Senin, 08 Juli 2019

Hal-hal yang Merusak Iman

Iman adalah keyakinan dalam hati, yang di ikrarkan melalui lisan (ucapan) dan di amalkan melaliu perbuatan dalam kehidupan sehari-hari.

 Iman itu kadang-kadang bertambah kuat, kadang-kadang bisa berkurang, bahkan kadang-kadang bisa rusak atau bahkan hilang.

 Ini berarti iman itu bisa berubah-ubah. Hal ini sesuai dengan hadis rosulilloh yang artinya: 

“iman itu ucapan dan amalan kadang-kdang bertambah, kadang-kadang berkurang” (H.R. Bukhori)

Iman itu ibarat tanaman , kalau dipelihara dengan baik, disiram, di pupuk maka akan tumbuh subur, tetapi bila tidak mau memeliharanya dengan baik tanaman itu akan kurus bahkan akan mati. 

Demikian pula iman kita, kalau kita memeliharanya dengan baik melalui berbagai kegiatan keagamaan seperti :

 mengikuti pengajian, membaca Al-Quran, berdzikir, berdoa, selalu beribadah, menjalankan syariat agama maka iman kita akan tumbuh subur dan kuat. 

Sebaliknya apabila kita tidak mau menjaga keimanan kita dengan berbagai kegiatan keagamaan, maka iman kita mudah tarserang penyakit yang akhirnya akan mematikan iman kita.

Penyakit iman itu antara lain:

1.Syirik

Syirik adalah menyekutukan Allah SWT dengan sesuatu atau menyamakan Allah dengan yang lain (menyembah selain Allah). 

Perbuatan syirik adalah perbuatan sia-sia dan bertentangan dengan ajarann islam. 

Orang yang menyembah selain Allah di sebut musyrik. 

Allah SWT sangat mengutuk perbuatan syirik, karena sangat merendahkan Allah SWT dan tidak akan mendapat ampunan dari Allah SWT. Firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 48:

Yang artinya :

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. 

Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (Q.S An-Nisa 48).

Perbuatan syirik dapat dijauhi dengan cara :

1. Selalu mengingat dan meyakini kebesaran Allah SWT.

2. Selalu mengingat dan meyakini bahwa Allah SWT menciptakan manusia tidak lain untuk menyembah-Nya.

2. Riddah

Riddah adalah keluar dari agama, orang yang telah masuk agama islam, kemudian keluar dari agama islam. 

Orang tersebut dinamakan murtad.

Adapun tingkatan murtad sebagi berikut :

1. Murtad I’tikadi, yaitu orang yang ragu-ragu akan Allah, ragu-ragu bahwa Muhammad SAW adalah utusan Allah dan ragu-ragu akan adanya hari kiamat, akhirnya tidak percaya dan keluar dari agama islam.

2. Murtad fi’li, yaitu murtad karena dia melakukan perbuatan-perbuatan tertentu yang menyimpang dari ajran islam, seperti menginjak-nginjak Al-Qur’an.

3. Murtad lisani, yaitu murtad pembicaraan, misalnya mengatakan bahwa dia keluar dari agam islam meskipun hatinya tidak berkeinginan demikian atau hanya memperolok-olok orang lain sesama muslim, orang kafir atau orang yang mengatakan “seandainya orang tuaku bukan muslim saya tidak mau memeluk agama islam”.

faktor-faktor penyebab kemurtadan :

a. Faktor dari luar

Orang yang bersangkutan tidak mau memupuk dan menjaga keimanannya dengan baik, bahkan cenderung pada perbuatan yang dilarang oleh Allah, sehingga lambat laun keimananya menipis.

b. Faktor dari luar.

Pengaruh harta benda (materi)

Pengaruh perkawinan yang berbeda agama

Pengaruh jabatan (pangkat)

Cara-cara untuk menghindari perbuatan riddah (murtad) antara lain :

1. Mempertebal keimanan, menambah syukur dan taqwa kepada Allah SWT

2. Memperdalam pengetahuan agama islam dengan mendatangi majlis ta’lim, mempelajari Al-Qur’an dan hadist

3. Memperbanyak sedekah, amal soleh dan ibadah

4. Menjauhi diri dari teman yang nakal, berakhlak rusak (amoral).

Semoga bermanfaat

Minggu, 07 Juli 2019

Adab berdo'a

13 Adab berdoa

Pertama, Mencari Waktu yang Mustajab
Di antara waktu yang mustajab adalah hari Arafah, Ramadhan, sore hari Jumat, dan waktu sahur atau sepertiga malam terakhir.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ينزل الله تعالى كل ليلة إلى السماء الدنيا حين يبقى ثلث الليل الأخير فيقول عز وجل: من يدعونى فأستجب له، من يسألنى فأعطيه، من يستغفرنى فأغفر له

