Jumat, 10 Juli 2020

KISAH ULAMA BESAR KI BARSISO

Kisah Tragis Kyai Barseso, Ahli Ibadah yang Tergoda Tipu Daya Setan


Ilustrasi Kiai Barseso tergoda tipu daya setan
Ilustrasi Kiai Barseso tergoda tipu daya setan

 - Berikut ini kisah Kyai Barseso, ahli ibadah yang wafat dalam keadaan su'ul khotimah (penghabisan yang buruk).

Kisah Barseso ini cukup terkenal di kalangan umat muslim Indonesia, khususnya kalangan pesantren.

Barseso diceritakan semula adalah seorang alim.

Ia ahli ibadah yang tidak pernah meninggalkan perintah Tuhan.

Suatu ketika setan tertarik untuk menggodanya.

Berupaya untuk menjerumuskan Barseso dalam kesesatan.

Setan pun dengan segala tipu daya berusaha menggoda Barseso.

Berikut ringkasan kisahnya dipetik dari kitab Mashaibul Insan Min Makaid Syaithan karya Syaikh Al Maqdisi Al Hanafi.

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu menceritakan:

Ada seorang ahli zuhud bernama Barseso.

Halaman
1234

6 Tanda Kiamat Menurut Rasulullah SAW


Hari Kiamat (Ilustrasi)
Hari Kiamat (Ilustrasi)

 

Oleh : Ustadz Yachya Yusliha

Hari kiamat pasti terjadi. Hanya saja, kapankah peristiwa itu akan berlangsung? Allah SWT sajalah yang mengetahui. Tak ada satu pun makhluk di alam semesta, termasuk malaikat, yang mampu memprediksikan waktu kiamat. Bahkan, Nabi Muhammad SAW yang menjadi kekasih-Nya pun tidak diberi informasi yang jelas. 

Hal tersebut ditegaskan Allah dalam Surat al-A’raf ayat 187. “Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang kiamat, kapankah terjadinya? Katakanlah sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat hanya ada pada sisi Tuhanku. Tiada seorang pun yang mengetahui waktu kedatangannya selain Dia.” 

Tidak dapat dimungkiri bahwa kita saat ini hidup di akhir zaman. Berbagai peristiwa telah mengisyaratkan bahwa bumi semakin tua. Cuaca semakin tidak menentu dan sulit diprediksi. Berbagai bencana, seperti gempa bumi, gunung meletus, badai, dan banjir kerap terjadi di berbagai penjuru dunia. 

Ini ditambah dengan gejala pemanasan global (global warming) yang makin mengkhawatirkan. Dalam kehidupan sosial, berbagai kejadian memilukan juga sering terjadi akhir-akhir ini. Misalnya pembunuhan, pemerkosaan, perang saudara, korupsi, dan berbagai bentuk kebejatan moral lainnya. Hal tersebut melanda di berbagai penjuru dunia. Banyak yang mengatakan berbagai kejadian tersebut merupakan pertanda kiamat sudah dekat. 

Dan memang, meskipun kiamat adalah suatu rahasia besar, tapi Allah memberikan sejumlah isyarat atau tanda kepada manusia bahwa saatnya telah dekat. Butuh kepekaan hati untuk bisa membaca tanda-tanda tersebut. Buku karya ulama besar Ibu Katsir ini mengungkap banyak hal tentang kiamat. Antara lain, tentang tanda-tanda kedatangannya. 

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, “Segeralah beramal baik sebelum terjadi enam tanda kiamat. Yaitu, matahari terbit dari arah ia terbenam, dajjal, asap tebal, satwa melata bicara (dabbah), petaka (kematian spesifik) perorangan, dan petaka umum (kiamat besar).” (HR Ahmad). 

