Senin, 30 Desember 2019

Selasa, 31 Desember 2019 Manfaat menyebarkan salam

KEUTAMAAN MENGUCAPKAN SALAM KEPADA SETIAP MUSLIM YANG DIKENAL MAUPUN TIDAK DIKENAL

عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما  :  أن رجلا سأل النبي صلى الله عليه وسلم    أي الإسلام خير? Ulasan: تُطْعِمُ الطَّعَامَ ، وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ

Dari 'Abdullah bin' Amr bin al-'Ash Radhiyallahu anhuma apa yang dikatakan kepada Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam, Apakah (amal dalam) Islam yang paling baik? Maka Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "(Yaitu) kamu memberi makan (orang yang membutuhkan) dan meminta salam untuk orang (Muslim) yang kamu kenal juga kamu kamu kenal" [1] .

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan yang menggantikan salam bagi setiap Muslim yang dikenal juga tidak dikenal, karena ini termasuk amal yang paling utama dalam Islam dan sebab besar untuk masuk Surga, dengan taufik dari Allâh Subhanahu wa Ta'ala.

Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لا تدخلون الجنة حتى تؤمنوا ولا تؤمنون حتى تحابوا أفلا أدلكم على شيء إذا فعلتموه تحاببتم أفشوا السلام بينكم

Kalian tidak akan masuk Surga sampai kalian beriman (dan benar) dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai (karena Allâh Azza wa Jalla). Maukah kalian menunjukkan amal yang jika kalian kerjakan maka kalian akan saling mencintai? Sebarkan salam di antara kamu ” [2] .

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Dalam hadits ini adalah sebuah motivasi besar untuk disetujui dan membahas salam untuk semua kaum Muslimin, yang kita kenal juga tidak” [3] .

Beberapa Mutiara Faidah Yang Dapat Kita Petik Dari Hadits Ini:

  • Makna yang terkandung dalam hadits ini adalah “Janganlah kamu mengkhususkan ucapan salam kepada orang tertentu karena kesombongan atau berpura-pura menampakkan kebaikan, tapi ucapkanlah salam dalam rangka mengagungkan syi’ar-syi’ar (lambang kemuliaan dan kebesaran) Islam dan mempertimbangkan persaudaraan sesama Muslim[4].
  • Mengkhususkan pengucapan salam hanya kepada orang yang dikenal adalah perbuatan buruk dan termasuk tanda-tanda datangnya hari Kiamat. Dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya termasuk tanda-tanda hari Kiamat adalah jika salam diucapkan (hanya) kepada orang yang dikenal”. Dalam riwayat lain, “…seorang muslim mengucapkan salam kepada muslim lainnya, tidak lain karena dia mengenalnya[5].
  • Mengucapkan salam kepada orang Muslim yang dikenal dan tidak dikenal menunjukkan keikhlasan karena Allâh Subhanahu wa Ta’ala semata, sikap merendahkan diri dan sekaligus menyebarkan salam yang merupakan syi’ar Islam[6].
  • Yang dimaksud dengan mengucapkan salam kepada orang yang dikenal dan tidak dikenal dalam hadits ini adalah khusus hanya bagi orang-orang Muslim, berdasarkan penjelasan dari hadits-hadits shahih lainnya[7].
  • Dalam hadits ini juga terdapat keutamaan besar memberi makan kepada orang yang membutuhkannya, terutama orang-orang miskin, dengan niat ikhlas karena mengharapkan wajah Allâh Subhanahu wa Ta’ala semata-mata. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا ﴿٨﴾ إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

Dan mereka (orang-orang yang bertakwa) selalu memberikan makanan yang mereka sukai kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. (Dan mereka berkata): Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan wajah Allâh, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih” [Al-Insȃn/76:8-9]


Senin, 09 Desember 2019

Taqwa atau di siplin

Luar biasa ayat ini menggaransi mereka yang termasuk kategori orang-orang bertakwa (muttaqun). Tafsir tematik menghimpun sejumlah ayat dalam Alquran yang berbicara tentang takwa.