Allah turun ke langit dunia setiap malam, ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, Aku kabulkan, siapa yang meminta, akan Aku beri, dan siapa yang memohon ampunan pasti Aku ampuni’.” (HR. Muslim)

Kedua, Memanfaatkan Keadaan yang Mustajab Untuk Berdoa
Di antara keadaan yang mustajab untuk berdoa adalah: ketika perang, turun hujan, ketika sujud, antara adzan dan iqamah, atau ketika puasa menjelang berbuka.

Abu Hurairah radhiallahu’anhu mengatakan, “Sesungguhnya pintu-pintu langit terbuka ketika jihad fi sabillillah sedang berkecamuk, ketika turun hujan, dan ketika iqamah shalat wajib. Manfaatkanlah untuk berdoa ketika itu.” (Syarhus Sunnah al-Baghawi, 1: 327)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Doa antara adzan dan iqamah tidak tertolak.” (HR. Abu Daud, Nasa’i, dan Tirmidzi)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Keadaan terdekat antara hamba dengan Tuhannya adalah ketika sujud. Maka perbanyaklahberdoa.” (HR. Muslim)

Ketiga, Menghadap Kiblat dan Mengangkat Tangan
Dari Jabir radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berada di Padang Arafah, beliau menghadap kiblat, dan beliau terus berdoa sampai matahari terbenam. (HR. Muslim)
Dari Salman radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Tuhan kalian itu Malu dan Maha Memberi. Dia malu kepada hamba-Nya ketika mereka mengangkat tangan kepada-Nya kemudian hambanya kembali dengan tangan kosong (tidak dikabulkan).” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi dan beliau hasankan)
Cara mengangkat tangan:

Ibnu Abbas radhiallahu’anhu mengatakan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berdoa, beliau menggabungkan kedua telapak tangannya dan mengangkatnya setinggi wajahnya (wajah menghadap telapak tangan). (HR. Thabrani)
Catatan: Tidak boleh melihat ke atas ketika berdoa.

Keempat, Dengan Suara Lirih dan Tidak Dikeraskan
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا

Janganlah kalian mengeraskan doa kalian dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.” (QS. Al-Isra: 110)

Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji Nabi Zakariya ‘alaihis salam, yang berdoa dengan penuh khusyu’ dan suara lirih.

ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا (2) إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا

(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria,
yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.” (QS. Maryam: 2–3)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raf: 55)

Dari Abu Musa radhiallahu’anhu bahwa suatu ketika para sahabat pernah berdzikir dengan teriak-teriak. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ ، فَإِنَّكُمْ لاَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا ، إِنَّهُ مَعَكُمْ ، إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ

Wahai manusia, kasihanilah diri kalian. Sesungguhnya kalian tidak menyeru Dzat yang tuli dan tidak ada, sesungguhnya Allah bersama kalian, Dia Maha mendengar lagi Maha dekat.” (HR. Bukhari)

Kelima, Tidak Dibuat Bersajak
Doa yang terbaik adalah doa yang ada dalam Alquran dan sunah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raf: 55)
Ada yang mengatakan: maksudnya adalah berlebih-lebihan dalam membuat kalimat doa, dengan dipaksakan bersajak.

Keenam, Khusyu’, Merendahkan Hati, dan Penuh Harap
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoakepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 90)

Ketujuh, Memantapkan Hati Dalam Berdoa dan Berkeyakinan Untuk Dikabulkan
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا يقل أحدكم إذا دعا اللهم اغفر لي إن شئت اللهم ارحمني إن شئت ليعزم المسألة فإنه لا مُكرِه له

Janganlah kalian ketika berdoa dengan mengatakan, ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau mau. Ya Allah, rahmatilah aku, jika Engkau mau’. Hendaknya dia mantapkan keinginannya, karena tidak ada yang memaksa Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian berdoa, hendaknya dia mantapkan keinginannya. Karena Allah tidak keberatan dan kesulitan untuk mewujudkan sesuatu.” (HR. Ibn Hibban dan dishahihkan Syua’ib Al-Arnauth)

Di antara bentuk yakin ketika berdoa adalah hatinya sadar bahwa dia sedang meminta sesuatu. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ادعوا الله وأنتم موقنون بالإجابة واعلموا أن الله لا يستجيب دعاء من قلب غافل لاه

Berdoalah kepada Allah dan kalian yakin akan dikabulkan.

Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai, dan lengah (dengan doanya).” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan Al-Albani)

Banyak orang yang lalai dalam berdoa atau bahkan tidak tahu isi doa yang dia ucapkan.

Karena dia tidak paham bahasa Arab, sehingga hanya dia ucapkan tanpa direnungkan isinya.

Kedelapan, Mengulang-ulang Doa dan Merengek-rengek Dalam Berdoa
Mislanya, orang berdoa:

Yaa Allah, ampunilah hambu-MU, ampunilah hambu-MU…, ampunilah hambu-MU yang penuh dosa ini. ampunilah ya Allah…. Dia ulang-ulang permohonannya. Semacam ini menunjukkan kesungguhhannya dalam berdoa.

Ibn Mas’ud mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila beliau berdoa, beliau mengulangi tiga kali.

Dan apabila beliau meminta kepada Allah, beliau mengulangi tiga kali. (HR. Muslim)

Kesembilan, tidak tergesa-gesa agar segera dikabulkan, dan menghindari perasaan: mengapa doaku tidak dikabulkan atau kalihatannya Allah tidak akan mengabulkan doaku.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُسْتَجَابُ لأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ يَقُولُ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِى

Akan dikabulkan (doa) kalian selama tidak tergesa-gesa. Dia mengatakan, ‘Saya telah berdoa, namun belum saja dikabulkan‘.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sikap tergesa-gesa agar segera dikabulkan, tetapi doanya tidak kunjung dikabulkan, menyebabkan dirinya malas berdoa.

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا يزال الدعاء يستجاب للعبد ما لم يدع بإثم أو قطيعة رحم، ما لم يستعجل، قيل: يا رسول الله وما الاستعجال؟ قال: يقول قد دعوت وقد دعوت فلم أر يستجيب لي، فيستحسر عند ذلك ويدع الدعاء رواه مسلم

Doa para hamba akan senantiasa dikabulkan, selama tidak berdoa yang isinya dosa atau memutus silaturrahim, selama dia tidak terburu-buru.”

Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud terburu-buru dalam berdoa?” Beliau bersabda, “Orang yang berdoa ini berkata, ‘Saya telah berdoa, Saya telah berdoa, dan belum pernah dikabulkan’. Akhirnya dia putus asa dan meninggalkan doa.” (HR. Muslim dan Abu Daud)

Sebagian ulama mengatakan: “Saya pernah berdoa kepada Allah dengan satu permintaan selama dua puluh tahun dan belum dikabulkan, padahal aku berharap agar dikabulkan.

Aku meminta kepada Allah agar diberi taufiq untuk meninggalkan segala sesuatu yang tidak penting baguku.”

Kesepuluh, Memulai Doa dengan Memuji Allah dan Bershalawat Kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Bagian dari adab ketika memohon dan meminta adalah memuji Dzat yang diminta.

Demikian pula ketika hendak berdoa kepada Allah. Hendaknya kita memuji Allah dengan menyebut nama-nama-Nya yang mulia (Asma-ul husna).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar ada orang yang berdoa dalam shalatnya dan dia tidak memuji Allah dan tidak bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau bersabda, “Orang ini terburu-buru.” kemudian beliau bersabda,

إذا صلى أحدكم فليبدأ بتحميد ربه جل وعز والثناء عليه ثم ليصل على النبي صلى الله عليه وسلم ثم يدعو بما شاء

Apabila kalian berdoa, hendaknya dia memulai dengan memuji dan mengagungkan Allah, kemudian bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kemudian berdoalah sesuai kehendaknya.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan dishahihkan Al-Albani)

Kesebelas, Memperbanyak Taubat dan Memohon Ampun Kepada Allah
Banyak mendekatkan diri kepada Allah merupakan sarana terbesar untuk mendapatkan cintanya Allah.

Dengan dicintai Allah, doa seseorang akan mudah dikabulkan. Di antara amal yang sangat dicintai Allah adalah memperbanyak taubat dan istighfar.

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ….، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ

Tidak ada ibadah yang dilakukan hamba-Ku yang lebih Aku cintai melebihi ibadah yang Aku wajibkan. Ada hamba-Ku yang sering beribadah kepada-Ku dengan amalan sunah, sampai Aku mencintainya.

