Jumat, 23 November 2018

Hukum Masbuk

MA’MUM MASBUQ

Pertanyaan
Seseorang yang masbuq mendapatkan imam sedang membaca pertengahan surat Al Fatihah atau surat setelah Al Fatihah, atau ia mendapatkan imam ketika ruku’. Pertanyaannya: Apakah ia mendapat raka’at itu?

(Katanya Al Albani berpendapat, bahwa orang yang masbuq itu mendapat raka’at itu. Ana belum membaca alasan-alasan yang dikemukakan oleh beliau rahimahullah. Tapi sekiranya benar beliau berpendapat demikian, bagaimana dengan hadits-hadits yang ada pada ana:

عَنْ عُقْبَةَ ابْنِ عَامِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنْ أَدْرَكْتَ الْقَوْمَ رُكُوْعًا لَمْ تُعْتَدَّ بِتِلْكَ
الرَّكْعَةَ. رواه اليخاري

مَنْ أَدْرَكَ الْإِمَامَ فِي الرُّكُوْعِ فَلْيَرْكَعْ مَعَهُ وَالْيُعِدِ الرَّكْعَةَ. رواه الترمذي

Adli Shidqie bin Minhat dari Malaysia,
Santri Persatuan Islam 1 Bandung.

Jawaban.
Memang benar, bahwa Syaikh Al Albani rahimahullah berpendapat demikian. Yaitu dalam kitab Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no: 229. Adapun alasan beliau ialah riwayat dari para sahabat yang -Insya Allah- sebagiannya akan kami sebutkan.

Dalam masalah: ma’mum masbuq (terlambat) mendapati imamnya ruku’, apakah dihitung mendapatkan raka’at? Telah terjadi perbedaan pendapat diantara ulama, yaitu ada dua pendapat ulama.

PENDAPAT PERTAMA.
Mendapatkan raka’at. Karena ma’mum masbuq (terlambat) dapat raka’at, jika dia mendapatkan ruku’ bersama imam, sebelum imam menegakkan tulang punggungnya.

Ini merupakan pendapat mayoritas ulama Salaf (dahulu) dan Khalaf (yang datang kemudian). Demikian juga pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambal, serta disepakati para pengikut madzhab empat. Hal ini juga diriwayatkan dari para sahabat: Ali, Ibnu Mas’ud, Zaid, dan Ibnu Umar. Pendapat ini juga dirajihkan oleh Imam Ibnu Abdil Barr, Imam Nawawi, Ash Shan’ani, Asy Syaukani pada pendapat kedua, Syaikh Bin Baaz, Syaikh Al Albani dan lainnya. [1]

Pendapat inilah yang lebih kuat, insya Allah.

Adapun diantara dalil-dalil pendapat ini ialah:

Hadits dari Al Hasan:

عَنْ أَبِي بَكْرَةَ أَنَّهُ انْتَهَى إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ رَاكِعٌ فَرَكَعَ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ إِلَى الصَّفِّ (ثُمَّ مَشَي إِلَى الصَّفِّ ) فَذَكَرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا وَلاَ تَعُدْ

Dari Abu Bakrah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa dia sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sedang ruku’, lalu dia ruku’ sebelum sampai ke shaf (lalu dia berjalan menuju shaf). Kemudian dia menyebutkan hal itu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau bersabda, “Semoga Allah menambahkan semangat terhadapmu, dan janganlah engkau ulangi.” [HR Bukhari, no. 783. Tambahan dalam kurung riwayat Abu Dawud no. 684]

Para ulama berbeda pendapat tentang makna sabda Nabi وَلاَ تعد , karena dapat dibaca:

a. وَلاَ تُعِدْ janganlah engkau mengulangi). Sehingga maknanya “janganlah engkau mengulangi shalatmu, karena sudah sah”.

b. وَلاَ تَعْدُ janganlah engkau berlari; terburu-buru.

c. وَلاَ تَعُدْ janganlah engkau kembali). Sehingga maknanya “janganlah engkau kembali terburu-buru memasuki ruku’ sebelum sampai di shaf”. Atau “janganlah engkau kembali terlambat”.

Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata,“Maknanya menurut ahli ilmu ialah,’Semoga Allah menambahkan semangat terhadapmu menuju shalat, dan janganlah engkau kembali terlambat dari shalat’.” [2]

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,“Bahkan larangan itu kembali kepada apa yang telah disebutkan sebelumnya. Yaitu: ruku’ sebelum sampai shaf.” [3]

Demikian juga Ash Shan’ani memahami sebagaimana Ibnu Qudamah tersebut.[4]

Tetapi pendapat Ibnu Qudamah rahimahullah ini tertolak dengan banyaknya atsar (riwayat) dari para sahabat yang melakukan hal ini. Seperti: Abu Bakar Ash Shiddiq, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Mas’ud, dan Abdullah bin Zubair. Yaitu ketika mereka mendapatkan imam dalam keadaan ruku’, maka mereka bertakbir lalu ruku’, dan berjalan ke shaf dalam keadaan ruku’. Riwayat-riwayat itu shahih dan disebutkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah no. 229, yang -insya Allah- sebagiannya akan kami sebutkan di bawah nanti.

Ash Shan’ani rahimahullah berkata: Telah diperselisihkan oleh ulama, tentang makmum yang mendapatkan imam ruku’, lalu dia ruku’ bersama imam. Apakah gugur (kewajiban) membaca Al Fatihah pada raka’at itu bagi orang yang mewajibkan Al Fatihah, sehingga dihitung mendapatkan raka’at itu. Atau tidak gugur, sehingga tidak dihitung mendapatkan raka’at. Ada yang berpendapat: raka’at itu dihitung, karena dia mendapatkan imam sebelum imam mengangkat punggungnya. Ada juga yang berpendapat: itu tidak dihitung, karena Al Fatihah telah terlepas darinya.

Kami telah membicarakan hal itu dalam masalah tersendiri. Dan yang lebih kuat -menurut kami- ialah mencukupi (yaitu dihitung dapat raka’at, red.). Diantara dalilnya, ialah hadits Abu Bakrah, yang dia ruku’ ketika orang-orang lain ruku, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membenarkannya atas hal itu.” [5]

Apapun makna kalimat di atas, di dalam hadits ini nyata, bahwa Abu Bakrah menjadi ma’mum masbuq mendapatkan imam (yaitu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) sedang ruku’, lalu dia ruku’ bersama imam, dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkannya menambah raka’at lagi. Demikianlah dalil dalam masalah ini.

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salla :

إِذَا جِئْتُمْ إِلَى الصَّلاَةِ وَنَحْنُ سُجُودٌ فَاسْجُدُوا وَلاَ تَعُدُّوهَا شَيْئًا وَمَنْ أَدْرَكَ الرَّكْعَةَ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ

Jika kamu mendatangi shalat, padahal kami sedang sujud, maka sujudlah, dan janganlah kamu menghitungnya sesuatu (mendapatkan raka’at). Dan barangsiapa mendapatkan raka’at (ruku’), maka dia mendapatkan shalat. [HR Abu Dawud no. 893. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud 1/169].

Sabda Nabi : Barangsiapa mendapatkan raka’atan (raka’at atau ruku’), maka dia mendapatkan shalat, dapat bermakna:

a. Orang yang shalat mendapatkan satu raka’at kemudian waktunya habis, maka shalatnya sah.
b. Ma’mum masbuq mendapatkan satu raka’at terakhir dari shalat jama’ah, maka dia mendapat pahala shalat jama’ah tersebut.
c. Ma’mum masbuq mendapatkan ruku’ bersama imam, sebelum imam bangkit dari ruku’nya, dia mendapatkan raka’at tersebut.

