Sabtu, 13 Februari 2021

tahrim sebelum subuh



Sholawat Tarhim kerap terdengar di masjid-masjid maupun mushola menjelang waktu subuh. 

Sholawat Tarhim ini diciptakan oleh Syeikh Mahmud Khalil Al-Husshari (1917-1980), seorang qari’ ternama lulusan Al-Azhar, Kairo, Mesir.  

Syeikh Mahmud Khalil merupakan Ketua Jam’iyatul Qurra’ wal Huffadz (organisasi para penghafal Alquran) di Mesir.

BACA JUGA:
Rahasia Keutamaan Sholawat Jibril, Dibukakan Pintu Rahmat dan Dicintai Rasulullah

Dikutip dari tebuireng.online, Sholawat Tarhim sampai ke Indonesia pada akhir tahun 1960an. Saat itu, Syeikh Mahmud Al-Husshari berkunjung ke Indonesia dan diminta untuk merekam Shalawat Tarhim di Radio Lokananta, Solo. Hasil rekaman tersebut kemudian disiarkan oleh Radio Lokananta dan juga Radio Yasmara (Yayasan Masjid Rahmat), Surabaya. 

Dari sinilah awal mula Shalawat Tarhim menjadi populer di Indonesia.

Tujuan Sholawat Tarhim

BACA JUGA:

Keutamaan Sholawat Fatih Beserta Arti dan Latin, 

Pembuka Pintu Kebaikan

Tujuan melantunkan Shalawat Tarhim ialah membangunkan kaum Muslimin agar mempersiapkan diri untuk sahur, shalat Shubuh, atau membangunkan mereka yang ingin shalat tahajjud.  

Berikut Bacaan Sholawat Tarhim

BACA JUGA:
Keutamaan Sholawat Munjiyat Beserta Arti dan Latin, Penyelamat saat Terjadi Bencana
 الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَاإمَامَ الْمُجَاهِدِيْنَ ۞ يَارَسُوْلَ اللهْ

• الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَانَاصِرَ اْلهُدَى ۞ يَا خَيْرَ خَلْقِ اللهْ

BACA JUGA:
Keutamaan Sholawat Asyghil, Lirik Beserta Artinya
• الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَانَاصِرَ الْحَقِّ يَارَسُوْلَ اللهْ

• الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَامَنْ اَسْرَى بِكَ مُهَيْمِنُ لَيْلًا نِلْتَ

۞ مَا نِلْتَ وَالأَنَامُ نِيَامْ

وَتَقَدَّمْتَ لِلصَّلَاةِ فَصَلَّ كُلُّ مَنْ فِى السَّمَاءِ وَاَنْتَ الْإِمَامْ

 وَاِلَى الْمُنْتَهَى رُفِعْتَ كَرِيْمًا وَ سَمِعْتَ نِدَاءً عَلَيْكَ السَّلَامْ ۞

يَا كَرِمَ الْأَخْلَاقْ ۞ يَارَسُوْلَ اللهْ ۞

صَلىَ اللهُ عَلَيْكَ ۞ وَ عَلىَ عَلِكَ وَ اَصْحَابِكَ أجْمَعِيْنَ۞

Sholawat Tarhim Teks Latin

Ash-shalaatu was-salaamu ‘alaiyk

Yaa imaamal mujaahidiin yaa Rasuulallaah

Ash-shalaatu was-salaamu ‘alaaik

Yaa naashiral hudaa yaa khayra khalqillaah

Ash-shalaatu was-salaamu ‘alaaik

Yaa naashiral haqqi yaa Rasuulallaah

Ash-shalaatu was-salaamu ‘alaaik

Yaa Man asraa bikal muhayminu laylan nilta maa nilta wal-anaamu niyaamu

Wa taqaddamta lish-shalaati fashallaa kulu man fis-samaai wa antal imaamu

Wa ilal muntahaa rufi’ta kariiman

Wa ilal muntahaa rufi’ta kariiman wa sai’tan nidaa ‘alaykas salaam

Yaa kariimal akhlaaq yaa Rasuulallaah

Shallallaahu ‘alayka wa ‘alaa 'aalika wa ashhaabika ajma’iin


Artinya: Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu
duhai pemimpin para pejuang, ya Rasulullah

Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu

duhai penuntun petunjuk Ilahi, duhai makhluk yang terbaik

Shalawat dan salam semoga tercurahkan atasmu

Duhai penolong kebenaran, ya Rasulullah

Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu

Wahai Yang Memperjalankanmu di malam hari Dialah Yang Maha Melindungi

Engkau memperoleh apa yang kau peroleh sementara semua manusia tidur

Semua penghuni langit melakukan shalat di belakangmu
dan engkau menjadi imam

Engkau diberangkatkan ke Sidratul Muntaha karena kemulianmu

dan engkau mendengar suara ucapan salam atasmu

Duhai yang paling mulia akhlaknya, ya Rasulullah

Semoga shalawat selalu tercurahkan padamu, pada keluargamu dan sahabatmu.

Hukum Sholawat Tarhim

Dikutip dari Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah-KTB, dalil membaca sholawat tarhim saat subuh menurut sebagian besar ulama boleh dengan beberapa catatan :

1.Ada unsur mengingatkan untuk beribadah (التنبيه في العبادة) seperti yang terjadi pada bulan Ramadhan.

2.Tidak berdampak negatif secara syari’at, semisal mengganggu kenyamanan orang yang sedang tidur dll.

3.Digunakan sesuai dengan kebutuhan.

Rasulullah SAW bersabda:

وخرج الترمذي من حديث عبد الله بن محمد بن عقيل، عن الطفيل بن أبي بن كعب، عن أبيه، ان النبي - صلى الله عليه وسلم - كان إذا ذهب ثلثا الليل قام، فقال: ((يأيها الناس، اذكروا الله، جاءت الراجفة تتبعها الرادفة، جاء الموت بما فيه، جاء الموت بما فيه)).وقال: حديث حسن.

Nabi shollallohu alaihi wasallam dulu ketika telah lewat dua pertiga malam beliau bangun dan bersabda : "Wahai, sekalian manusia, berdzikirlah kepada Allah, Pasti datang tiupan sangkakala pertama yang diikuti dengan yang kedua, datang kematian dengan kengeriannya, datang kematian dengan kengeriannya". Hadis hasan riwayat imam turmudzi.

Dalam hadis ini terdapat dalil bahwa dzikir dan tasbih secara jahr di akhir malam itu tidak masalah, tujuannya utk membangunkan orang yang tidur. Sebagian ulama' mengingkarinya dan menganggap bid'ah, misalnya Ibnul Jauzy, sedangkan hadis yang kami sebutkan menunjukkan bahwa itu bukanlah bid'ah.

Ketua PCINU Australia dan New Zealand, Prof Nadirsyah Hosen mengatakan, setiap mendengar shalawat tarhim, ingatannya melayang pada peristiwa Isra-Mi'raj Nabi Muhammad SAW. 

"Karena sesungguhnya shalawat yang sering diputar di masjid-masjid di tanah air itu menjelaskan peristiwa spiritual luar biasa," katanya dikutip iNews.id. 

Dia mengatakan, Rasulullah SAW menjadi mulia karena ber-akhlak dengan akhlak Allah. Saat kembali ke dunia, yang terlihat adalah ketinggian akhlak. 



Jumat, 12 Februari 2021

Puasa Rajab 2021: Bacaan Niat Puasa Rajab Mulai Sabtu, 13 Februari 2021 Disertai Keutamaan Berpuasa

Umat Islam sudah memasuki bulan Rajab, Sabtu (13/2/2021). Pada bulan Rajab, umat Islam dianjurkan untuk berpuasa. 

Ini bacaan niat dan keutamaannya.

Umat Islam sudah memasuki bulan Rajab, Sabtu (12/2/2021). Pada bulan Rajab, umat Islam dianjurkan untuk berpuasa. Ini bacaan niat dan keutamaannya.

 - Umat Islam sudah memasuki bulan Rajab, salah satu bulan yang dimuliakan.

Menurut perhitungan kalender Hijriyah, 1 Rajab 1442 H jatuh pada Sabtu (13/2/2021) hari ini

Bulan Rajab adalah bulan yang dimuliakan bersama dengan bulan Dzulqqidah, Dzulhijjah, dan Muharram.

Oleh karenanya, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, zikir, dan doa menjelang serta selama bulan Rajab.


Termasuk menjalankan puasa Rajab mulai Sabtu (13/2/2021) 

Berikut niat puasa Rajab dilengkapi lafal latin dan artinya:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ رَجَبَ لِلهِ تَعَالَى


Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnati Rajaba lillâhi ta‘âlâ.