Setelah dianalisis maka disimpulkan, orang-orang yang bertakwa ialah orang-orang yang beriman kepada yang gaib, mendirikan shalat, membelanjakan sebagian hartanya kepada fakir miskin, baik dalam keadaan longgar maupun sempit, mampu mengendalikan diri, dan memberi maaf kepada orang lain.

Sebagian ulama menjelaskan, kata takwa singkatan dari taubah, qana'ahwara', dan amanah. Taubah ialah mereka yang kembali ke jalan yang benar setelah menyadari kekeliruannya. Qana'ah ialah mereka yang merasa cukup terhadap apa yang Allah berikan kepadanya.

Wara' ialah mereka yang memproteksi diri terhadap segala sumber dosa dan maksiat. Amanah ialah orang yang bertanggung jawab terhadap plihan keputusannya, dalam arti tidak mengecewakan orang dan Tuhannya.

Jadi, orang yang bertakwa ialah orang yang memiliki keempat sifat tersebut. Dalam dunia tasawuf dijelaskan, takwa sebagai kombinasi antara takut, segan, dan cinta. Bagaikan seorang anak kecil terhadap orang tuanya.

Ia pasti segan, takut, dan sekaligus cinta terhadap orang tuanya. Bertakwa kepada Tuhan bukan berarti hanya segan dan takut tetapi juga cinta dan rindu terhadap Tuhannya. Para sufi menyadari, Tuhan bukan Sosok Yang Maha Mengerikan tetapi Sosok Yang Maha Pencinta. Tuhan lebih tepat untuk dicintai ketimbang ditakuti.

Jadi, Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, dan Alquran lebih menonjolkan nilai-nilai kelembutan daripada nilai-nilai kekerasan. Siapa yang termasuk bertakwa, di dalam Alquran dijelaskan di dalam beberapa ayat.

Orang-orang yang bertaqwa, "(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab (Alquran) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat." (QS al-Baqarah [2: 3-4]).

Demikian pula dalam ayat lain ditambahkan, "(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS Ali 'Imran [3: 134]).

Ayat-ayat tersebut di atas cukup jelas memberikan informasi kriteria orang-orang yang bertakwa. Salah satu kiat untuk memperoleh ketakwaan itu ialah membiasakan diri untuk disiplin hidup dengan aturan-aturan syariah, khususnya berpuasa dalam bulan suci Ramadhan sebagaimana disebutkan di dalam Alquran (QS al-Baqarah [2: 183]).

Kamis, 05 Desember 2019

Alam yang harus di jaga

Hai rekan setia mimin dimanapun Anda berada. Bagaimana kabarnya? Semoga selalu dalam keadaan sehat wal'afiat ya teman-teman.

Semoga negri ini aman damai sentosa, aman dari mara bahaya bencana melanda. Aamiin.

Seperti yang kita tahu, jika alam sudah marah maka manusia hanya bisa berdoa kepada Tuhan karena kita tidak dapat menghentikannya sendiri.

Lebih baik manusia itu identik menjaga dan merawat bumi ini sebaik mungkin. Hmm kenapa? Karena kita adalah Kholifah di muka bumi.

Berikut 8 foto yang membuktikan alam tidak bisa dilawan yang terangkum dari laman brilio.net (01/12/19), kuy kepoin satu persatu!

1. Akibat angin topan, pohon ini tumbang sampai akar!

Referensi pihak ketiga

2. Innalilahi akibat gempa bumi di Jepang

Referensi pihak ketiga

3. Akibat letusan gunung berapi di Hawai

Referensi pihak ketiga

4. Badai petir dan tornado

Referensi pihak ketiga

5. Badai Pasifik dari 37.000 kaki di atas lautan. Sungguh Kuasa Tuhan

Referensi pihak ketiga

6. Gak kebayang apa jadinya, intinya banyakin amal jauhi apa yang dilarang agama

Referensi pihak ketiga

7. Pohon ini disambar petir 3 jam yang lalu. Sudah 3 jam tapi apinya masih membara

Referensi pihak ketiga

8. Awan lenticular yang luar biasa di atas Gurun Alvord di SE Oregon

Referensi pihak ketiga

Itulah informasi yang mimin bagikan semoga bermanfaat ya teman-teman. Bila ada hal lain yang ingin disampaikan silakan beri komentar performance Anda.