Makna ketiga ini sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain dengan lafazd

مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلاَةِ فَقَدْ أَدْرَكَهَا قَبْلَ أَنْ يُقِيْمَ الْإِمَامُ صُلْبَهُ

Barangsiapa mendapatkan rak’atan (ruku’) [6], maka dia mendapatkan shalat, sebelum imam menegakkan tulang punggungnya. [HR Abu Dawud no. 893. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud 1/169]

Zaid bin Wahb berkata,“Aku keluar bersama Abdullah –yakni: Ibnu Mas’ud- dari rumahnya menuju masjid. Ketika kami sampai di tengah masjid, imam ruku’. Lalu Abdullah bertakbir dan ruku’, dan aku ruku’ bersamanya. Kemudian dalam keadaan ruku’ kami berjalan sehingga sampai shaf, ketika orang-orang mengangkat kepala mereka. Setelah imam menyelesaikan shalatnya, aku berdiri, karena aku menganggap tidak mendapatkan raka’at. Namun Abdullah memegangi tanganku dan mendudukanku, kemudian berkata,“Sesungguhnya engkau telah mendapatkan (raka’at).” [7]

PENDAPAT KEDUA.
Tidak mendapatkan raka’at. Karena ma’mum masbuq (terlambat) mendapatkan raka’at, jika dapat membaca Al Fatihah, atau mendapatkan imam berdiri sebelum ruku’.

Di antara dalilnya ialah:
Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

Tidak (sah atau sempurna) shalat bagi orang yang tidak membaca fatihatul kitab. [HR Bukhari, no. 756; Muslim no. 394; dan lainnya dari Ubadah bin Ash Shamit].

Diantara ulama yang berpendapat demikian ialah Imam Bukhari, Ibnu Hazm, dan satu pendapat dari Asy Syaukani. [8]

Walaupun hadits ini shahih, namun tidak dapat dipakai sebagai dalil dalam masalah ini. Karena dalil-dalil dari pendapat pertama secara tegas menunjukkan, bahwa ma’mum yang mendapatkan imam ruku’, berarti ia mendapatkan raka’at tersebut. Wallahu a’lam.

Dengan keterangan di atas nampaklah, bahwa pendapat pertama lebih kuat. Wallahu a’lam.

Adapun hadits yang antum bawakan, yaitu:

Hadits Pertama

عَنْ عُقْبَةَ ابْنِ عَامِرٍ رَضِيَ الهُ: عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنْ أَدْرَكْتَ الْقَوْمَ رُكُوْعًا لَمْ تُعْتَدَّ بِتِلْكَ الرَّكْعَةَ

Dari Uqbah bin Amir Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika engkau mendapatkan orang-orang sedang ruku’, hal itu tidak dihitung raka’at.” [HR Bukhari].

Keterangan kami.
1. Kami sudah berusaha mencari hadits tersebut di dalam Shahih Bukhari, namun kami tidak mendapatkannya. Maka kami harap antum memberitahukan sumber pengambilan hadits tersebut. Perlu kita ingat, jangan sampai kita menisbatkan hadits yang tidak benar kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

2. Yang kami ketahui, riwayat di atas merupakan ucapan Abu Hurairah, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Khairul Kalam Fil Qira’ah Khalfal Imam. Dikenal dengan Juz ul Fil Qira’ah.

Imam Bukhari berkata:
Ma’qil bin Malik telah menceritakan kepada kami. Dia berkata,’Abu ‘Awanah telah menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin Ishaq, dari Abdurrahman bin Al A’raj, dari Abu Hurairah, dia berkata:

إِذَا أَدْرَكْتَ الْقَوْمَ رُكُوْعًا لَمْ تُعْتَدَّ بِتِلْكَ الرَّكْعَةَ

Dari Uqbah bin Amir Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Jika engkau mendapatkan orang-orang sedang ruku’, hal itu tidak dihitung raka’at.” [9]

Karena riwayat ini tidak diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya, maka tidak boleh dikatakan “riwayat Imam Bukhari” saja. Karena kebiasaan ulama ahli hadits, jika menyebutkan “riwayat Imam Bukhari”, itu berarti terdapat di dalam Shahihnya, yang memang hadits-hadits di dalamnya merupakan hadits-hadits shahih. Adapun jika suatu riwayat disebutkan oleh Imam Bukhari dalam selain kitab Shahihnya, maka harus disebutkan dengan lengkap, karena memang tidak ada jaminan keshahihan riwayat tersebut.