Jika Aku mencintainya maka …jika dia meminta-Ku, pasti Aku berikan dan jika minta perlindungan kepada-KU, pasti Aku lindungi..” (HR. Bukhari)

Diriwayatkan bahwa ketika terjadi musim kekeringan di masa Umar bin Khatab, beliau meminta kepada Abbas untuk berdoa.

Ketika berdoa, Abbas mengatakan, “Ya Allah, sesungguhnya tidaklah turun musibah dari langit kecuali karena perbuatan dosa.

dan musibah ini tidak akan hilang, kecuali dengan taubat…”

Kedua Belas, Hindari Mendoakan Keburukan, Baik Untuk Diri Sendiri, Anak, Maupun Keluarga
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, mencela manusia yang berdoa dengan doa yang buruk,

وَيَدْعُ الإِنسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءهُ بِالْخَيْرِ وَكَانَ الإِنسَانُ عَجُولاً

Manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” (QS. Al-Isra’: 11)

وَلَوْ يُعَجِّلُ اللَّهُ لِلنَّاسِ الشَّرَّ اسْتِعْجَالَهُم بِالْخَيْرِ لَقُضِيَ إِلَيْهِمْ أَجَلُهُمْ

Kalau sekiranya Allah menyegerakan keburukan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka (binasa).” (QS. Yunus: 11)

Ayat ini berbicara tentang orang yang mendoakan keburukan untuk dirinya, hartanya, keluarganya, dengan doa keburukan.

Dari Jabir radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تدعوا على أنفسكم، ولا تدعوا على أولادكم، ولا تدعوا على خدمكم، ولا تدعوا على أموالكم، لا توافق من الله ساعة يسأل فيها عطاء فيستجاب لكم

Janganlah kalian mendoakan keburukan untuk diri kalian, jangan mendoakan keburukan untuk anak kalian, jangan mendoakan keburukan untuk pembantu kalian, jangan mendoakan keburukan untuk harta kalian.

Bisa jadi ketika seorang hamba berdoa kepada Allah bertepatan dengan waktu mustajab, pasti Allah kabulkan.” (HR. Abu Daud)

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا يزال الدعاء يستجاب للعبد ما لم يدع بإثم أو قطيعة رحم

Doa para hamba akan senantiasa dikabulkan, selama tidak berdoa yang isinya dosa atau memutus silaturrahim.” (HR. Muslim dan Abu Daud)

Ketiga Belas, Menghindari Makanan dan Harta Haram
Makanan yang haram menjadi sebab tertolaknya doa.

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ». ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyib (baik). Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula.

Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya, ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih.

Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan’. Dan Allah juga berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu’. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammenceritakan tentang seroang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu

Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a, ‘Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku’. Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan mengabulkan do’anya?” (HR. Muslim)

Sabtu, 06 Juli 2019

Iblis Tidak Sujud Kepada Manusia, Tapi Mengapa Tunduk Kepada Isa?

Al-Quran mengajarkan bahwa malaikat dan Iblis diperintahkan Allah untuk sujud kepada Adam. Apa maksud malaikat sujud kepada Adam? Mengapa Iblis tidak mau sujud kepada Adam?


Iblis telah sukses menggodai Adam dan semua umat manusia. Contohnya, dia mengodai kita untuk berbohong, sombong, berkata kotor dan sebagainya. Karena itu, ia tidak sujud kepada manusia.

Tapi, mengapa Iblis sujud kepada Isa Al-Masih?

Al-Quran: Iblis Tidak Sujud Kepada Adam

Al-Quran menuliskan “Dan (ingatlah) ketika Kami berkata kepada malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka mereka sujud kecuali iblis. Ia membangkang” (Qs 20:116).

Apa maksud malaikat sujud kepada Adam? Iblis tidak takut kepada Adam dan semua manusia. Ia terus menggodai manusia untuk berdosa sehingga masuk neraka.

Injil Allah: Iblis Tunduk Kepada Isa Al-Masih

Suatu kali Isa bertemu dengan seorang gila karena dirasuk banyak setan. “Ketika ia melihat Yesus [Isa Al-Masih], ia berteriak lalu tersungkur di hadapan-Nya dan berkata dengan suara keras: “Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus Anak Allah Yang Mahatinggi [gelar keilahian Isa Al-Masih]? Aku memohon kepada-Mu, supaya Engkau [Isa Al-Masih] jangan menyiksa aku” (Injil, Rasul Lukas 8:28).