Sebelum mimin tutup, yuk ramaikan promo akhit tahun global shopping 12.12. Kita serbu lazada karena diskonnya besar-besaran lho!

Sabtu, 30 November 2019

KARTU PRA KERJA BERISI SALDO RP 7,6 JUTA DI BAGIKAN BULAN MARET 2020 INI SYARAT UNTUK MENDAPATKANNYA



Kartu Pra Kerja Berisi Saldo Rp 7,6 Juta Dibagikan Maret 2020, Ini Syarat Untuk Mendapatkannya

Kartu Pra Kerja Berisi Saldo Rp 7,6 Juta Dibagikan Maret 2020, Ini Syarat Untuk Mendapatkannya
Kolase Kompas.com
Presiden Jokowi menunjukkan contoh kartu Pra Kerja 

Kartu Pra Kerja yang dicetak secara digital itu nantinya berisi saldo sekitar Rp 3,650 juta sampai Rp 7,650 juta.

Lantas, siapa yang berhak mendapatkan kartu Pra Kerja ini?

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan ( Kemenko-PMK), Muhadjir Effendy ketika ditemui di Universitas Muhammadiyah Malang, Sabtu (30/11/2019), mengatakan, kartu Pra Kerja dibagikan kepada para pengantin baru yang masuk kategori miskin.

“Kemarin waktu rapat terbatas sudah diputuskan oleh pak Presiden bahwa nanti yang mengkoordinasi adalah pak Menko Perekonomian, Airlangga Hartato,” ujarnya .

Ia menjelaskan pemberian Kartu Pra Kerja kepada para pengantin baru ini masuk kedalam program sertifikasi nikah.

Menko PMK Muhadjir Effendy ketika ditemui di Universitas Muhammdiyah Malang.
Menko PMK Muhadjir Effendy ketika ditemui di Universitas Muhammdiyah Malang. (SURYA.co.id/AMINATUS SOFYA)

Setelah calon pengantin menyelesaikan bimbingan nikah selama tiga bulan, mereka yang tidak mempunyai sumber penghasilan diperkenankan mengikuti pelatihan lanjutan alias pra kerja.

“Jadi Kartu Pra Kerja ini bukan kartu yang dibagikan kepada para pengangur.

Uang (yang ada di dalam kartu) itu digunakan untuk membiayai program pelatihan yang diambil oleh para pencari kerja atau yang terkena PHK dan ingin mendapatkan pekerjaan baru,” katanya.

Selain pelatihan pra kerja, pengantin baru yang memilih membuka usaha sendiri ketimbang bekerja juga dimudahkan untuk memperoleh kredit usaha rakyat (KUR).

Jumat, 29 November 2019

Apa itu PIP


Bandung - Sabtu 29 NOPEMBER 2019 Program Indonesia Pintar (PIP) adalah program prioritas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Peserta PIP ini mendapatkan bantuan dana dalam bentuk Kartu Indonesia Pintar (KIP). Tahun ini Kemendikbud menetapkan target penambahan 450 ribu peserta didik yang mendapatkan KIP.

Untuk mencapai target itu, Kemendikbud telah menyiapkan beberapa upaya, di antaranya pendataan, melibatkan berbagai pihak dan meningkatkan jumlah sasaran.

"Langkah-langkah penanganan Anak tidak sekolah (ATS) agar dapat belajar kembali di sekolah maupun di pendidikan kesetaraan adalah dengan cara, satu, pendataan by name by address melalui satuan pendidikan. Dua, melibatkan berbagai pihak dalam pendataan dan mendorong ATS agar mau belajar kembali,"

Dan yang ketiga,  peningkatan jumlah sasaran Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) kesetaraan, sehingga semua anak pemegang KIP dapat dilayani melalui program pendidikan kesetaraan.