Artinya: Aku berniat puasa sunah Rajab esok hari karena Allah SWT.

Baca juga: Bacaan Niat dan Keutamaan Puasa Rajab, Jatuh Pada 13 Februari 2021

Baca juga: Keutamaan Puasa Rajab yang Jatuh Pada 13 Februari 2021, Lengkap dengan Bacaan Niat


Rabu, 10 Februari 2021

KEKUATAN SEMANGAT (AZAM, CITA-CITA, IKHTIAR) TIDAK BERUPAYA MEMECAHKAN BENTENG TAKDIR.

KETEGUHAN BENTENG TAKDIR


Kalam Hikmat yang pertama menyentuh tentang hakikat amal yang membawa kepada pengertian tentang amal zahir dan amal batin. Ia mengajak kita memerhatikan amal batin (suasana hati) berhubung dengan amal zahir yang kita lakukan. Sebagai manusia biasa hati kita cenderung untuk menaruh harapan dan meletakkan pergantungan kepada keberkesanan amal zahir. Hikmat kedua memperjelaskan mengenainya dengan membuka pandangan kita kepada suasana asbab dan tajrid. Bersandar kepada amal terjadi kerana seseorang itu melihat kepada keberkesanan sebab dalam melahirkan akibat. Apabila terlepas daripada waham sebab musabab baharulah seseorang itu masuk kepada suasana tajrid.

Dua Hikmat yang lalu telah memberi pendidikan yang halus kepada jiwa. Seseorang itu mendapat kefahaman bahawa bersandar kepada amal bukanlah jalannya. Pengertian yang demikian melahirkan kecenderungan untuk menyerah bulat-bulat kepada Allah s.w.t. Sikap menyerah tanpa persediaan kerohanian boleh menggoncangkan iman. Agar orang yang sedang meninggi semangatnya tidak terkeliru memilih jalan, dia diberi pengertian mengenai  kedudukan asbab dan tajrid. Pemahaman tentang makam asbab dan tajrid membuat seseorang mendidik jiwanya agar menyerah kepada Allah s.w.t dengan cara yang betul dan selamat bukan menyerah dengan cara yang melulu.

Hikmat ke tiga ini pula mengajak kita merenung kepada kekuatan benteng takdir yang memagar segala sesuatu. Ketika membincangkan tentang ahli tajrid, kita dapati ahli tajrid melihat kepada kekuasaan Tuhan yang meletakkan keberkesanan kepada sesuatu sebab dan menetapkannya dalam melahirkan akibat Ini bermakna semua kejadian dan segala hukum mengenai sesuatu perkara berada di dalam pentadbiran Allah s.w.t. Dia yang menguasai, mengatur dan mengurus setiap makhluk-Nya. Urusan ketuhanan yang menguasai, mengatur dan mengurus atau suasana pentadbiran Allah s.w.t itu dinamakan takdir. Tidak ada sesuatu yang tidak dikuasai, diatur dan diurus oleh Allah s.w.t. Oleh itu tidak ada sesuatu yang tidak termasuk di dalam takdir.

Manusia terhijab daripada memandang kepada takdir kerana waham sebab musabab. Kedirian seseorang menjadi alat sebab musabab yang paling berkesan menghijab pandangan hati daripada melihat kepada takdir. Keinginan, cita-cita, angan-angan, semangat, akal fikiran dan usaha menutupi hati daripada melihat kepada kekuasaan, aturan dan urusan Tuhan. Hijab kedirian itu jika disimpulkan ia boleh dilihat sebagai hijab nafsu dan hijab akal. Nafsu yang melahirkan keinginan, cita-cita, angan-angan dan semangat. Akal menjadi tentera nafsu, menimbang, merancang dan mengadakan usaha dalam menjayakan apa yang dicetuskan oleh nafsu. Jika nafsu inginkan sesuatu yang baik, akal bergerak kepada kebaikan itu. Jika nafsu inginkan sesuatu yang buruk, akal itu juga yang bergerak kepada keburukan. Dalam banyak perkara akal tunduk kepada arahan nafsu, bukan menjadi penasihat nafsu. Oleh sebab itulah di dalam menundukkan nafsu tidak boleh meminta pertolongan akal.