Tersungkurnya orang gila itu karena setan-setan yang di dalam dirinya tunduk kepada Isa. Setan-setan itu juga memohon agar Isa jangan menyiksanya. “Lalu setan-setan itu memohon kepada Yesus [Isa Al-Masih], supaya Ia jangan memerintahkan mereka [setan-setan] masuk ke dalam jurang maut [neraka]” (ayat 31).

Lalu Isa memerintahkan setan-setan itu keluar dari tubuh orang itu. Dan mereka pun patuh kepada-Nya. Maka sembuhlah orang gila itu.

Siapakah Isa Al-Masih sebenarnyakok Iblis sujud dan begitu takut kepada-Nya?

Hakekat Isa Al-Masih Menurut Al-Quran dan Hadis

Menurut Hadis “Isa itu sesungguhnya Roh Allah dan Firman-Nya” (Hadis Anas bin Malik hal.72)

Mengapa manusia harus berdo'a

Mengapa manusia harus berdo'a :

Dalam syariat Islam, doa merupakan salah satu bentuk ibadah untuk memperjuangkan setiap impian setelah berjuang sekuat tenaga dengan menggunakan anggota tubuh kita.

Ya, berusaha dan berdoa adalah 2 hal yang saling erat berkaitan, tak dapat dipisahkan, dan seyogianya dilakukan oleh setiap umat Islam.

Dalam Surat Al-Baqarah ayat 186 diterangkan bahwa Allah swt sangat dekat dengan hamba-Nya dan akan mengabulkan permohonan orang-orang yang memohon (berdoa) kepada-Nya.


Doa terbukti ampuh mengatasi beragam problema dan kegalauan yang kerap terjadi dalam hidup ini.

Dengan banyak bedroa, kita akan memiliki ‘amunisi tambahan’ selain usaha fisik.

Doa memberikan orientasi atau tujuan bagi hidup kita.

Artinya, orang yang mau berdoa berarti ia mengetahui secara pasti dengan ‘tujuan hidupnya’ (tujuan hidup yang dikemas dengan 2 hal, yakni usaha dan doa).

Doa juga membuat kita memiliki sandaran hidup.

Bersandar pada Allah swt merupakan puncak tertinggi dalam perjalanan hidup kita.


Orang yang enggan berdoa, menandakan ia hanya menyandarkan segala sesuatu pada usaha fisiknya saja.

Maka tak heran, apabila ternyata usaha fisiknya itu tidak sesuai dengan apa yang diharapkan lantas membuatnya menjadi galau dan depresi.

Bahkan, ada juga sebagian orang yang nekat bunuh diri saking tak kuatnya menghadapi kegagalan dalam hidupnya.

Padahal, bunuh diri merupakan bentuk dari rasa putus asa yang sangat dibenci Tuhan. Na’udzubillahi min dzalik.


Dan perlu diingat, bahwa ketika kita akan berdoa, ada banyak etika atau adab yang harus dipenuhi agar doa yang kita panjatkan menjadi lekas terkabul.

Etika tersebut antara lain; berwudhu terlebih dulu, berdoa dengan menghadap ke arah kiblat, membentangkan kedua tangan dan menengadahkannya ke arah langit, bertaubat terlebih dulu dari segala salah dan dosa, mengawali dan mengakhiri doa dengan memuji Allah dan membaca shalawat nabi, merasa yakin bahwa doanya pasti dikabulkan oleh Allah, dan masih banyak etika lainnya yang akan dijelaskan lebih terperinci dalam bab ini (hal 42-96).


Selain itu, jangan sampai kita egois dalam berdoa.

Maksudnya, jangan sampai kita berdoa hanya untuk kepentingan diri sendiri saja.

Namun, hendaknya kita juga mendoakan orang lain sesama muslim, terutama orang tua dan saudara-saudara kita.

Rasulullah mengajarkan, ketika berdoa beliau tak pernah mementingkan diri sendiri.

Sebab beliau juga mendoakan keluarga, saudara-saudara, bahkan mendoakan kebaikan untuk seluruh umatnya (hal 86-88).


Pada bab terakhir  ini akan dipaparkan beragam doa pilihan yang bisa kita amalkan dalam kehidupan sehar-hari, seperti doa agar selalu tegar lahir dan batin, doa agar dijauhkan dari segala bentuk hal negatif, doa agar senantiasa dimudahkan segala urusan dunia akhirat, doa agar diberi rezeki yang mudah, halal dan berlimpah, dan lain sebagainya.


Perlu dipahami bersama bahwa tugas setiap manusia adalah berusaha dan berdoa.

Setelah itu, keputusan kita serahkan sepenuhnya kepada Allah Swt.