Kamis, 28 November 2019

JUM'AT 29 NOPEMBER 2019( 2ROBIUL AWAL 1441 H)

Musuh manusia yang paling bahaya.
Diterbitkan : 
Kategori : Berita
Komentar : 1 komentar

Golongan munafik adalah segolongan manusia yang menyusup ke tengah barisan orang-orang beriman. Mereka memiliki banyak topeng palsu untuk melindungi wujud asli mereka demi menyukseskan misi penghancuran barisan kaum muslimin melalui jalur internal.

Golongan munafik yang berada dalam tubuh umat Islam menyimpan banyak strategi dan siasat yang begitu licik tanpa peduli halal-haram. mereka adalah mata-mata yang menyesatkan. Mereka adalah mata orang-orang kafir dan musuh Islam yang sengaja ditanam. Mereka akan selalu mencari celah untuk merusak tatanan kehidupan, mental spiritual, dan persatuan kaum muslimin.

Golongan munafik adalah golongan penduduk bumi yang paling keji. Mereka sangat membahayakan Islam dan kaum muslimin.

Allah ‘azza wajalla berfirman,

وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ ۖ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ ۖ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ ۖ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ ۚ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۖ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS. Al-Munafiqun: 4) 

Golongan munafik adalah musuh. Mereka adalah musuh nyata yang sangat membahayakan umat Islam. Oleh sebab itu, keberadaan mereka di tubuh umat ini harus segera diungkap. Identitas mereka harus segera diungkap. Strategi-strategi mereka dalam menghancurkan persatuan umat harus segera dibongkar.

Golongan munafik adalah segolongan manusia yang menampakkan wajah Islam namun menyembunyikan kekafiran. Golongan munafik pada aslinya bukanlah golongan orang-orang mukmin. Semua pencitraan yang dilakukan oleh orang-orang munafik membawa misi membuat kerusakan, fitnah, mengacaukan serta memperburuk citra Islam dan kaum muslimin.

Syaikh Abdul Aziz bin Marzuq ath-Thuraifi fakkallahu asrah mengatakan,

“Allah ‘azza wajalla menyebut golongan munafik di dalam al-Quran lebih banyak dari menyebut kaum Yahudi, sebab golongan munafik menggunakan perantara-perantara syar’i untuk menghancurkan prinsip dasar Islam. Keberadaan mereka tersamarkan dari khalayak.”

Golongan munafik adalah kawanan yang berbahaya. Bahaya yang mereka ciptakan lebih berbahaya dari bahaya yang diciptakan musuh yang memiliki wujud yang jelas. Oleh sebab itu, Allah ‘azza wajalla menyebut mereka dengan “Mereka adalah musuh, maka berhati-hatilah,” Allah ‘azza wajalla tidak menyebut mereka dengan “Mereka adalah bagian dari musuh.”

Allah ‘azza wajalla berfirman,

يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.” (QS. Al-Baqarah: 9) 

Allah ‘azza wajalla telah mengungkap banyak sifat munafik di banyak tempat dalam al-Quran. Sifat-sifat munafik yang ditunjukkan oleh Allah ‘azza wajalla inilah yang dapat dijadikan acuan bagi orang mukmin untuk mendeteksi keberadaan mereka di balik persembunyiannya di dalam tubuh barisan kaum muslimin.

 

Di Dalam Hati Golongan Munafik Terdapat Penyakit

Golongan munafik sejatinya sama sekali tidak memiliki keberanian mental untuk menunjukkan wujud asli mereka di hadapan orang mukmin. Mereka juga tidak memiliki kemampuan untuk menunjukkan kemurnian keimanan mereka, jika mereka bersikukuh mengaku beriman. Mereka tidak akan pernah mau terang-terangan jika mereka sebenarnya sangat mengingkari kebenaran.

Mengapa bisa demikian? Sebab dalam hati golongan munafik terdapat penyakit. Sejatinnya hati mereka sakit sehingga mereka menyimpang dari jalan iman.

Allah ‘azza wajalla berfirman,

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (QS. Al-Baqarah: 10) 

 

Golongan Munafik adalah Perusak yang Mengaku Pembawa Perbaikan

Di antara ciri munafik adalah selalu mengaku-aku sebagai pembawa perbaikan, padahal sebenarnya mereka itulah golongan yang selalu melakukan aktivitas perusakan di muka bumi ini. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk menghancurleburkan tiap gagasan-gagasan kebaikan.