Dalam proses memperolehi penyerahan secara menyeluruh kepada Allah s.w.t terlebih dahulu akal dan nafsu perlu ditundukkan kepada kekuatan takdir. Akal mesti mengakui kelemahannya di dalam membuka simpulan takdir. Nafsu mesti menerima hakikat kelemahan akal dalam perkara tersebut dan ikut tunduk bersama-samanya. Bila nafsu dan akal sudah tunduk baharulah hati boleh beriman dengan sebenarnya kepada takdir.

Beriman kepada takdir seharusnya melahirkan penyerahan secara berpengetahuan bukan menyerah kepada kejahilan. Orang yang jahil tentang hukum dan perjalanan takdir tidak dapat berserah diri dengan sebenarnya kepada Allah s.w.t kerana disebalik kejahilannya itulah nafsu akan menggunakan akal untuk menimbulkan keraguan terhadap Allah s.w.t. Rohani orang yang jahil dengan hakikat takdir itu  masih terikat dengan sifat-sifat kemanusiaan biasa. Dia masih melihat bahawa makhluk boleh mendatangkan kesan kepada kehidupannya. Tindakan orang lain dan kejadian-kejadian sering mengacau jiwanya. Keadaan yang demikian menyebabkan dia tidak dapat bertahan untuk terus berserah diri kepada Tuhan. Sekiranya dia memahami tentang hukum dan peraturan Tuhan dalam perkara takdir tentu dia dapat bertahan dengan iman. Hadis menceritakan tentang takdir:

Seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah s.a.w, “Wahai Rasulullah, apakah iman?” Jawab Rasulullah s.a.w, “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya dan Hari Kemudian. Juga engkau beriman dengan Qadar baiknya, buruknya, manisnya dan pahitnya adalah dari Allah s.w.t”. { Maksud Hadis }

Pandangan kita sering keliru dalam memandang kepada takdir yang berlaku. Kita dikelirukan oleh istilah-istilah yang biasa kita dengar Kita cenderung untuk merasakan seolah-olah Allah s.w.t hanya menentukan yang asas sahaja sementara yang halus-halus ditentukan-Nya kemudian iaitu seolah-olah Dia  Melihat dan Mengkaji perkara yang berbangkit baharulah Dia membuat keputusan. Kita merasakan apabila kita berjuang dengan semangat yang gigih untuk mengubah perkara dasar yang telah Allah s.w.t tetapkan dan Dia Melihat kegigihan kita itu dan bersimpati dengan kita lalu Dia pun membuat ketentuan baharu supaya terlaksana takdir baharu yang sesuai dengan perjuangan kita. Kita merasakan kehendak dan tadbir kita berada di hadapan sementara Kehendak dan Tadbir Allah s.w.t mengikut di belakang. Anggapan dan perasaan yang demikian boleh membawa kepada kesesatan  dan kederhakaan yang besar kerana kita meletakkan diri kita pada taraf Tuhan dan Tuhan pula kita letakkan pada taraf hamba yang menurut telunjuk kita. Bagi menjauhkan diri daripada kesesatan dan kederhakaan yang besar itu kita perlu sangat memahami soal sunnatullah atau ketentuan Allah s.w.t. Segala kejadian berlaku menurut ketentuan dan pentadbiran Allah s.w.t. Tidak ada yang berlaku secara kebetulan. Ilmu Allah s.w.t meliputi yang awal dan yang akhir, yang azali dan yang abadi. Apa yang dizahirkan dan apa yang terjadi telah ada pada Ilmu-Nya.

Tidak ada sesuatu kesusahan (atau bala  bencana) yang ditimpakan di bumi, dan tidak juga yang menimpa diri kamu, melainkan telah sedia ada di dalam Kitab (pengetahuan Kami)  sebelum Kami menjadikannya; sesungguhnya  yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Ayat 22 : Surah al-Hadiid)

Maha Berkat (serta Maha Tinggilah kelebihan) Tuhan yang menguasai pemerintahan (dunia dan akhirat); dan memanglah Ia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu; - ( Ayat 1 : Surah al-Mulk )

Dan Yang telah mengatur (keadaan makhluk-makhluk-Nya) serta memberikan hidayah  petunjuk (ke jalan keselamatannya dan kesempurnaannya); ( Ayat 3 : Surah al-A’laa)

Dan Kami jadikan bumi memancarkan mataair-mataair (di sana sini), lalu bertemulah air (langit dan bumi) itu untuk (melakukan) satu perkara  yang telah ditetapkan. ( Ayat 12 : Surah al-Qamar )