Adapun sanad riwayat ini, dha’if sebagaimana disebutkan Syaikh Al Albani dalam Silsilah Al Ahadits Shahihah no. 229. Kedha’ifan itu karena perawi bernama Ma’qil bin Malik dinyatakan matruk (ditinggalkan haditsnya) oleh Al Azdi. Tidak ada yang menganggapnya tsiqah (terpercaya), kecuali Ibnu Hibban. Sedangkan Ibnu Hibban terkenal tasahulnya (mempermudah menyatakan tsiqah terhadap perawi hadits). Demikian juga Muhammad bin Ishaq seorang mudallis (perawi yang sering menyamarkan hadits). Maka, ketika dia meriwayatkan dengan ‘an’anah (dari Fulan), riwayatnya tidak diterima; karena tidak menyebutkan secara tegas, bahwa dia menerima riwayat tersebut.

Kemudian seandainya riwayat ini shahih, tetapi bertentangan dengan pendapat para sahabat lainnya yang banyak dan lebih ’alim, maka (penjelasannyanya, red.) sebagaimana keterangan sebelum ini.

Hadits Kedua yang antum tanyakan.

مَنْ أَدْرَكَ الْإِمَامَ فِي الرُّكُوْعِ فَلْيَرْكَعْ مَعَهُ وَلْيُعِدِ الرَّكْعَةَ

Barangsiapa mendapatkan imam di dalam ruku’, hendaklah dia ruku’ ersamanya, dan hendaklah dia mengulangi raka’at. [HR Tirmidzi].

Jawaban kami:
Sebagaiman jawaban sebelumnya, kami sudah berusaha mencari hadits ini dalam Sunan Tirmidzi, namun tidak mendapatkannya. Maka kami harap antum memberitahukan sumber pengambilan hadits tersebut. Untuk memudahkan -kalau memungkinkan- secara lengkap, juz, halaman, dan nomor haditsnya. Wallahu a’lam.

KESIMPULAN
Dari keterangan di atas jelaslah, bahwa pendapat yang lebih kuat, jika ma’mum mendapatkan ruku’ imam, maka dia mendapatkan raka’at tersebut. Wallahu a’lam.

Kamis, 22 November 2018

10 Amalan hujan membawa rohmat

10 Amalan Menyambut Berkah Hujan [1]

Oleh: Ustadz Yachya Yusliha

HUJAN yang turun hari-hari belakangan ini kita rasakan nikmatnya dari Allah Ta’ala, dan menjadi pembicaraan banyak orang, mengandung banyak manfaat untuk makhluk-makhluk Allah Ta’ala yang bermukim di bumi ini.

Hujan sebagai Air Terbaik

Pertama, Al Quran menarik perhatian kita dengan pernyataan air hujan adalah tawar.

Allah Ta’ala berfirman :

أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاء الَّذِي تَشْرَبُونَ

أَأَنتُمْ أَنزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنزِلُونَ

“Wahai manusia apa pendapat kalian tentang air yang kalian minum? Apakah kalian yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkannya? Sekiranya Kami jadikan air hujan tersa asin lagi pahit, adakah kalian mampu mengubahnya menjadi air tawar? Mengapa kalian tidak mau mensyukuri nikmat Allah?.” (QS: Surat Al Waqi’ah (56): 68-70).