Dan anehnya, setelah mereka menyelesaikan program-program penghancuran tersebut, dengan bangga dan tanpa merasa bersalah mereka mendeklarasikan diri sebagai golongan yang membawa perubahan yang menebar kebaikan.

Allah ‘azza wajalla berfirman,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ

Dan bila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi’. Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan’.” (QS. Al-Baqarah: 11) 

Fenomena pihak-pihak yang secara lantang mengaku-aku sebagai sang pembawa perbaikan, mengaku-aku sebagai pahlawan revolusi perbaikan masyarakat, sebagai tokoh pembangunan negara, negara pengatur perdamaian dunia, dan semisalnya, padahal secara nyata dan fakta mereka yang mengaku-aku ini sebenarnya adalah pihak perusak yang harus mempertanggungjawabkan kerusakan akibat perbuatan mereka di hadapan umat.

Allah ‘azza wajalla dengan sangat tegas membongkar karakter munafik mereka ini dengan argumentasi final; merekalah sebenarnya sang perusak tatanan kehidupan manusia dan alam ini! Merekalah golongan yang sebenarnya sedang memerangi proyek perbaikan yang dilakukan oleh orang-orang yang beriman!

Allah ‘azza wajalla berfirman,

أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَٰكِنْ لَا يَشْعُرُونَ

Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” (QS. Al-Baqarah: 12) 

 

Golongan Munafik Adalah Golongan Orang-orang Dungu Level Ilusi

Salah satu ciri karakter orang dungu adalah merasa lebih tinggi levelnya dari orang lain. Mereka lebih suka mengaku diri sebagai golongan yang memiliki keimanan dan keikhlasan yang kuat. Padahal sejatinya itu hanyalah ilusi dan klaim belaka. Karena sejatinya mereka adalah orang-orang dungu yang gemar melakukan penyimpangan. Itulah mengapa mereka termasuk dalam golongan munafik.

Allah ‘azza wajalla berfirman,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ ۗ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَٰكِنْ لَا يَعْلَمُونَ

Apabila dikatakan kepada mereka: ‘Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman’. Mereka menjawab: ‘Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?’ Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu.” (QS. Al-Baqarah: 13)

 

Golongan Munafik Adalah Manipulator dan Ahli Konspirasi

Golongan munafik memang dikenal sebagai manusia yang paling licik dalam membuat siasat. Segala bentuk sifat kekejian, pengecut, busuk, dan kotor melekat pada diri mereka. Mereka memasang wajah palsu sesuai dengan situasi dan kondisi yang menguntungkan.

Jika mereka sedang berada di tengah kerumunan orang beriman, mereka mengenakan topeng keimanan hingga tampak samar perbedaan antara kemunafikan mereka dengan umat beriman. Mereka baru akan membuka topeng wajah ketika berada di tengah kerumunan orang-orang kafir dan setan-setan berwujud manusia yang notabene adalah kawan perjuangan mereka.

Allah ‘azza wajalla berfiman,

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ

Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: ‘Kami telah beriman’. Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: ‘Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok’.” (QS. Al-Baqarah: 14) 

Akan tetapi, Allah ‘azza wajalla menghadapi mereka dengan ancaman mengerikan yang dapat mengguncang eksistensi mereka sehingga mereka menjadi kehilangan arah dan terpukul. Jalan yang telah mereka pilih sejatinya adalah jalan yang menambah parah kesesatan dan permusuhan mereka terhadap umat beriman.

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ

Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 16) 

Bukankah mereka ini adalah segolongan manusia yang menyukai jalan kemunafikan yang mereka tempuh? Bukankah sebenarnya keimanan telah berada di depan mata mereka? Bukankah petunjuk Allah ‘azza wajalla telah nyata di sekeliling mereka?

Namun, karena mereka lebih memilih jalan kemunafikan, maka mereka merasakan sensasi kesesatan jalan yang mereka pilih sendiri.

مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لَا يُبْصِرُونَ

Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.” (QS. Al-Baqarah: 17) 

Dan akhirnya, mereka menanggung hukuman berupa guncangan hati, kesesatan pikiran, dan kebingungan jalan hidup.