Segala perkara, tidak kira apa istilah  yang digunakan, adalah termasuk dalam ketentuan Allah s.w.t. Apa yang kita istilahkan sebagai perjuangan, ikhtiar, doa, kekeramatan, mukjizat dan lain-lain semuanya adalah ketentuan Allah s.w.t. Pagar takdir mengelilingi segala-galanya dan tidak ada sebesar zarah pun yang mampu menembusi benteng takdir yang maha teguh. Tidak terjadi perjuangan dan ikhtiar melainkan perjuangan dan ikhtiar tersebut telah ada dalam pagar takdir. Tidak berdoa orang yang berdoa melainkan halnya berdoa itu adalah takdir untuknya yang sesuai dengan ketentuan Allah s.w.t untuknya. Perkara yang didoakan juga tidak lari daripada sempadan ketentuan Allah s.w.t. Tidak berlaku kekeramatan dan mukjizat melainkan kekeramatan dan mukjizat itu adalah takdir yang tidak menyimpang daripada pentadbiran Allah s.w.t. Tidak menghirup satu nafas atau berdenyut satu nadi melainkan ianya adalah takdir yang menzahirkan urusan Allah s.w.t pada azali.

Kami datang dari Allah dan kepada Allah kami kembali.

Segala perkara datangnya dari Allah s.w.t atau Dia yang mengadakan ketentuan tanpa campurtangan sesiapa pun. Segala perkara kembali kepada-Nya kerana Dialah yang mempastikan hukum ketentuan-Nya terlaksana tanpa sesiapa pun mampu menyekat urusan-Nya.

 Apabila sudah difahami bahawa usaha, ikhtiar, menyerah diri dan segala-galanya adalah takdir yang menurut ketentuan Allah s.w.t, maka seseorang itu tidak lagi berasa bingung sama ada mahu berikhtiar atau menyerah diri. Ikhtiar dan berserah diri sama-sama berada di dalam pagar takdir. Jika seseorang menyedari makamnya sama ada asbab atau tajrid maka dia hanya perlu bertindak sesuai dengan makamnya. Ahli asbab perlu berusaha dengan gigih menurut keadaan hukum sebab-akibat. Apa juga hasil yang muncul dari usahanya diterimanya dengan senang hati kerana dia tahu hasil itu juga adalah takdir yang ditadbir oleh Allah s.w.t. Jika hasilnya baik dia akan bersyukur kerana dia tahu bahawa kebaikan itu datangnya dari Allah s.w.t. Jika tidak ada ketentuan baik untuknya nescaya tidak mungkin dia mendapat kebaikan. Jika hasil yang buruk pula sampai kepadanya dia akan bersabar kerana dia tahu apa yang datang kepadanya itu adalah menurut ketentuan Allah bukan tunduk kepada usaha dan ikhtiarnya. Walaupun hasil yang tidak sesuai dengan seleranya  datang kepadanya tetapi usaha baik yang dilakukannya tetap diberi pahala dan keberkatan oleh Allah s.w.t sekiranya dia bersabar dan rela dengan apa juga takdir yang sampai kepadanya itu.

 Ahli tajrid pula hendaklah reda dengan suasana kehidupannya dan tetap yakin dengan jaminan Allah s.w.t. Dia tidak harus merungut jika terjadi kekurangan pada rezekinya atau kesusahan menimpanya. Suasana kehidupannya adalah takdir yang sesuai dengan apa yang Allah s.w.t tentukan. Rezeki yang sampai kepadanya adalah juga ketentuan Allah s.w.t. Jika terjadi kekurangan atau kesusahan maka ia juga masih lagi di dalam pagar takdir yang ditentukan oleh Allah s.w.t. Begitu juga jika terjadi keberkatan dan kekeramatan pada dirinya dia harus melihat itu sebagai takdir yang menjadi bahagiannya.