Dalam hadis lainnya Rasulullah menjelaskan,” Ada enam tanda kiamat. Yaitu kematianku, pembebasan Baitul Maqdis, kematian akibat penyakit di dada (wabah binatang), harta benda melimpah sehingga orang memberi 100 dinar masih membuat yang diberi marah, petaka menimpa semua rumah bangsa Arab dan gencatan senjata antara kalian dengan keturunan kuning (bangsa Romawi). Namun, mereka berkhianat dan menyerang kalian melalui delapan puluh panji, yang masingmasing dengan 12 ribu orang.” 

Hal lain yang banyak dibicarakan orang terkait dengan kiamat adalah kemunculan Dajjal. Dalam Alquran dan hadis banyak digambarkan tentang Dajjal. Antara lain, dari Abu Hurai rah, Rasulullah bersabda, “Kiamat tidak akan terjadi sehingga muncul 30 kaum Dajjal sang pendusta. Semuanya mengaku sebagai utusan Allah, harta benda melimpah, timbul banyak petaka, dan ke kacauan merebak. Sahabat bertanya, ‘kekacauan seperti apa?’ Beliau menjawab, ‘pembunuhan, pembunuhan, dan pembunuhan’.” 

Dr Muhammad Nu’aim Yasin mengatakan, di antara tanda-tanda kiamat besar (kubra) adalah munculnya sosok makhluk yang oleh Rasulullah dinamai Dajjal. Disebut Dajjal karena terlalu banyak menipu dan mendusta, mengaku diri sebagai Tuhan, berupaya terus melepaskan manusia dari agamanya melalui berbagai cara yang luar biasa dan hal-hal yang menakjubkan dengan izin Allah. 

Akibatnya, sebagian manusia teperdaya. Namun, Allah akan menyelamatkan orang-orang yang beriman sehingga mereka selamat dari tipu daya dan penyesatan Dajjal. Dengan ketentuan Allah, kemudian timbul fitnah atau petaka akibat ulah Dajjal. Lalu, Allah menurunkan Nabi Isa yang akan membunuhnya. 

Pembahasan tentang turunnya Nabi Isa juga dibahas panjang lebar dalam buku ini. Juga tentang kemunculan Ya’juj dan Ma’juj, satwa melata keluar dari bumi dan menyapa manusia, matahari terbit dari arah tenggelam, asap tebal yang mengepul di akhir zaman. Selain itu, juga tentang apa yang telah dan belum terjadi terkait tibanya saat kiamat dan gambaran umat akhir zaman.

 

Kamis, 09 Juli 2020

Derajat Manusia Sama di Hadapan Tuhan?


Ada sebagian orang yang menyatakan,

Manusia sebagai ciptaan tuhan, memiliki derajat yang mana saja di tuhan yang ada. Sama satu sama lain, tidak bisa saling berhubungan benar. Apalagi meremehkan orang lain.

Mohon kritik untuk kalimat ini ...

Jawab:

Bismillah adalah shalatu adalah salamu 'ala Rasulillah, amma ba'du,

Salah satu upaya setan untuk menyesatkan manusia adalah dengan membisikkan kalimat-kalimat indah, namun membantah. Seolah itu benar, padahal isinya kesesatan. Itulah kalimat-kalimat racun, yang diperjuangkan liberal untuk menghancurkan aqidah kaum muslimin.

Allah mengingatkan,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ ُ ْ ُ ُ ُ ُ ُ ُ ُ

“Demikianlah Kami jadikan musuh bagi setiap nabi, yaitu setan-setan (dan jenis) manusia dan (dan jenis) jin, mereka saling membisikkan bagi yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk diperbantukan (manusia).” (QS. Al-An'am: 112)

Dari jawab yang Anda sampaikan, isinya campuran. Ada yang baik dan ada yang sesat. Tentu saja disetujui berdasarkan dalil, bukan berdasarkan kaca mata liberal.

Kita akan melihat lebih dekat,

Pertama , “Manusia sebagai makhluk ciptaan tuhan”

Kalimat ini benar, diterima oleh semua manusia yang diterima Pencipta alam semesta. Ada banyak dalil dalam al-Quran yang menyebutkan hal ini. mengingat firman Allah,

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

Allah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian kerjakan. (QS. As-Shaffat: 96)

Kedua , "memiliki derajat yang hanya ada di tuhan"

Jelas ini tidak benar. Karena manusia tidak sama derajatnya di hadapan Allah.