Dan apabila doa yang kita panjatkan belum sesuai dengan harapan kita, maka jangan lantas kita berputus asa dan menjadikan kita tak mau berdoa lagi.

Ikhlas, sabar serta tawakal adalah 3 hal yang seharusnya selalu kita upayakan dalam menghadapi takdir yang telah ditetapkan Tuhan.

Sebab, ada banyak hal yang menurut manusia kerap dianggap baik tetapi menurut Allah justru tidak baik.

Begitu pun sebaliknya, hal-hal yang menurut kita baik ternyata menurut Allah justru tidak baik.

Bandung, 6 July 2019. M
4 Dzulkaidah 1440. H


Jumat, 05 Juli 2019

Asal mula timbulnya do'a

sejarah berdoa dalam agama islam




Bandung - Menurut keterangan dari Al-Qur'an, bahwa sebelum Allah menciptakan Adam a.s. maka terlebih dahulu Dia menciptakan Iblis dan Malaikat.

Yang mana ketiga jenis mahluq ini bertempat tinggal di surga.

Kemudian kepada Iblis dan Malaikat Allah perintahakan untuk bersujud kepada Adam a.s. kecuali hanya iblis yang tidak mau bersujud kepadanya, yakni sujud sebagai sikap penghormatan kepada mahluq yang benama Adam a.s. ini.

karena iblis tidak mau bersujud kepada Adam a.s lalu Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman "hai iblis, mengapa kamu tidak mau bersujud bersama-sama Malaikat yang bersujud itu" ?

Iblis menjawab : "Tidak patut aku bersujud kapada manusia (adam) yang engkau ciptakan dari tanah kering, tanah hitam yang busuk."

mendengar jawaban iblis itu Allah berfirman : "keluarlah kamu dari surga, sesungguhnya aku mengutukmu sampai hari kemudian" (lihat surat Al-Hijr ayam 32-35)

nah, semenjak itulah iblis tidak boleh lagi tinggal di surga.

dan bagi adam a.s sendiri ia hidup bersenang-senang di dalam surga dengan menikmati segala keindahan dan kelezatan yang ada didalamnya.

tetapi meskipun demikian, adam a.s merasa kesepian karena tidak mempunyai teman sebagai pendamping hidupnya.

dari itu, lalu Allah  menciptakan hawa, dan keduanya hidup rukun di surga dengan menikmati segala sesuatu yang disediakan oleh Allah, hanya saja mereka dilarang mendekati sebuah pohon dan memakan buahnya, yukni buah khuldi.

rupanya larangan Allah SWT kepada Adam a.s dan hawa ini telah diketahui oleh iblis.

hal tersebut dijadikan satu kesempatan baik baginya untuk membalas sakit hatinya terhadap Adam a.s karena dia berpendapat, bahwa terusirnya dari surga itu adalah gara-gara adam a.s oleh karena itu, dia berusaha memperdayakan adam dan hawa supaya memakan buah khuldi.

kemudian datanglah iblis dengan berubah bentuk sebagai mahluq suci dengan berpura-pura sedih.

melihat itu adam a.s bertanya "apa sebabnya kamu kelihatan sedih, apa yang sedang kamu pikirkan" ?

Iblis menjawab : betapa tidak bersedih, karena aku senantiasa memikirkan nasib kalian berdua, bahwa aku telah mendengar kalian berdua tidak lama lagi tinggal bersenang- senang di dalam surga ini.

Apalagi setelah Allah SWT, melarangmu makan buah khuldi ini adalah suatu tanda bahwa apa yang telah aku khawatirkan itu akan menjadi kenyataan.

Dari itu, lekaslah makan buah pohon ini agar kalian berdua bisa langgeng hidup di surga ini dan tidak jadi terusir.”


Mendengar bujuk rayu Iblis, maka tertipulah Adam dan Hawa, dan akhirnya keduanya makan buah khuldi yang menjadi larangan Allah itu.

Kemudian setelah keduanya melanggar larangan- Nya terbukalah pakaiannya.

Untuk menutup auratnya, dicarilah daun- daun sebagai penutup. 

Setelah itu, keduanya dipanggil oleh Allah untuk menghadap seraya Dia berfirman : ”Bukankah Aku sudah melarang kalian berdua memakan buah pohon ini, dan Aku katakan kepada kalian bahwa syetan (iblis) itu adalah musuh kalian yang nyata?” 

Kemudian Adam dan Hawa memohon ampunan Allah seraya berdo’a :

”RABBANAA DLALAMNAA ANFUSANAA WA IN LAM TAGHFIR LANAA WA TAR HAMNAA LANAKUUNANNA MINAL KHAASIRIINA.”