Persoalan takdir berkait rapat dengan persoalan hakikat. Hakikat membawa pandangan daripada yang banyak kepada yang satu. Perhatikan kepada sebiji benih kacang. Setelah ditanam benih yang kecil itu akan tumbuh dengan sempurna, mengeluarkan beberapa banyak buah kacang. Buah kacang tersebut dijadikan pula benih untuk menumbuhkan pokok-pokok kacang yang lain. Begitulah seterusnya sehingga kacang yang bermula dari satu biji benih menjadi jutaan juta kacang. Kacang yang sejuta tidak ada bezanya dengan kacang yang pertama. Benih kacang yang pertama itu bukan sahaja berkemampuan untuk menjadi sebatang pokok kacang, malah ia mampu mengeluarkan semua generasi kacang sehingga hari kiamat. Ia hanya boleh mengeluarkan kacang, tidak benda lain.

Kajian akal boleh memperakui bahawa semua kacang mempunyai zat yang sama, iaitu zat kacang. Zat kacang pada benih pertama serupa dengan zat kacang pada yang ke satu juta malah ia adalah zat yang sama atau yang satu. Zat kacang yang satu itulah ‘bergerak’ pada semua kacang, mempastikan yang kacang akan menjadi kacang, tidak menjadi benda lain. Walaupun diperakui kewujudan zat kacang yang mengawal pertumbuhan kacang namun, zat kacang itu tidak mungkin ditemui pada mana-mana kacang. Ia tidak berupa dan tidak mendiami mana-mana kacang, tetapi ia tidak berpisah dengan mana-mana kacang. Tanpanya tidak mungkin ada kewujudan kacang. Zat kacang ini dinamakan “Hakikat Kacang”. Ia adalah suasana ketuhanan yang mentadbir dan mengawal seluruh pertumbuhan kacang dari permulaan hingga kesudahan, sampai ke hari kiamat. Hakikat Kacang inilah suasana pentadbiran Allah s.w.t yang Dia telah tentukan untuk semua kejadian kacang. Apa sahaja yang dikuasai oleh Hakikat Kacang tidak ada pilihan kecuali menjadi kacang.

Suasana pentadbiran Allah s.w.t yang mentadbir dan mengawal kewujudan keturunan manusia pula dinamakan “Hakikat Manusia” atau “Hakikat Insan”. Allah s.w.t telah menciptakan manusia yang pertama, iaitu Adam a.s menurut Hakikat Insan yang ada pada sisi-Nya. Pada kejadian Adam a.s itu telah disimpankan bakat dan keupayaan untuk melahirkan semua keturunan manusia sehingga hari kiamat. Manusia akan tetap melahirkan manusia kerana hakikat yang menguasainya adalah Hakikat Manusia.

Pada Hakikat Manusia itu ada hakikat yang menguasai satu individu manusia dan hubungkaitnya dengan segala kejadian alam yang lain. Seorang manusia yang berhakikatkan “Hakikat Nabi” pasti menjadi nabi. Seorang manusia yang berhakikatkan “Hakikat Wali” pasti akan menjadi wali. Suasana pentadbiran Allah s.w.t atau hakikat itu menguasai roh yang berkaitan dengannya. Roh bekerja mempamerkan segala maklumat yang ada dengan hakikat yang menguasainya. Kerja roh adalah menjalankan urusan Allah s.w.t iaitu menyatakan hakikat yang ada pada sisi Allah s.w.t.

Dan katakan: “ Roh itu dari perkara urusan Tuhanku”. ( Ayat 85 : Surah Al-Israa’ )

Pentadbiran Allah s.w.t menguasai roh dan mengheret roh kepada mempamerkan ketentuan-Nya yang berada pada azali. Allah s.w.t telah menentukan hakikat sesuatu sejak azali lagi. Tidak ada perubahan pada ketentuan Allah s.w.t. Segala sesuatu dikawal oleh hakikat yang pada sisi Allah s.w.t. Unta tidak boleh meminta menjadi kambing. Beruk tidak boleh meminta menjadi manusia. Manusia tidak boleh meminta menjadi malaikat. Segala ketentuan telah diputuskan oleh Allah s.w.t.

Surat Al-Fil Ayat 1-5, Arab, Latin dan Artinya

 

Dalam Tafsir Al-Misbah Jilid 15, Prof. Dr.M. Quraish Shihab menjelaskan tentang surat Al-Fil yang memiliki arti gajah. Surat ini menjelaskan tentang uraian kegagalan upaya ekspansi yang dilakukan oleh Abrahah al-Asyram al-Habasyi dengan pasukan bergajahnya yang dikerahkan dari arah Yaman menuju Mekah untuk menghancurkan Ka'bah.