Bahkan salah satu yang sangat banyak di bahas dalam al-Quran adalah perbedaan antara penduduk surga dan penduduk neraka.

Daftar Pustaka

Tidaklah sama penghuni surga dengan penghuni jannah; orang yang beruntung. (QS. Al-Hasyr: 20)

Jelas yang berbeda,

قُلْ لَا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ

Katakanlah: "Tidak sama yang buruk dengan yang baik, tapi yang bervariasi itu yang buruk, itu yang menarik hatimu." (QS. Al-Maidah: 100)

Allah menyebut orang mukmin dengan khoirul bariyah (menemukan yang terbaik) dan Allah menyebut orang kafir dengan Syarrul bariyyah (membuat terjelek),

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ ِ ُ ُّ َّ َّ َّ ِ ِ إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir adalah ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di implementasi. Mereka itu seburuk-buruk koleksi. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu sebaik-baiknya membuat. (QS. Al-Bayyinah: 6 - 7)

Bahkan Allah membedakan antara orang berilmu dan orang yang tidak berilmu,

Baca lebih lanjut

Sampaikan, dapatkan sama antara orang yang tahu dan orang yang tidak tahu. (QS. Az-Zumar: 9).

Ketiga , “biarkan satu sama lain, tidak boleh saling membutuhkan benar”

Tidak semua pembenaran layak dipertimbangkan orang lain. Atau tidak menerima pendapat orang lain. Kita semua yakin 2 x 3 = 6. Ketika ada anak kelas 1 SD yang memberikan jawaban salah, kemudian Pak Guru meluruskan, tentu saja bukan berarti Pak Guru meremehkan anak itu atau tidak menerima pendapatnya.

Allah memberi kita akal untuk menimbang setiap informasi yang kita terima. Mencapai manusia bisa mencapai derajat kebenaran Sepenuhnya. 3 + 1 = 4, itu sesuai dengan dasar pemikiran manusia.

Demikian pula ini berlaku dalam masalah agama.

Setiap muslim wajib benar dengan agama dan keyakinan yang dia miliki. Karena membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah, itu membuktikan iman.

Allah menghargai orang mukmin yang tidak ragu dengan kebenaran imannya,

إنما المؤمنون الذين آمنوا بالله ورسوله ثم لم يرتابوا وجاهدوا بأموالهم وأنفسهم في سبيل الله أولئك هم الصادقون

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka adalah orang-orang yang benar. (QS. Al-Hujurat: 15)

Allah menghargai orang mukmin yang membenarkan al-Quran,

والذين آمنوا وعملوا الصالحات وآمنوا بما نزل على محمد وهو الحق من ربهم كفر عنهم سيئاتهم وأصلح بالهم

Orang-orang mukmin dan beramal soleh serta beriman kepada apa yang berasal dari Muhammad dan meminta yang haq dari Tuhan mereka, Allah menginstalkan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka . (QS. Muhammad: 2)

Mengundurkan diri, Allah memerintahkan kita untuk membahas orang yang menyimpang dari ajaran islam,

قاتلوا الذين لا يؤمنون بالله ولا باليوم الآخر ولا يحرمون ما حرم الله ورسوله ولا يدينون دين الحق من الذين أوتوا الكتاب حتى يعطوا الجزية عن يد وهم صاغرون

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (orangutan) yang diberikan Al -Kitab untuk mereka, sampai mereka membayar jizyah (upeti) dengan patuh sedang mereka dalam keadaan membayar. (QS. At-Taubah: 29)

Ketika ada yang mengaku mukmin, namun dia masih meragukan kebenaran rukun iman, meragukan kebenaran al-Quran dan hadis shahih, menganggap itu bukan kebenaran, maka dia belum mukmin.

Allahu a'lam.



