika dinisbahkan dengan kerugian mereka di akhirat karena kekufuran mereka. 

Sebagian ulama tafsir, kata Imam Al-Baidhawi, mengatakan bahwa pemuka Ahli Kitab selama ini menjadi tokoh masyarakat Yahudi dan hidup dari upeti serta hadiah masyarakatnya. 

Mereka khawatir kehilangan itu semua ketika mereka bersikap jujur. Sebagian ahli tafsir yang lain mengatakan, para pemuka Ahli Kitab kerap memungut uang suap, lalu mereka mengubah dan menyembunyikan kebenaran. Adapun Imam Ibnu Katsir menambahkan, kata “bihī” pada Surat Al-Baqarah ayat 41 dapat merujuk pada Al-Qur’an dan Nabi Muhammad SAW. Menurut Ibnu Katsir, keduanya mulazamah yang tidak dapat dipisahkan.

 Siapa saja yang mengingkari Al-Qur’an, niscaya ia mengingkari Nabi Muhammad SAW. Siapa saja yang mengingkari Nabi Muhammad SAW, niscaya ia mengingkari Al-Qur’an. Wallahu a’lam. 


Sabtu, 29 Mei 2021

TAFSIR SURAT AL-BAQARAH AYAT : 40


Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 40 

Berikut ini adalah teks, transliterasi, terjemahan, dan kutipan sejumlah tafsir ulama atas Surat Al-Baqarah ayat 40: 

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ 

 Yā banī Isrā’īla, udzkurū ni‘matiyal latī an‘amtu ‘alaikum, wa awfū bi ahdī ūfi bi ahdikum, wa iyyāya farhabūni.

Artinya, “Hai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Kuberikan kepada kalian. 

55. QS. Ar-Rahman (Yang Maha Pemurah) 78 ayat

  • فَبِاَىِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
    Fabi ayyi aalaaa'i Rabbikumaa tukazzibaan
    21. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • يَخۡرُجُ مِنۡهُمَا اللُّـؤۡلُـؤُ وَالۡمَرۡجَانُ‌ۚ‏
    Yakhruju minhumal lu 'lu u wal marjaanu
    22. Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.
  • فَبِاَىِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
    Fabi ayyi aalaaa'i Rabbikumaa tukazzibaan
    23. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • وَلَهُ الۡجَوَارِ الۡمُنۡشَئٰتُ فِى الۡبَحۡرِ كَالۡاَعۡلَامِ‌ۚ
    Wa lahul jawaaril mun sha'aatu fil bahri kal a'laam
    24. Milik-Nyalah kapal-kapal yang berlayar di lautan bagaikan gunung-gunung.
  • فَبِاَىِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
    Fabi ayyi aalaaa'i Rabbikumaa tukazzibaan.
    25. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • كُلُّ مَنۡ عَلَيۡهَا فَانٍ‌
    Kullu man 'alaihaa faan
    26. Semua yang ada di bumi itu akan binasa,
  • وَّيَبۡقٰى وَجۡهُ رَبِّكَ ذُو الۡجَلٰلِ وَالۡاِكۡرَامِ‌ۚ
    Wa yabqoo wajhu rabbika zul jalaali wal ikraam
    27. tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.
  • فَبِاَىِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
    Fabi ayyi aalaaa'i Rabbikumaa tukazzibaan.
    28. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • يَسۡـَٔـلُهٗ مَنۡ فِى السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ‌ؕ كُلَّ يَوۡمٍ هُوَ فِىۡ شَاۡنٍ‌ۚ
    Yas'aluhuu man fissamaawaati walard; kulla ywmin huwa fii shaan
    29. Apa yang di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.
  • فَبِاَىِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
    Fabi ayyi aalaaa'i Rabbikumaa tukazzibaan.
    30. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
  • سَنَفۡرُغُ لَـكُمۡ اَيُّهَ الثَّقَلٰنِ‌ۚ
    Sanafrughu lakum ayyuhas saqalaan
    31. Kami akan memberi perhatian sepenuhnya kepadamu wahai (golongan) manusia dan jin!
  • فَبِاَىِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
    Fabi ayyi aalaaa'i Rabbikumaa tukazzibaan.
    32. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Penuhilah janji kalian kepada-Ku, niscaya Kupenuhi janji-Ku kepada kalian; dan hanya kepada-Ku hendaknya kalian takut,” (Surat Al-Baqarah ayat 40). 

Ragam Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 40 Syekh Wahbah Az-Zuhayli dalam karyanya, Kitab Tafsir Al-Wasith, mengatakan, Surat Al-Baqarah ayat 40 menuntut Bani Israil untuk beriman kepada Al-Qur’an. 

Allah memerintahkan semua manusia untuk beriman kepada syariat Al-Qur’an dan kabar yang diturunkan padanya. 

Bani Israil yang telah menerima banyak karunia Allah juga termasuk manusia yang dituntut untuk beriman kepada Al-Qur’an.