Al-Biqai juga berpendapat bahwa tujuan utama dari surat Al-Fil adalah pembuktian tentang kebenaran uraian pada akhir surah yang lalu menyangkut kebinasaan para pendurhaka.

Surat Al-Fil merupakan surat yang ke-19 dari perurutan turunannya. Surat ini turun sesudah surat Quraisy.

Berikut surat Al-Fil ayat 1-5:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَٰبِ ٱلْفِيلِ
Latin: "a lam tara kaifa fa'ala rabbuka bi`aṣ-ḥābil-fīl"
1. Artinya: "Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?"

أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِى تَضْلِيلٍ
Latin: "a lam yaj'al kaidahum fī taḍlīl"
2. Artinya: "Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka'bah) itu sia-sia?"

وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ
Latin: "wa arsala 'alaihim ṭairan abābīl"
3. Artinya: "dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong."

تَرْمِيهِم بِحِجَارَةٍ مِّن سِجِّيلٍ
Latin: "tarmīhim biḥijāratim min sijjīl"
4. Artinya: "yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar"

فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَّأْكُولٍۭ
Latin: "fa ja'alahum ka'aṣfim ma`kụl"
5. Artinya: "lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)."

Itulah surah Al-Fil beserta artinya yang bisa kita baca. Kandungan dari surat Al-Fil ini ialah mempertanyakan tentang bagaimana Allah memperlakukan Ashhab Al-Fil dan akhirnya menyatakan akibat buruk yang mereka alami karena perlakuan Allah itu, yakni mereka binasa bagaikan daun-daun yang telah dimakan ulat.






(lus/erd)

Selasa, 09 Februari 2021

Semua manusia pasti akan merasakan mati

Dalam keyakinan Islam, setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Kedatangan maut adalah pasti, baik cepat maupun lambat.

Sebagai orang beriman, kita tentunya harus menyiapkan diri menyongsong ajal sehingga kematian kita husnul khatimah (akhir yang baik) dan kelak menjadi penghuni surga.

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya,” (QS Ali Imran: 185).

Dengan kata lain, setiap manusia di mana pun dia berada, akan merasakan maut lewat berbagai cara. Kehidupan ini hanyalah persinggahan sementara, sehingga kita tidak boleh tertipu dengan gemerlapnya dunia.

Waktu yang singkat tersebut harus digunakan untuk memupuk amal baik karena hanya itulah yang akan menjadi penyelamat kita di akhirat. Amal baik tersebut bisa dalam bentuk ibadah salat, puasa, ilmu yang bermanfaat, anak yang berbakti, dan sedekah.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang melakukan demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: ‘Ya, Rabbku. Mengapa Engkau tidak menangguhkanku (dari kematian) sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh.’ Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan,” (QS al-Munafiqun: 9-11).

Sebagai orang beriman kita harus mengamalkan perintah Allah SWT tersebut supaya kelak bisa menjadi salah satu hamba yang beruntung masuk ke dalam surga-Nya. Jangan sampai, kita malah mengabaikan larangan-Nya dan terjebak dalam balutan maksiat, sehingga menjadi penghuni neraka. Untuk itu, tidak ada salahnya kita menambah ilmu dari tausiah para guru.

Senin, 25 Januari 2021

Agar Aku Sukses Menuntut Ilmu Carilah Teman yang Mendukungmu Belajar Agama.

Agar Aku Sukses Menuntut Ilmu (Bag. 12): Carilah Teman yang Mendukungmu Belajar Agama


Bismillah 

Teman seperjuangan dalam mencari ilmu

Bagi manusia sebagai makhluk sosial, berteman adalah kebutuhan primer. Tentu saja, seorang pelajar agama, butuh mencari teman seperjuangan. Teman yang bisa menyemangati, menginspirasi, dan membantunya dalam perjuangan mencari ilmu.

Saat Anda wahai penuntut ilmu, telah mendapatkan teman yang baik yang sama-sama berjuang mencari ilmu, maka itu adalah rizki yang sangat berharga. Tanda bahwa kesuksesan Anda dalam menuntut ilmu, akan semakin dekat.

Syaikh Shalih Al-‘Ushaimi hafidzahullah mengatakan,

ولا يحسن بمقاصد العلا إلا انتخاب صحبة صالحة تعينه فإن للخليل في خليله أثرا

“Cita-cita mulia tidak akan bisa diraih, kecuali dengan mencari teman yang baik, yang dapat membantunya. Karena teman itu memiliki pengaruh.” (Khulashah Ta’dhim Al-‘Ilmi, hal. 35)

Dalam sebuah hadis riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Maka perhatikanlah, dengan siapa kalian berteman.”