Minggu, 19 April 2020

Awal Puasa 1 Ramadhan 1441 H versi NU & Muhammadiyah Diprediksi Sama Jumat 24 April 2020



ramadan-ilustrasi.jpg
Awal Bulan Puasa 1 Ramadhan 1441 H ditetapkan PP Muhammadiyah pada Jumat 24 April 2020. Lalu bagaimana dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)?

Menurut Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kemungkinan awal Ramadhan 2020 bakal sama dengan ketetapan PP Muhammadiyah yakni hari Jumat 24 April 2020.

Sebelumnya, PP Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadhan 1441 H jatuh pada Jumat, 24 April 2020. Hal ini tertuang dalam Maklumat PP Muhammadiyah Nomor 01/MLM/I.0/E/2020 yang diunggah di situs resmi PP Muhammadiyah.

Dan sesuai kalender NU, seperti diterbitkan PWNU Jatim juga mencantumkan 1 Ramadhan 1441 H diperkirakan mulai Jumat (24/4/2020).

Rabu, 15 April 2020

24 Sya'ban 1441 H. 17 April 2020 M. Tafsir surat Al-Baqarah ayat 22

Allah SWT berfirman:

الَّذِى جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرٰشًا وَالسَّمَآءَ بِنَآءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَأَخْرَجَ بِهِۦ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزْقًا لَّكُمْ  ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
allazii ja'ala lakumul-ardho firoosyaw was-samaaa`a binaaa`aw wa anzala minas-samaaa`i maaa`an fa akhroja bihii minas-samarooti rizqol lakum, fa laa taj'aluu lillaahi andaadaw wa antum ta'lamuun

"(Dialah yang telah menjadikan) menciptakan (bagimu bumi sebagai hamparan), yakni hamparan yang tidak begitu keras dan tidak pula begitu lunak sehingga tidak mungkin didiami secara tetap (dan langit sebagai naungan) sebagai atap (dan diturunkan-Nya dari langit air hujan lalu dikeluarkan-Nya daripadanya) maksudnya bermacam (buah-buahan sebagai rezeki bagi kamu) buat kamu makan dan kamu berikan rumputnya pada binatang ternakmu (maka janganlah kamu adakan sekutu-sekutu bagi Allah), artinya serikat-serikat-Nya dalam pengabdian (padahal kamu mengetahui) bahwa Dia adalah pencipta, sedangkan mereka itu tidak dapat menciptakan apa-apa, maka tidaklah layak disebut dan dikatakan tuhan."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 22)


23 sya'ban 1441 H TAFSIR SURAT AL-BAQARAH AYAT 21


Quran Surat Al-Baqarah Ayat 21 Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

 يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعْبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُمْ وَٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ 

Arab-Latin: Yā ayyuhan-nāsu'budụ rabbakumullażī khalaqakum wallażīna ming qablikum la'allakum tattaqụn Terjemah Arti: Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, Tafsir Quran Surat Al-Baqarah Ayat 21 21. 

Wahai manusia! Sembahlah Rabb kalian semata, tanpa menyembah yang lain, karena Dia lah yang telah menciptakan kalian dan umat-umat terdahulu. 

Semoga penyembahan itu bisa menjadi penghalang antara kalian dan azab-Nya, dengan cara menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. 

Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram) Ini adalah panggilan dari Allah bagi manusia secara keseluruhan: “beribadahlah kepada Allah yang telah mengurusi kalian dengan nikmat-nikmat Nya dan takutlah kepadanya serta Jangan melanggar aturan agama Nya.

 Sungguh Dia telah mengadakan kalian dari ketiadaan dan juga mengadakan orang-orang sebelum kalian dengan harapan kalian menjadi manusia yang bertakwa yang diridhoi Allah dan kalian pun Ridho kepada Nya. Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia 21-22.

 Setelah Allah menjelaskan tiga golongan manusia, Dia kemudian menyeru mereka untuk mengikrarkan peribadatan kepada-Nya; sebab Dialah yang menciptakan mereka dan seluruh manusia sebelum mereka sejak masa nabi Adam. 