Allah ‘azza wajalla berfirman,

أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ ۚ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ

Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 19) 

Mereka pun akhirnya juga harus menanggung kegelapan dan kebutaan penglihatan dan bashirah.

يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ ۖ كُلَّمَا أَضَاءَ لَهُمْ مَشَوْا فِيهِ وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 20) 

 

Golongan Munafik Paling Hobi Berkhianat

Golongan munafik di permukaan telah membuat janji dengan Allah ‘azza wajalla untuk melaksanakan berbagai amal kebaikan, berkomitmen untuk melaksanakan perintah Allah ‘azza wajalla, namun karena para pengkhianat janji itu hatinya hampa, akalnya kosong, dan setan-setan telah berhasil menjajah diri mereka, akhirnya dengan begitu mudahnya mereka berkhianat terhadap perjanjian yang tela mereka buat dengan Allah ‘azza wajalla.

Allah ‘azza wajalla berfirman,

وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ

Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. At-Taubah: 75)

فَلَمَّا آتَاهُمْ مِنْ فَضْلِهِ بَخِلُوا بِهِ وَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ

Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).” (QS. At-Taubah: 76)

فَأَعْقَبَهُمْ نِفَاقاً فِي قُلُوبِهِمْ إِلَى يَوْمِ يَلْقَوْنَهُ بِمَا أَخْلَفُوا اللَّهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُوا يَكَذِبُونَ

Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta.” (QS. At-Taubah: 77)

 

Golongan Munafik Selalu Loyal Kepada Orang Kafir dan Benci Kepada Orang Mukmin

Golongan munafik di mana pun mereka berada pasti menganggap kemuliaan, kejayaan, dan kemajuan peradaban itu ada pada orang-orang kafir, sehingga loyalitas mereka persembahkan untuk orang-orang kafir tersebut.

Sementara rasa benci orang-orang munafik tersebut terhadap orang-orang beriman tak berkurang sedikit pun meskipun mereka berada di tengah-tengah mereka.

Mata mereka akan lebih terasa sejuk ketika mendapat informasi tentang kemajuan ekonomi, teknologi, dan peradaban bangsa-bangsa kafir. Akan tetapi mereka akan merasa sangat sedih dan kecewa manakala kemajuan-kemajuan tersebut berada di tangan kaum mukminin.

Kecintaan orang-orang golongan munafik terhadap orang-orang kafir mereka letakkan jauh di atas dan selalu dijunjung tinggi. Sementara itu, mereka sama sekali tidak memiliki rasa cinta dan kasih sayang terhadap orang-orang beriman.

Orang-orang munafik lebih senang bergaul dengan orang-orang kafir, sementara keberadaan mereka di tengah kaum muslimin hanyalah sebuah kedok palsu yang tampak dari luar di mana mereka memiliki kepentingan busuk untuk mengacaukan barisan kaum muslimin.

Allah ‘azza wajalla berfirman,

الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۚ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا

“(yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.” (QS. An-Nisa’: 139)

 

Golongan Munafik Senantiasa Merapat ke Barisan Orang Mukmin ketika Kemenangan di Tangan Mereka

Salah satu karakter orang munafik adalah main enaknya sendiri. Ketika kemenangan jatuh ke tangan kaum beriman, orang-orang munafik ini merapat kepada mereka untuk mengharap bagian ghanimah.

الَّذِينَ يَتَرَبَّصُونَ بِكُمْ فَإِنْ كَانَ لَكُمْ فَتْحٌ مِنَ اللَّهِ قَالُوا أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ وَإِنْ كَانَ لِلْكَافِرِينَ نَصِيبٌ قَالُوا أَلَمْ نَسْتَحْوِذْ عَلَيْكُمْ وَنَمْنَعْكُمْ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ ۚ فَاللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

“(yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata: ‘Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu?’ Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: ‘Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?’ Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu di hari kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 141)

 

Golongan Munafik Merasa Bahagia Jika Umat Beriman Ditimpa Musibah dan Ujian

Merupakan karakter dan sifat orang munafik adalah selalu merasa bahagia ketika umat beriman ditimpa musibah dan ujian. Sebaliknya, kesedihan dan duka cita mereka tertumpah ketika orang-orang beriman dan para mujahid fi sabilillah mendapat kebahagiaan dan kemenangan.

إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا ۖ وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali Imran: 120)

 

Golongan Munafik Adalah Para Penyandang Gelar Murjifun

Al-Irjaf adalah aktivitas menebar berita heboh, bombastis, tapi kontennya dusta, yang tujuannya untuk menciptakan sebuah kegaduhan dan kepanikan. Orang yang suka melakukan perbuatan itu disebut dengan Murjif, jamaknya Murjifun.

Tipikal Murjif seperti itu terdapat pada diri golongan munafik. Mereka gemar menebar berita heboh dan bombastis namun kontennya dusta. Tujuan mereka adalah memecah belah barisan kaum muslimin, membuat gaduh, memunculkan kepanikan, adu domba, dan fitnah, sehingga umat beriman kehilangan persatuan, jati diri, dan kekuatan mereka.

Allah ‘azza wajalla berfirman,

وَإِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلَّا غُرُورًا

Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: ‘Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya’.” (QS. Al-Ahzab: 12)

 

Golongan Munafik Adalah Orang-orang Pengecut

Orang-orang munafik akan tampak sifat kemunafikannya ketika mereka berada dalam situasi yang mencekam seperti ketika sedang terjadi pertempuran dengan musuh, ketika ditimpa musibah, ujian, dan cobaan yang begitu berat.

Mereka akan menjadi golongan yang pertama kali lari darinya, mereka akan menjadi orang yang pertama kali tampak rasa ketakutannya, dan mereka akan terlihat sebagai orang-orang yang mundur ke belakang dari medan pertempuran dengan musuh.

Allah ‘azza wajalla berfirman,

لَئِنْ أُخْرِجُوا لَا يَخْرُجُونَ مَعَهُمْ وَلَئِنْ قُوتِلُوا لَا يَنْصُرُونَهُمْ وَلَئِنْ نَصَرُوهُمْ لَيُوَلُّنَّ الْأَدْبَارَ ثُمَّ لَا يُنْصَرُونَ

Sesungguhnya jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tidak akan keluar bersama mereka, dan sesungguhnya jika mereka diperangi, niscaya mereka tidak akan menolongnya; sesungguhnya jika mereka menolongnya, niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang; kemudian mereka tidak akan mendapat pertolongan.” (QS. Al-Hasyr: 12)

 

Golongan Munafik Akan Selalu Menolak Berhukum dengan Hukum Allah ‘azza wajalla

Ciri-ciri dan sifat orang munafik yang paling tampak nyata adalah penolakan mereka terhadap berhukum dengan hukum Allah ‘azza wajalla. Mereka akan selalu melakukan pencegahan dengan berbagai macam cara dan modus jika ada syariat Allah ‘azza wajalla yang akan diterapkan untuk mengatur kehidupan manusia dalam bermasyarakat dan berbangsa.

Sebaliknya, orang-orang munafik ini justru akan merasa sangat senang jika hukum Thagut diterapkan di tengah-tengah masyarakat. Mereka akan mencari-cari argumentasi untuk membenarkan dan menguatkan legalitas pemberlakuan hukum selain dari hukum Allah ‘azza wajalla tersebut.

Mereka akan menempuh berbagai upaya untuk menghancurkan narasi penegakan syariat dan hukum Allah ‘azza wajalla demi menjaga eksistensi hukum buatan manusia tersebut. Hati nurani mereka benar-benar telah dikunci mati oleh Allah ‘azza wajalla dari cahaya kemuliaan Islam. Isinya hanya benci dan permusuhan terhadap syariat Allah ‘azza wajalla.

Allah ‘azza wajalla berfirman,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلالاً بَعِيداً

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thagut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa: 60) 

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُوداً

Apabila dikatakan kepada mereka: ‘Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul’, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (QS. An-Nisa: 61)

 

Membongkar Identitas Golongan Munafik, Menyatukan Kembali Barisan Umat Muslim

Keberadaan orang-orang munafik dalam tubuh umat Islam bak duri dalam daging. Ulah mereka akan selalu memberikan efek negatif bagi umat; barisan umat terpecah belah, narasi al-Haq dan al-Batil tercampur aduk, umat menjadi bingung, dan mental umat jatuh.