Artinya : 

”Wahai Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri dan jika Engkau tidak mengampuni diri kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk golongan orang- orang yang merugi.”

(Surat Al- A’raf ayat 23)

Semenjak itulah asal mula timbulnya do’a, yakni dikala manusia pertama berada di dalam surga, kemudian diikuti oleh anak cucu beliau ketika berada di bumi.

Rabu, 03 Juli 2019

8 Pengingat Saat Kamu Merasa Gak Berdaya Melewati Ujian Hidup

Kamu lebih kuat dari apa yang kamu bayangkan

Kehidupan ini seperti roda yang terus berputar, ada dimana kita berada di putaran bawah dan ada saat kita berada di putaran atas. Ketika sedang dilanda kegagalan yang serasa tiada henti, kadang seseorang akan kehilangan kepercayaan diri hingga penuh keraguan untuk melangkah maju ke depan.

Ketakutan dan segala hal negatif seakan menjadi makanan sehari-hari yang sukar untuk diabaikan. Namun hanya mereka yang selalu optimislah yang bisa melewati ujian hidup. Barangkali 8 pengingat ini bisa menjadi alasan kenapa kamu perlu mengangkat kepala dan mulai bejalan ke arah depan lagi mulai dari sekarang.

1. Kamu salah jika berpikir bahwa kamu orang yang paling menderita

Pada kenyataannya setiap orang memiliki cerita hidup masing-masing yang juga tidak selalu lebih baik dari apa yang kita alami.

 Ada beberapa orang yang mengalami peristiwa lebih buruk dan mereka lebih kuat dari kita. 

Maka berhentilah berpikir bahwa kamu orang yang paling tidak beruntung. 

Satu hal menjadikan kamu berbeda dari orang yang juga mengalami kegagalan sama adalah bagaimana cara kamu memberikan respon terhadap ujian hidup ini. 

Respon kamu akan selalu lebih penting dari sebesar apapun masalah yang tengah muncul.

2. Berhentilah cengeng dan mulailah jadi orang yang lebih tangguh

Semua hal tak terduga yang tidak sesuai dengan harapan yang kamu impikan terkadang membuatmu gak habis pikir.

 Kamu seperti menjalani mimpi buruk dan seringkali berusaha menghilang dari realitas yang sebenarnya. 

Kamu seakan ingin terus berlari tanpa mau menghadapi kenyataan sesungguhnya.

Menangis boleh dilakukan, asal kamu tidak terlalu lama melakukannya. 

Jika kamu merasa tak berdaya dan tak tahu harus berbuat apa, mulai sekarang kamu harus membuang pikiran seperti itu. 

Sudah saatnya kamu sadar dan jadi orang tangguh yang tetap tegar.

3. Belajarlah berpandangan lebih luas dalam menyikapi masalah

Kamu perlu menyadari bahwa selalu ada banyak hal yang bisa kamu lakukan untuk memperbaiki kesalahan.

 Kamu mungkin gak bisa memutar waktu, namun hal itu malah jadi pelajaran bagaimana harus lebih serius memilih jalan yang ingin kamu ambil selanjutnya.

Bagaimana kamu bisa berhasil jika hanya melakukan cara yang sama? Memiliki pandangan yang luas lebih membantu dalam menemukan solusi dibandingkan kamu hanya berkutat pada cara sempit atau kebiasaan lama yang selalu kamu lakukan.

4. Kamu lebih kuat dari apa yang kamu pikirkan


Salah satu hal yang bisa kamu lakukan saat jatuh adalah mengubah cara berpikir atau menambahkan cara berpikir baru yang lebih fleksibel atau dinamis. Pikiran akan selalu mempengaruhi tindakan yang akan kamu lakukan.

Jika saat ini kamu belum bisa berpikir jernih untuk mengambil langkah yang tepat, berusahalah untuk mengingat hal sederhana ini. Bahwa kamu lebih kuat dari apa yang kamu pikirkan. Orang yang kuat bukanlah orang yang bisa mengalahkan banyak orang.

 Orang terkuat adalah yang bisa megalahkan dan menguasai dirinya sendiri.

5. Segala ujian hidup ini akan membuatmu lebih dewasa

Jangan lupa bahwa kamu sudah pernah berhasil melalui hal-hal buruk sebelumnya. 

Hal ini menjadikanmu lebih percaya diri dan merasa bahwa kamu pasti bisa melalui masa-masa sulit seperti sekarang. 