Penegasan hal yang agung imi agar mereka dapat meraih derajat orang-orang bertakwa yang takut kepada Allah, supaya mendapat pahala yang besar dan keselamatan dari azab yang pedih. 

Penciptaan Nabi Adam dan keturunannya ini setelah Allah menciptakan langit dan bumi; Allah menjadikan bumi layak untuk dihuni dengan menciptakan di dalamnya rezeki dan berbagai kenikmatan, dan menjadikan langit sebagai atap yang terjaga dan rezeki yang baik berupa air hujan yang dapat menumbuhkan buah-buahan di bumi yang juga menjadi rezeki bagi binatang-binatang yang ada di atasnya. 

Dengan air tersebut tumbuhlah berbagai tanaman yang berpasang-pasangan, dan menjadi tempat merumput berbagai jenis binatang. Jika Allah merupakan Dzat yang memberi rezeki kepada manusia maka wajib bagi mereka untuk mengesakan-Nya dalam rasa syukur dan peribadatan. 

Oleh sebab itu Allah melarang hamba-hamba-Nya dari kesyirikan dengan membuat sesembahan selain-Nya, seperti menyembah para nabi atau orang-orang sholih, menyembah kuburan atau patung, atau menyembah hewan, semua perbuatan ini merupakan dosa yang paling besar yaitu kesyirikan.

 Padahal manusia memiliki ilmu sebagaimana yang mereka akui, maka selayaknya mereka mengetahui bahwa Allah Sang Pencipta dan Pemberi nikmat berhak untuk diesakan dalam peribadatan. 

Dalam hadits shahih dari Ibnu Mas'ud bahwa ia bertanya kepada Nabi: "Dosa apa yang paling besar?" Nabi menjawab: "Engkau membuat sekutu bagi Allah, padahal Dia telah menciptakanmu." (shahih Bukhari: tafsir surat al-Baqarah, no. 4477.

 Dan shahih Muslim: kitab iman, bab syirik adalah dosa yang paling buruk, 1/90 no. 86) Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah 21. 

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ 

(Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu) Dalam ayat ini Allah mengkhususkan penyebutan nikmat penciptaan yang telah Dia berikan kepada manusia, karena segala kenikmatan yang lain berasal dari kenikmatan ini. 

Dan juga karena orang-orang kafir mengakui bahwa Allah-lah yang menciptakan mereka. 

Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: 

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ 

Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah” Oleh sebab itu Allah menyebutkan kenikmatan yang mereka akui dan tidak mereka ingkari kemudian Allah memerintah mereka untuk beribadah kepada-Nya. 

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah Diantara keindahan yang terkandung dalam kata ( رب ) adalah : 

bahwasanya perintah yang pertama dalam al-Qur'an ditafsirkan oleh : 

{ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ } maka difahami bahwa sebab utama dari perintah beribadah adalah tuhanmu. 

Li Yaddabbaru Ayatih / Markaz Tadabbur di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, professor fakultas syari'ah Universitas Qashim - Saudi Arabia Wahai manusia! Beribadahlah hanya kepada Allah yaitu Dzat yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelum kamu yaitu umat-umat terdahulu agar kamu mewaspadai siksaNya dan mendapatkan ridhaNya Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah Ini adalah awal pertama kali seruan Allah kepada makhluk seluruhnya ; dimana Allah memerintahkan mereka agar beribadah kepada-Nya saja tanpa menyekutukannya. 

Dialah Allah yang berhak diibadahi , dan ibadah ini adalah maksud yang agung dari maksud diciptakannya manusia , Allah memerintahkan mereka untuk ibadah karena sebab Allah adalah Rabb mereka, di mana Allah menjadikan mereka ada yang sebelumnya mereka tiada . 