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لَّكُم مِّنْهُ شَرَابٌ وَمِنْهُ شَجَرٌ فِيهِ تُسِيمُونَ

“Dialah Tuhan yang menurunkan hujan dari langit bagi kalian. Diantara air hujan itu ada yang menjadi minuman, ada yang menumbuhkan pepohonan, dan ada pula yang menumbuhkan rerumputan yang menjadi makanan bagi ternak kalian.”(QS: Surat An-Nahl (16): 10)…

وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْراً بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ وَأَنزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُوراً

“Dia lah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih.” ( QS: Surat al-Furqan (25) : 48)

Seperti telah kita ketahui, air hujan berasal dari penguapan air dan 97% merupakan penguapan air laut yang asin. Namun, air hujan adalah tawar. Air hujan bersifat tawar karena adanya hukum fisika yang telah ditetapkan Allah. Berdasarkan hukum ini, dari mana pun asalnya penguapan air ini, baik dari laut yang asin, dari danau yang mengandung mineral, atau dari dalam lumpur, air yang menguap tidak pernah mengandung bahan lain. Air hujan akan jatuh ke tanah dalam keadaan murni dan bersih, sesuai dengan ketentuan Allah “

Air Hujan adalah Rahmat

قَالَ رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَمَا بَيْنَهُمَا إِن كُنتُمْ تَعْقِلُونَ

“Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy Syuura : 28).

Allah Ta’ala menurunkan hujan, lewat hujan itulah Allah memberi kehidupan bagi tanah yang mati. Di dalam Al Quran banyak ayat yang menyeru kepada kita agar memperhatikan bahwa hujan berguna untuk menghidupkan negeri (tanah) yang mati.

Air Hujan Menyuburkan Tanaman

Selain tanah diberi air, yang merupakan kebutuhan mutlak bagi makhluk hidup, hujan juga berfungsi sebagai penyubur. Tetesan hujan, yang mencapai awan setelah sebelumnya menguap dari laut, mengandung zat-zat tertentu yang bisa memberi kesuburan pada tanah yang mati. Tetesan yang “memberi kehidupan”.

Tetesan berisi “pupuk” ini naik ke langit dengan bantuan angin dan setelah beberapa waktu akan jatuh ke bumi sebagai tetesan hujan. Dari air hujan inilah, benih dan tumbuhan di bumi memperoleh berbagai garam logam dan unsur-unsur lain yang penting bagi pertumbuhan mereka.

وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْراً بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ وَأَنزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُوراً

لِنُحْيِيَ بِهِ بَلْدَةً مَّيْتاً وَنُسْقِيَهُ مِمَّا خَلَقْنَا أَنْعَاماً وَأَنَاسِيَّ كَثِيراً

“…Kami turunkan air hujan yang bersih dari langit. Dengan air hujan itu Kami suburkan tanah-tanah yang tadinya tandus. Dengan air hujan itu kami beri minum makhluk-makhluk Kami hewan  ternak dan segenap manusia.” (QS: Surat al-Furqan (25) : 48-49)..

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُّبَارَكاً فَأَنبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ

Kami turunkan air hujan yang berbarakah, banyak manfaatnya dari langit kemudian dengan air hujan itu Kami tumbuhkan kebun-kebun dan biji-bijian yang dapat dipanen.” (QS. Qaf (50): 9)..

Singkatnya, hujan adalah penyubur yang sangat penting. Dengan cara seperti ini, 150 juta ton pupuk jatuh ke permukaan bumi setiap tahunnya. Andaikan tidak ada pupuk alami seperti ini, di bumi ini hanya akan terdapat sedikit tumbuhan, dan keseimbangan ekologi akan terganggu.

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ مَهْداً وَسَلَكَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلاً وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ أَزْوَاجاً مِّن نَّبَاتٍ شَتَّى

Tuhan yang telah menciptakan bumi dengan permukaan datar bagi kalian, dan menjadikan kalian dapat berjalan di atas bumi itu dengan bermacam-macam jalan. Tuhan menurunkan hujan dari langit. Kamipun mennumbuhkan berbagai macam tumbuhan yang berpasang-pasangan.” (QS. Thaha (20) : 53).