Raghib Al-Ashfahani rahimahullah mengatakan,

ليس إعداء الجليس لجليسه بمقاله وفعاله فقط, بل بالنظر إليه

“Pengaruh buruk teman bukan sekedar dengan ucapan atau perbuatannya, namun cukup dengan melihatnya.” (Khulashah Ta’dhim Al-‘Ilmi, hal. 35)

Ibnu Mani’ rahimahullah di dalam kitab Irsyad At-Thullab menulis nasihat khusus untuk penuntut ilmu,

ويحذر كل الحذر من مخالطة السفهاء وأهل المجون والوقاحة وسيئي السمعة والأغبياء والبلداء, فإن مخالطتهم سبب الحرمان وشقاوة الإنسان

“Hindari berteman dengan orang-orang kurang akal, banyak melawak, tidak sopan, buruk perangai, dungu, dan keras kepala. Berteman dengan mereka hanya akan menyebabkan kita gagal.” (Khulashah Ta’dhim Al-‘Ilmi, hal. 36)

Baca Juga: Pilihlah Teman yang Baik di Sosmed

Apa tujuan berteman?

Ada tiga macam niat orang dalam berteman, sebagaimana dipaparkan Syaikh Shalih Al-‘Ushaimi hafidzahullah dalam Khulashah Ta’dhim Al-‘Ilmi:

Pertama, karena kemuliaannya.

Kedua, karena kepentingan (manfaat) duniawi.

Ketiga, karena senang dan nyaman.

Pilihlah niat yang pertama sebagai alasan dalam berteman. Yaitu bertemanlah karena kemuliaan orang yang kita jadikan teman, bukan karena kepentingan duniawi atau sekedar kesenangan atau kenyamanan. Kemuliaaan di sini bukan kemuliaan materi, tapi kemulian iman dan akhlaknya.



Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/60573-agar-aku-sukses-menuntut-ilmu-bag-12-carilah-teman-yang-mendukungmu-belajar-agama.html

Jumat, 22 Januari 2021

Empat Alam yang Dilalui Manusia

 

Jumat 22 Januari 2021 

Syukuran :
Ibu Fitria / bapa Wiguna putra ke tiga RT 02/RW 09 Binaharapan kecamatan Arcamanik Bandung.

Ada empat alam yang dialami oleh manusia. 

Alam pertama adalah alam dzuriyah, di mana manusia masih berada dalam rahim ibu. 

Karena itu, ibu menjadi kunci dalam kehidupan kita. 

"Seperti yang dijelaskan dalam pepatah bahwa syurga di bawah telapak kaki ibu. 

Kalau ibu merasa ridha akan apa yang kita kerjakan, maka pekerjaan kita akan dilancarkan. 

Begitupun sebaliknya,"  Oleh karena itu ada tradisi yang sudah biasa, pada usia empat bulan dalam kandungan, yaitu masa ditiupnya ruh kedalam rahim ibu.

Dan dalam usia tujuh bulan, dianjurkan untuk berdoa kepada Allah swt agar si jabang bayi selamat dan menjadi anak yang salih-salihah. 

Alam yang kedua adalah alam dunia. 

Ketika keluar dari rahim ibu, langsung dibacakan adzan di telinga bayi, agar bayi tidak kaget dengan dunia yang banyak maksiat dan sangat berbeda dengan alam dzuriyah. 

Makanya bayi pasti menangis ketika baru dilahirkan. 

"Alam dunia merupakan alam tempat manusia bercocok taman amal kebaikan untuk dipanen diakhirat,"

Selanjutnya alam yang ketiga adalah alam barzakh (alam kubur). 

di alam ini merupakan alam antara dunia dan akhirat. 

Setiap orang pasti mengalaminya. 

Jika tidak mendapat kubur yang nikmat (raudhatun min riyadiljannah), maka akan mendapat kubur seperti jurang api neraka. 

Adapun alam keempat adalah alam akhirat, yaitu ditandai dengan hari kiamat. 

Di dalamnya terdapat yaumul baats (hari berbangkit), yaumul mizan (hari pertimbangan amal)," terangnya.

 (yachyayusliha@gmail.com)