Allah juga memerintahkan kepada mereka untuk ibadah agar mereka menjadi orang-orang yang bertakwa, di mana tujuan mereka bertaqwa adalah untuk menjauhi azab Allah dengan mengerjakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. An-Nafahat Al-Makkiyah / Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi 21. Ini adalah perintah yang bersifat umum bagi seluruh manusia dengan sebuah perintah yang umum, yaitu ibadah yang mencakup menaati perintah-perintah Allah, menjauhi larangan-laranganNya, dan mempercayai kabar-kabarNya. Allah ta’ala memerintahkan mereka kepada tujuan diciptakannya mereka. 

"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." (QS. Ad-Dzariyat : 56) Kemudian Allah mengemukakan dalil yang menunjukkan kewajiban beribadah kepadaNya semata, yaitu karena Dia-lah Rabb kalian yang telah menganugrahkan kepada kalian berbagai macam nikmat, lalu Dia menciptakan kamu setelah (sebelumnya) kamu tidak ada dan Dia juga menciptakan orang-orang sebelum kamu. Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H Makna kata : ٱلنَّاسُ An-Nas adalah Manusia, lafadz yang menunjukkan bentuk jamak dimana tidak memiliki bentuk tunggal yang selafadz. 

Untuk menunjukkan satu orang digunakan kata Insan. ٱعۡبُدُواْ U’buduu : Taatilah dengan keimanan dan mengharapkan pahala dalam melakukan perintah dan menjauhi larangan, disertai dengan kecintaan dan pengagungan yang penuh kepada Allah. رَبَّكُمُ Rabbakum : Sang Pencipta kalian dan Penguasa kalian, serta Sesembahan kalian yang benar. خَلَقَكُمۡ Kholaqokum : Mengadakan kalian dari ketiadaan dengan takdir yang besar. تَتَّقُونَ Tattaquun : Agar kalian bertakwa dengan membuat penjagaan yang melindungi dari adzab Allah. 

Hal tersebut dapat dicapai dengan keimanan dan amalan sholeh setelah meninggalkan syirik dan kemaksiatan. Makna ayat : Bentuk korelasi dengan ayat yang sebelumnya bahwa Allah Ta’ala menyebutkan keadaan orang mukmin yang beruntung, juga keadaan orang kafir yang merugi, lantas menyebutkan keadaan orang munafik yang mana mereka berada di antara golongan orang mukmin lagi jujur dan golongan orang kafir lagi merugi. 

Kemudian Allah memanggil seluruh golongan itu dengan panggilan umum yaitu “wahai sekalian manusia” agar merata kepada seluruh makhluk di setiap tempat dan waktu. Setelah itu Allah Ta’ala memerintahkan mereka untuk beribadah kepadaNya untuk menjaga diri dari kerugian. Memberitahukan kepada manusia tentang diriNya agar mereka mengetahui keagungan dan kesempurnaanNya, supaya lebih mudah untuk menyambut seruanNya lantas beribadah kepadaNya sehingga bisa selamat dari adzabNya serta meraih keridhoan dan surgaNya. 

Pelajaran dari ayat : 

1. Kewajiban beribadah kepada Allah Ta’ala, yang mana itulah alasan kehidupan bagi seluruh makhluk. 

2. Kewajiban mengenal Allah dengan nama-nama dan sifat-sifatNya.

 Aisarut Tafasir / Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mudarris tafsir di Masjid Nabawi Ayat ini merupakan seruan Allah kepada semua manusia agar beribadah kepada Allah yang mengurus mereka dengan nikmat-nikmat-Nya dan agar mereka takut kepada-Nya serta tidak menyelisihi agama-Nya. 

Dialah yang mengadakan mereka yang sebelumnya tidak ada, Dia pula yang mengadakan orang-orang sebelum mereka. 

Ayat "agar kamu bertakwa" bisa maksudnya bahwa jika kita beribadah kepada Allah saja, berarti kita telah menjaga diri dari kemurkaan dan siksa-Nya, bisa juga maksudnya bahwa jika kita beribadah kepada Allah, kita dapat menjadi orang-orang yang bertakwa.