Hujan Sebagai Keberkahan 

Hujan adalah air yang diturunkan dari langit dan penuh keberkahan. Allah Ta’ala berfirman :

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُّبَارَكاً فَأَنبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ

Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh keberkahan lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.” (QS. Qaaf (50) : 9).

Di antara keberkahan dan manfaat hujan adalah manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan sangat memerlukannya untuk keberlangsungan hidup, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقاً فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاء كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS. Al Anbiya’ (21) : 30).

Al Baghowi menafsirkan ayat ini, “Kami menghidupkan segala sesuatu menjadi hidup dengan air yang turun dari langit yaitu menghidupkan hewan, tanaman dan pepohonan. Air hujan inilah sebab hidupnya segala sesuatu.”

Jika air hujan disebut Al-Quran sebagai rahmat dan keberkahan, mengapa fakta menunjukkan air hujan menjadi musibah banjir di mana-mana?

Jawabannya sebagaimana yang telah difirmankan dalam surah al-Ruum, ayat 41;

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).* (bersambung)

 

Khutbah jum"at di balik musibah


KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.

“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”

أما بعد

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Mari kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Ta’ala dengan ketakwaan yang sebenar-benarnya, yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudia keluarga, sahabat-sahabatnya, serta pengikutnya sampai akhir zaman.

Jamaah Jumat rahimani wa rahimakumullah

Orang yang merenungi sunnatullah tentu akan mengetahui bahwa cobaan merupakan salah satu sunah (ketetapan) Allah yang bersifat kauniyyah qadariyyah (qadar Allah terhadap alam semesta). 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ اْلأَمْوَالِ وَاْلأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.

 Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah: 155)

Sungguh keliru orang yang beranggapan, bahwa hamba Allah yang paling shaleh adalah orang yang paling jauh dari cobaanbahkan cobaan merupakan tanda keimanan

Di dalam hadis disebutkan:

Dari Mush’ab bin Sa’ad, dari bapaknya, ia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah, “Siapakah orang yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab, “Para nabi, kemudian yang setelahnya dan setelahnya.

 Seseorang akan diuji sesuai kadar keimanannya. 

Siapa yang imannya tinggi, maka ujiannya pun berat, dan siapa yang imannya rendah maka ujiannya disesuaikan dengan kadar imannya.

 Ujian ini akan tetap menimpa seorang hamba sampai ia berjalan di bumi tanpa membawa dosa.” (HR. Tirmidzi)

Di samping itu, cobaan adalah salah satu tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ، وَإِنَّ اللهَ تَعَالَى إِذَا أَحَبَّ قَوْماً ابْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَي، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

Sesungguhnya besarnya pahala tergantung besarnya cobaan, dan Allah apabila mencintai suatu kaum, maka Allah akan menguji mereka.

 Barang siapa yang ridha, maka ia akan mendapatkan keridhaan-Nya dan barang siapa yang kesal terhadapnya, maka ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, Tirmidzi menghasankannya)

Demikian juga cobaan merupakan salah satu tanda diberikan oleh Allah kebaikan kepadanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوْبَةَ فِي الدُّنْيَا، وَإِذَا أَرَادَ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِىَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada hamba-Nya, maka Allah akan mempercepat hukuman di dunia. 

Dan apabila Allah menginginkan keburukan bagi hamba-Nya maka ditahan hukuman itu karena dosa-dosanya sehingga ia mendapatkan balasannya pada hari kiamat.” (HR. Tirmidzi)

Dan sebagai penebus dosanya, meskipun bentuknya kecil. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ مُصِيبَةٍ تُصِيبُ الْمُسْلِمَ إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا عَنْهُ ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا »

Tidaklah suatu musibah menimpa seorang muslim, melainkan Allah akan menggugurkan dosa-dosanya, meskipun hanya terkena duri.” (HR. Bukhari)

Sebaliknya, jika seseorang diberikan dunia ini namun tetap bergelimang di atas kemaksiatan, maka ketahuilah bahwa yang demikian merupakan istidraj (penangguhan azdab dari Allah)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِى الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلىَ مَعَاصِيْهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ ثُمَّ تَلاَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم “فَلَمَّا نَسُوا ….الاية.