 Allah SWT,  kata Syekh Wahbah, mengingatkan Bani Israil di Kota Madinah yang hidup di zaman Nabi Muhammad SAW terhadap nikmat-nikmat yang telah diberikan agar mereka segera beriman kepada Allah, kitab-kitab suci-Nya, dan Nabi Muhammad SAW yang mengabarkan itu semua melalui wahyu.



Tiga Cara Syukuri Nikmat Allah SWT

-- Banyak cara mengekspresikan rasa syukur. Namun, sebagian umat Islam lebih banyak mengucapkan Alhamdulillah. Apakah memang demikian?

Pimpinan Lembaga Dakwah Kreatif, Haqi, Ustaz Erick Yusuf mengatakan ucapan hamdallah hanya satu cara. 

Ada beberapa cara mensyukuri nikmat Allah SWT. 

Pertama, syukur dengan hati. 

Ini dilakukan dengan mengakui sepenuh hati apa pun nikmat yang diperoleh bukan hanya karena kepintaran, keahlian, dan kerja keras kita, tetapi karena anugerah dan pemberian Alloh Yang Maha Kuasa. 

Keyakinan ini membuat seseorang tidak merasa keberatan betapa pun kecil dan sedikit nikmat Allah yang diperolehnya.

Kedua, syukur dengan lisan. Yaitu, mengakui dengan ucapan bahwa semua nikmat berasal dari Allah SWT. "Pengakuan ini diikuti dengan memuji Allah melalui ucapan alhamdulillah.

 Ucapan ini merupakan pengakuan bahwa yang paling berhak menerima pujian adalah Allah," kata Kang Erick, sapaan akrabnya, saat mengisi pengajian di SD Mutiara Bunda, Arcamanik, Bandung, Senin (25/5).

Ketiga, syukur dengan perbuatan. Hal ini dengan menggunakan nikmat Allah pada jalan dan perbuatan yang diridhai-Nya, yaitu dengan menjalankan syariat , menta'ati aturan Alloh dalam segala aspek kehidupan


Sikap syukur perlu menjadi kepribadian setiap Muslim. 

Sikap ini mengingatkan untuk berterima kasih kepada pemberi nikmat (Allah) dan perantara nikmat yang diperolehnya (manusia). 

Dengan syukur, ia akan rela dan puas atas nikmat Allah yang diperolehnya dengan tetap meningkatkan usaha guna mendapat nikmat yang lebih baik.

Selain itu, bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah merupakan salah satu kewajiban seorang muslim.  

Seorang hamba yang tidak pernah bersyukur kepada Allah, alias kufur nikmat, adalah orang-orang sombong yang pantas mendapat adzab Allah SWT.

Allah  telah memerintahkan hamba-hambaNya untuk mengingat dan bersyukur atas nikmat-nikmatNya: “Karena itu, ingatlah kamu kepadaKu niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kamu mengingkari nikmatKu.” (QS al-Baqarah:152)

Akan tetapi, belum termasuk orang yang bersyukur mengucapkan hamdalah tetapi juga menggunakan rizki Allah untuk maksiat. 

“Syukur berasal dari kata syakaro-yasykuru yang artinya mensyukurinya, memujinya atau berterima kasih.

ada juga yang mengartikan syukur ini adalah membuka lawan dari kafaro(menutup),” paparnya.

Menurut Kang Erick, ketika Muslim bersyukur maka syukur itu akan membuka nikmat lainnya.

Sebaliknya, ketika seorang Muslim kufur sesungguhnya itu perbuatan dosa.  “Allah SWT berfirman dalam Alqurqan surat  Ibrahim ayat 7 yang artinya :

Jika kamu bersyukur pasti akan aku tambah (nikmat-Ku) untukmu dan jika kamu kufur maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih,” ucapnya.  

Dalam ayat tersebut dinyatakan bahwa kata syukur lawan katanya adalah kufur (menutupi nikmat).

Syukur konsekuensinya adalah bertambah nikmat sedang kufur konsekwensinya adalah siksa.


Dalam karya tafsirnya yang lain, Tafsir Al-Munir, Syekh Wahbah Az-Zuhayli mengatakan, Surat Al-Baqarah ayat 40-142 membicarakan seca hanya khusus Bani Israil untuk mengungkap perilaku dan aib mereka. 

Adapun ayat sebelumnya dari awal Surat Al-Baqarah hingga Surat Al-Baqarah ayat 39 berbicara tentang wujud dan keesaan Allah; perintah untuk menyembah-Nya, Al-Qur’an sebagai kalam ilahi yang mengandung mukjizat; uraian perihal kuasa Allah dengan penciptaan dan pemuliaan manusia; penciptaan langit dan bumi; kedudukan manusia di antara alam raya; dan pembagian manusia ke dalam kategori mukmin, kafir, dan munafik. Allah, kata Syekh Wahbah, kemudian pada Surat Al-Baqarah ayat 40 mulai mengarahkan bicara-Nya kepada bangsa-bangsa yang memiliki “tradisi” kenabian. 

Allah memulainya dari bangsa Yahudi karena mereka bangsa terdepan dengan sejumlah kitab samawi; dan juga karena mereka adalah bangsa yang paling keras memusuhi orang-orang yang beriman terhadap Al-Qur’an.