 Kedua maksud tersebut adalah benar, oleh karena itu barangsiapa yang beribadah kepada Allah Ta'ala secara sempurna maka ia tergolong sebagai orang-orang yang bertakwa, dan jika tergolong orang-orang yang bertakwa, maka ia akan memperoleh keselamatan dari azab Allah dan kemurkaan-Nya. 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I Setelah menjelaskan tiga golongan manusia dalam menyikapi kebenaran Al-Qur'an, yaitu orang-orang bertakwa, kafir, dan munafik, selanjutnya Allah menyeru kepada manusia secara umum agar beragama secara benar melalui tiga hal: hanya beribadah kepada Allah (ayat 21-22), percaya kepada risalah yang dibawa oleh nabi Muhammad, yakni Al-Qur'an, (ayat 23-24), dan beriman kepada hari kebangkitan (ayat 25). 

Wahai manusia! sembahlah dan beribadahlah secara tulus kepada tuhanmu sebab dia yang telah menciptakan dan memelihara kamu dan orang-orang yang sebelum kamu dari yang sebelumnya tiada. 

Dia adalah satu-satunya pencipta segala sesuatu. 

Perintah beribadah itu ditujukan agar kamu bertakwa dan dapat memelihara diri serta terhindar dari murka dan siksa Allah. 

Dengan beribadah, berarti kita telah mempersiapkan diri untuk mengagungkan Allah, sehingga jiwa menjadi suci dan tunduk kepada kebenaran. 

Sesungguhnya dialah yang dengan kekuasaan-Nya menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu sehingga layak dan nyaman untuk dihuni, dan menjadikan di atas kamu langit dan benda-benda yang ada padanya sebagai atap, atau sebagai bangunan yang cermat, indah, dan kukuh. 

Dan dialah yang menurunkan sebagian dari air, yaitu air hujan, dari langit yang menjadi sumber kehidupan. 

Lalu dia hasilkan dengan air itu sebagian dari buah-buahan sebagai rezeki untukmu. 

Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah yang telah menciptakan sedemikian rupa dan telah memberimu rezeki, padahal kamu dengan fitrah kesucian yang ada dalam diri mengetahui bahwa Allah tidak ada yang menyerupai-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan tidak ada yang memberi rezeki selain-Nya, maka janganlah kamu menyimpang dari fitrah itu. 

Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI Alqomah dan mujahid berkata “setiap ayat yang awalnya “يا أيها الناس” maka ayat tersebut diturunkan di Mekah, dan setiap ayat yang diawali dengan kalimat “يا أيها الذين آمنوا”  maka ayat tersebut diturunkan di Madinah. 

Alqurtubi membantah pendapat ini dengan mengatakan bahwa dalam surat Al-Baqoroh dan surat An-Nisa ada ayat yang diawali dengan kalimat “يا أيها الناس” padahal dua surat ini merupakan surat yang diturunkan di Madinah. 

Adapun pendapat mereka tentang يا أيها الذين آمنوا  maka hal itu shohih. ‘

Urwah bi az-Zubair berkata, tidak ada satu aturan atau kewajiban pun yang ada dalam alquran kecuali diturunkan di Madinah, dan adapun surat-surat yang menyebutkan tentang kisah-kisah umat terdahulu dan tentang azab nya kecuali diturunkan di Mekah” Dalam ayat ini menyeru dengan kalimat “يا أيها الناس” “wahai manusia”. Para ulama berbeda pendepat mengenai makna kalimat ini menjadi dua pendapat. 

Pertama, yang Allah seru dalam ayat ini adalah orang-orang kafir yang tidak menyembah-Nya. 

Hal ini ditunjukan oleh ayat-ayat berikutnya yaitu : 

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ 

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar (QS. Al-Baqoroh : 23) berdasarkan ayat di atas Jelaslah bahwa yang dimaksud oleh Allah dalam seruan-Nya adalah orang-orang kafir. 

Kedua, yang dimaksud dalam seruan Allah pada ayat ini adalah umum untuk seluruh manusia, maka jadilah makna seruannya sebagai perintah mendawamkan ibadah bagi orang-orang mukmin dan perintah untuk memulai ibadah untuk orang-orang kafir. 