Apabila kamu melihat Allah memberikan kenikmatan dunia yang disenangi kepada seorang hamba padahal ia berada di atas maksiat, maka sebenarnya hal itu adalah istidraj”, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  membacakan ayat:


”Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.

 (QS.Al An’aam: 44). (HR. Ahmad dengan isnad yang jayyid, Shahihul Jami’ no. 561)

Hikmah Adanya Musibah

Jamaah Jumat ‘azzaniyallhu wa iyyakum

Oleh karena itu, seorang muslim yang tertimpa musibah, jika ia seorang yang shaleh, maka cobaan itu menghapuskan kesalahan-kesalahan yang lalu dan mengangkat derajatnya.

 Namun jika ia seorang pelaku maksiat, maka cobaan itu akan menghapuskan dosa-dosanya dan sebagai peringatan terhadap bahaya dosa-dosa itu. 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَبَلَوْنَاهُم بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Dan Kami uji mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada Allah).”(QS. Al A’raaf: 168)

Yakni agar kembali beribadah kepada Allah, mengingat-Nya dan bersyukur terhadap nikmat-Nya.

Ibnul Qayyim berkata, “Kalau tidak karena cobaan dan musibah dunia, niscaya manusia terkena penyakit kesombongan, ujub (bangga diri), dan kerasnya hati. 

Padahal sifat-sifat ini merupakan kehancuran baginya di dunia maupun akhirat.

 Di antara rahmat Allah, kadang-kadang manusia tertimpa musibah yang menjadi pelindung baginya dari penyakit-penyakit hati dan menjaga kebersihan ibadahnya. 

Maha Suci Allah yang merahmati manusia dengan musibah dan ujian.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, Musibah yang diterima karena Allah semata, lebih baik bagimu dari pada nikmat yang membuat lupa mengingat-Nya.”

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُهُ العَظِيْمَ الجَلِيْلَ لِيْ وَلَكُمْ، وَلِجَمِيْعِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ؛ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

اَلحَمْدُ لِلّهِ الوَاحِدِ القَهَّارِ، الرَحِيْمِ الغَفَّارِ، أَحْمَدُهُ تَعَالَى عَلَى فَضْلِهِ المِدْرَارِ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الغِزَارِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ العَزِيْزُ الجَبَّارُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ المُصْطَفَى المُخْتَار، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ الطَيِّبِيْنَ الأَطْهَار، وَإِخْوَنِهِ الأَبْرَارِ، وَأَصْحَابُهُ الأَخْيَارِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ مَا تُعَاقِبُ اللَيْلَ وَالنَّهَار

 Di samping yang disebutkan di atas, hikmah musibah lainnya adalah:

Sebagai jalan menuju surga.

Surga adalah tempat yang penuh kenikmatan, tidak mungkin mencapainya dengan santai dan berleha-leha, bahkan untuk mencapainya di butuhkan kerja keras, penderitaan, kesabaran, dan kesungguhan. 

Orang-orang yang Anda lihat berharta banyak dan merasakan berbagai kenikmatan di dunia ini, ia mengawali hidupnya dengan kerja keras, penderitaan, kesabaran, dan kesungguhan, sehingga di akhirnya ia mendapatkan kekayaan dan kenikmatan.

 Nah, sekarang yang hendak Anda kejar adalah kenikmatan yang lebih baik dari itu, kenikmatan yang sesungguhnya, yang tidak memiliki kekurangan dan keterbatasan; hidup kekal tidak mati, senantiasa sehat tidak sakit, santai menikmati kesenangan yang ada tanpa susah payah mendapatkannya dsb.