Oleh sebab itu, para ulama, da’i, dan penyeru umat harus terus berusaha membongkar identitas oknum-oknum munafik yang bersarang di dalam tubuh umat ini. Sebagai langkah untuk menyatukan kembali barisan umat yang telah terlalu lama tercerai-berai.

Kondisi yang menimpa umat saat ini merupakan satu indikasi bahwa orang-orang munafik yang menyelinap ke dalam tubuh kaum muslimin tidak diam. Mereka terus bekerja menciptakan kekacauan.

Allah ‘azza wajalla berfirman,

 يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ ۚ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah Jahanam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.” (QS. At-Tahrim: 9) 

Ketika mereka terus bergerak menghancurkan umat dengan strategi liciknya dari dalam tubuh kaum muslimin, maka perintah Allah ‘azza wajalla tegas; membongkar identitas mereka, membongkar strategi-strategi kemunafikan mereka, perangi mereka, dan mengeluarkan mereka dari barisan kaum muslimin. Para ulama dan pemimpin umat harus segera bahu-membahu dan merapatkan barisan untuk menyelesaikan amanah umat ini.

Sangat menarik kalimat yang diucapkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Marzuq ath-Thuraifi fakkallahu asrah. Beliau mengatakan,

“Allah hanya menyebutkan ciri-ciri golongan munafik dalam Al-Quran tanpa menyebutkan nama orangnya. Sebab, nama mereka akan berubah di setiap zaman. Dengan hanya menyebut ciri-ciri mereka, nama mereka akan muncul dengan sendirinya dan berkumpul untuk mempertahankannya. Orang-orang akan segera menyaksikan mereka.” Wallahu a’lam 

yd1jni@gmail.com

Minggu, 24 November 2019

Hari Guru

Hari Guru Nasional 2019 Bertema ‘Guru Penggerak Indonesia Maju’, Simak Ragam Kegiatan dan Sejarahnya

   
hari-guru-nasional1.jpg

Hari Guru Nasional Pada 25 November 2019 mengusung tema Guru Penggerak Indonesia Maju. 

TRIBUNNEWS.COM­ – Pemerintah melalui surat edaran (SE) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyampaikan tema yang diusung saat Hari Guru Nasional 2019, yaitu Guru Penggerak Indonesia Maju, Rabu (20/11/2019).

Pemerintah juga menghimbau agar memperingati momen Hari Guru Nasional 2019 dengan menyelenggrakan kegiatan untuk mengapresiasi guru.

Selain itu, ada beberapa agenda lain yang bisa dilakukan saat Hari Guru Nasional 2019 mulai dari, seminar, talkshow, ziarah ke Taman  Makam Pahlawan dan mempublikasikannya di berbagai media.

Tema Hari Guru Nasional tahun 2019, yaitu Guru Penggerak Indonesia Maju, Rabu (20/11/2019).

(Tangkap Layar melalui kemdikbud.go.id)

Kemendikbud juga memberikan berbagai apresiasi terhadap dedikasi para guru.

Satu di antara, bentuk penghargaan tersebut adalah diselenggarakannya upacara bendera.

Kemendikbud telah menerbitkan Pedoman Pelaksaan Upacara Bendera Peringatan Hari Guru Nasional Tahun 2019 di laman resmi Kemendikbud, Kemdikbud.go.id.

Diketahui, Pemerintah Repubkik Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 78 tahun 1994, menetapkan tanggal 25 November selain sebagai HUT PGRI juga sebagai Hari guru Nasional.

Murid Sekolah Dasar mengikuti Upacara HUT Ke-71 PGRI dan Hari Guru Nasional 2016 di Lapangan Blangpadang, Banda Aceh, Kamis (1/12/2016). SERAMBI/M ANSHAR (SERAMBI/M ANSHAR/M ANSHAR)

Sejarah Hari guru Nasional dan PGRI

Halaman
123