Dan pendapat ini sangat bagus. 
Allah meyuruh manusia untuk beribadah kepadanya, dan yang dimaksud dengan ibadah dalam ayat ini adalah Tauhid dan berpegang teguh pada syariat agama Allah.

Pokok dari ibadah adalah ketundukan dan kepatuhan kepada yang diibadahi. 

Ibnu tayimiyah mengatakan bahwa ibadah adalah satu nama yang mencakup segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridoi-Nya baik ucapan, perbuatan. 

Baik yang dzohir ataupun yang tersembunyi.

Dalam ayat ini juga Allah menegaskan ke-uluhiyahan-Nya sehingga hanya Dia-lah satu-satu yang berhak mendapat penyembahan seluruh makhluk. 

Selain itu juga Allah mempertegas ke-rububiyahan-Nya, yaitu bahwa Dia-lah yang telah menciptakan seluruh makhluk, tidak ada yang mampu menciptakan sesuatu dari ketidak adaan menjadi ada kecuali Allah ‘azza wa jalla. 

Dengan demikian jelaslah salah satu alasan kuat kenapa Allah memerintahkan seluruh manusia untuk beribadah kepada-Nya, yaitu karena Dia-lah yang menciptakan mereka dan orang-orang sebelum mereka. 

Dan tujuan dari penciptaan ini tiada lain adalah penyembahan total dari yang dicipta kepada Sang Pencipta, sebagaimana firman-Nya :

 وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ 

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. 

(QS. Adz-Dzariyat : 56) Adapun tujuan pelaksanaan ibadah untuk manusia adalah supaya mereka menjadi orang-orang yang bertaqwa. 

Maksudnya, dengan melaksanakan ketauhidan dan segala konsekwensinya serta berpegang teguh terhadap syariat-syariat agama, maka akan membuat diri menjadi takut kepada Allah ta’la dan membuat adanya penghalang yang menjaga anatara dirinya dengan neraka Allah. 

Ketaqwaan adalah sesuatu yang dijadikan sebagai alat ukur kemuliaan manusia di hadapan Allah, semakin kuat manusia melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, maka semakin besar ketakwaannya dan semakin mulia kedudukannya dihadapan Allah ta’ala.

Selasa, 14 April 2020

TAFSIR SURAT AL-BAQARAH AYAT 5 - 20


TAFSIR AL-QURAN

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 15-20 

Allah Ta’ala berfirman:

اللّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

“Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.” (QS Al-Baqarah [2]: 15)

Maksudnya adalah Allah Ta’ala menangguhkan waktu untuk mereka agar lebih berat lagi siksaannya. Dan ini bahwa tanda seseorang yang diinginkan keburukan oleh Allah yaitu itu Allah biarkan dia dengan kesesatannya, Allah tidak menyiksanya di dunia, tapi semua siksaannya ditangguhkan kelak di dalam api neraka.

Allah Ta’ala juga berfirman:

اللّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ، أُوْلَـئِكَ الَّذِينَ اشْتَرُوُاْ الضَّلاَلَةَ بِالْهُدَى فَمَا رَبِحَت تِّجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُواْ مُهْتَدِينَ، مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَاراً فَلَمَّا أَضَاءتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لاَّ يُبْصِرُونَ، صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لاَ يَرْجِعُونَ


“Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka. Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk. Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api , maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta , maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar).” (QS Al-Baqarah [2]: 16-18)

أَوْ كَصَيِّبٍ مِّنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصْابِعَهُمْ فِي آذَانِهِم مِّنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ واللّهُ مُحِيطٌ بِالْكافِرِينَ، يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ كُلَّمَا أَضَاء لَهُم مَّشَوْاْ فِيهِ وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُواْ وَلَوْ شَاء اللّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ إِنَّ اللَّه عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir,sebab takut akan mati . Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” (QS Al-Baqarah [2]: 19-20)

Ustadz Yachya Yusliha