Ingat bahwa setiap ujian akan menjadikanmu menjadi pribadi yang lebih kuat.

Meski seringkali mengalami kegagalan dan segala peristiwa hidup yang cukup memilukan, kamu justru akan lebih dewasa dan lebih bijak menyikapi permasalahan di kemudian hari.

6. Kamu akan belajar lebih konsisten saat melewati setiap ujian kehidupan

Pernahkah kamu menyesal karena belum melakukan usaha secara maksimal? Saat itulah momen penting dimana kamu menyadari bahwa kamu belum secara konsisten berusaha untuk mendapatkan apa yang kamu mau.

Karena bunga tidak mekar dalam waktu semalam, apa yang kamu impikan gak mungkin berhasil dalam sekejab mata. 

Kamu perlu lebih bersabar, lebih konsisten dalam menjalani komitmen atau keputusan yang kamu ambil, dan meningkatkan usaha yang kamu lakukan.

7. Kamu harus percaya bahwa harapan akan selalu ada

Setiap ujian hidup yang tengah kamu alami sekarang layak disandingkan dengan semangat untuk melewatinya. 

Kamu harus yakin tidak peduli berapa kali jatuh, kamu akan terus memiliki semangat juang yang tiada henti. 

Begitulah yang perlu kamu ingat saat merasa tak berdaya dalam melewati ujian kehidupan ini. 

8. Jangan sekalipun punya pikiran untuk menyerah pada keadaan

Meski sulit dan membuat kamu ingin angkat kaki serta menyerah saja, kamu juga punya alasan untuk tetap berjalan. 

Justru ketika kamu tidak menyerah, saat itulah kamu punya kesempatan lebih besar untuk berhasil mendapatkan apa yang kamu mau. 

Saat kamu memberikan dirimu selangkah untuk lebih sabar dan lebih tekun menjalankan suatu hal, saat itulah kamu semakin dekat dengan kesuksesan.

Bersabarlah ketika kamu sedang mengalami ujian kehidupan. 

Kamu perlu percaya bahwa kamu pasti bisa melewatinya dan selalu punya harapan untuk berjuang lagi. 

Jika lelah beristirahatlah, bukan menyerah. Kamu selalu punya banyak pilihan cara dan tenaga untuk menghadapi kesulitan seperti ini. 

TASYAKUR BINNI’MAH MERUPAKAN SALAH SATU TANDA SYUKUR



Tasyakur binni’mah atau menyampaikan merupakan tanda syukur, menampakkan atau menceritakan nikmat Alloh Swt.

Tujuan kita menceritakan nikmat Alloh ini adalah untuk mengingatkan diri kita sendiri pada kekuasaan Alloh sehingga kita semakin yakin bahwa hanya Alloh Yang Maha Memiliki segalanya lagi Maha Mencukupi Rezeki seluruh makhluk-Nya.

Alloh Swt. berfirman, “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (QS. Adh Dhuha [93] : 11)

Tasyakur binni’mah jelas berbeda dengan riya’. Kalau riya’ itu menampakkan, menceritakan keberuntungan yang kita miliki dengan tujuan supaya orang lain kagum kepada kita dan supaya mereka memuji kita.

Orang yang syukur itu tidak ada beban di hatinya, ringan-ringan saja.

Sedangkan orang yang riya’ itu ada beban di hatinya karena ingin diakui, dikagumi dan dipuji orang lain. Orang yang syukur, ketika dia sampaikan tentang nikmat Alloh yang ia rasakan, maka akan semakin dalam keyakinannya pada Alloh, semakin deras rasa empatinya untuk membantu orang lain.

Sedangkan orang riya’, semakin ia menceritakan keberuntungannya pada orang lain maka semakin ia haus akan pujian, dan semakin berat rasa memilikinya pada dunia ini.

Orang yang syukur akan tenang hatinya, dan ketenangan ini akan terpancar melalui ucapan dan perbuatannya. Sehingga orang lain pun dibuat nyaman berada di dekatnya.

Sedangkan orang yang riya’ tidak akan tenang hatinya, dan ketidaktenangan ini akan terpancar dalam ucapan dan sikapnya. Orang lain pun tidak akan nyaman berada di dekatnya.

Tiada yang didapatkan orang bersyukur itu selain dari keberuntungan karena Alloh memberkahinya dengan limpahan nikmat dalam berbagai bentuk yang tidak terbayangkan.

Semoga kita tergolong hamba-hamba Alloh yang pandai bersyukur kepada-Nya.