Sedangkan Yahudi adalah bangsa yang paling utama seharusnya beriman kepada Nabi Muhammad SAW, nabi akhir zaman. 

 Oleh karena itu, kata Syekh Wahbah, Allah mengingatkan bangsa Yahudi terhadap nikmat-nikmat yang telah diberikan kepada mereka. 

Allah juga mengingatkan mereka terhadap janji mereka untuk beriman kepada risalah dan kenabian Muhammad SAW.

 Syekh Jalaluddin dalam Tafsirul Jalalain pada Surat Al-Baqarah ayat 40 mengatakan, Bani Israil adalah keturunan Nabi Yakub.

 “Ingatlah nikmat-Ku yang telah Kuberikan kepada kalian,” yaitu bapak moyang kalian, yaitu penyelamatan dari Firaun, pembelahan laut, penaungan awan, dan nikmat lainnya agar kalian bersyukur dalam bentuk kepatuhan pada perintah-Ku.

 “Penuhilah janji kalian pada-Ku untuk beriman kepada Muhammad, niscaya Kupenuhi janji-Ku terhadap kalian berupa ganjaran surga. 

Takutlah kalian kepada-Ku terkait pengingkaran janji,” 

tulis Syekh Jalaluddin dalam tafsirnya. 

Imam Al-Baidhawi dalam karya tafsirnya, Kitab Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil, mengatakan, Surat Al-Baqarah ayat 40 ditujukan kepada orang yang berilmu dan Ahli Kitab. 

Pada surat ini, Allah memerintahkan mereka untuk mengingat nikmat Allah dan memenuhi janji mereka kepada-Nya dalam mengikuti jalan kebenaran dan menerima bukti-bukti kebenaran agar mereka menjadi orang yang pertama beriman kepada Nabi Muhammad SAW. 

Bani Israil, kata Imam Al-Baidhawi, adalah keturunan Nabi Ya’qub karena Israil adalah sebutan Nabi Yakub yang dalam bahasa Ibrani berarti kekasih atau hamba Allah. 

Mereka diperintahkan untuk mengingat nikmat Allah dengan cara memikirkannya dan menunaikan syukurnya.

Pemenuhan janji mereka, kata Imam Al-Baidhawi, dilakukan dengan cara keimanan dan ketaatan kepada Al-Qur’an.

 “Takutlah kepada-Ku,” perihal tindakan yang mereka lakukan dan mereka tinggalkan, terlebih lagi soal pelanggaran janji. 

Surat Al-Baqarah ayat 40 ini mengandung janji dan ancaman sekaligus; dan menunjukkan atas kewajiban syukur dan pemenuhan janji. 

Surat Al-Baqarah ayat 40 juga menunjukkan bahwa orang yang beriman seyogianya tidak takut kepada siapapun selain Allah.

 Tafsir Al-Baghowi dalam Kitab Ma’alimut Tanzil fit Tafsir wat Ta’wil mengatakan, kata “udzkurū” berarti zikir atau menjaga ingatan. 

Zikir dilakukan secara lisan dan di dalam hati. 

Kata zikir digunakan pada ayat ini karena di dalam syukur terdapat unsur zikir. 

Sedangkan pada kufur nikmat terdapat lupa.

Adapun penerima nikmat pada Surat Al-Baqarah ayat 40, kata Imam Al-Baghowi, adalah kakek moyang dan para pendahulu Bani Israil. 

Sedangkan nikmat itu sendiri, menurut Mujahid, adalah nikmat khusus yang selama ini diterima oleh Bani Israil.  

Menurut Imam Qatadah dan Mujahid, kutip Imam Al-Baghowi, janji yang dimaksud pada Surat Al-Baqarah ayat 40 disebutkan secara jelas pada Surat Al-Maidah ayat 12. 

Tetapi menurut Imam Al-Hasan, janji yang dimaksud adalah syariat Taurat sebagaimana keterangan Surat Al-Baqarah ayat 63. 

Adapun Muqatil mengatakan, janji yang dimaksud adalah janji Bani Israil untuk selalu mengesakan Allah sebagaimana keterangan Surat Al-Baqarah ayat 83. 

Sedangkan menurut Imam Al-Kalbi, janji Bani Israil kepada Allah adalah janji untuk beriman kepada nabi umi akhir zaman, Nabi Muhammad SAW, sebagaimana keterangan Surat Ali Imran ayat 187. 

QS. Ali 'Imran Ayat 187

  • وَاِذْ اَخَذَ اللّٰهُ مِيْثَاقَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ لَتُبَيِّنُنَّهٗ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُوْنَهٗۖ فَنَبَذُوْهُ وَرَاۤءَ ظُهُوْرِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهٖ ثَمَنًا قَلِيْلًا ۗ فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُوْنَ

    187. Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Kitab (yaitu), “Hendaklah kamu benar-benar menerangkannya (isi Kitab itu) kepada manusia, dan janganlah kamu menyembunyikannya,” lalu mereka melemparkan (janji itu) ke belakang punggung mereka dan menjualnya dengan harga murah. Maka itu seburuk-buruk jual-beli yang mereka lakukan


Wallahu a’lam.