Athaa’ pernah berkata: Ibnu Abbas berkata kepadaku, “Maukah kamu aku perlihatkan seorang wanita penghuni surga?” Aku (Athaa’) menjawab, “Ya.” Ia berkata, “Yaitu wanita hitam ini. 

Ia pernah datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan be

rkata, “Saya terkena penyakit ayan, dan jika sedang kambuh, auratku terbuka, maka berdoalah kepada Allah untukku!” Beliau bersada

 “Jika kamu mau bersabar, maka kamu akan masuk surga.

 Namun jika kamu mau, maka aku akan berdoa kepada Allah agar Dia menyembuhkanmu.” 

Wanita itu berkata, “Aku siap bersabar. Hanya saja jika sedang kambuh auratku terbuka. 

Oleh karena itu, berdoalah kepada Allah agar auratku tidak terbuka.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakanya

 (HR. Bukhari dan Muslim)


Di dalam hadis lain disebutkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila anak seorang hamba meninggal dunia, maka Allah akan berkata kepada para malaikat-Nya, ‘Apakah kalian telah mencabut nyawa anak hamba-Ku?’ Para malaikat menjawab, ‘Ya’. Allah berfirman, ‘Apakah kalian telah mengambil buah hatinya?’ Mereka menjawab, ‘Ya’. Allah berfirman, ‘Lalu apa yang diucapkan hamba-Ku?’ Mereka menjawab, ‘Dia memuji-Mu dan beristirja’ (mengucapkan “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun)’. Allah berfirman, ‘Bangunkanlah untuk hamba-Ku rumah di surga dan namailah dengan Baitul hamd (rumah pujian)’.” (Hasan, HR. Tirmidzi) 

Lihatlah wanita yang terkena musibah ayan ini, ia siap bersabar terhadap musibah sehingga membuatnya akan masuk surga.

Dalam hadis qudsi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِذَا ابْتَلَيْتُ عَبْدِى بِحَبِيبَتَيْهِ فَصَبَرَ عَوَّضْتُهُ مِنْهُمَا الْجَنَّةَ

Apabila Aku memberi cobaan kepada hamba-Ku dengan (dijadikan buta) kedua mata yang dicintainya, ia pun bersabar, maka Aku akan menggantinya dengan surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya sikap kesal dan keluh kesah, tidak dapat menghilangkan musibahmu, bahkan hanya menambah derita dan dosa.

Membawa keselamatan dari api neraka dan membersihkan dosa-dosa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang penyakit demam:

اَلْحُمَّى حَظُّ كُلِّ مُؤْمِنٍ مِنَ النَّارِ

Sakit demam itu menjauhkan setiap orang mukmin dari api neraka.” (HR. Al Bazzar, Silsilah Ash Shahiihah no. 1821)

Di dalam hadis lain disebutkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila menjenguk orang sakit berkata kepadanya, “Laa ba’sa thahuur insya Allah.” Artinya: Tidak apa-apa, penyakit itu akan membersihkan (dosa-dosamu) insya Allah. (HR. Bukhari)

Menyadari betapa besarnya nikmat sehat.

Seseorang akan merasakan nikmat sehat ketika sakit. 

Ketika seseorang sakit gigi misalnya, ia akan merasakan begitu nikmat gigi yang sehat.

 Ketika telinganya tersumbat sesuatu sehingga tidak dapat mendengar secara jelas, ia akan merasakan nikmatnya bisa mendengar dengan baik, dsb. 

Dengan demikian, ia pun dapat bersyukur dan merasakan begitu besarnya nikmat yang diberikan Allah kepada dirinya.

Membuat dirinya peka terhadap musibah yang menimpa saudaranya, sehingga ia pun mau membantu saudaranya.

Di dalam hadis qudsi disebutkan, bahwa Allah akan berfirman kepada anak cucu Adam pada hari kiamat:

يَا ابْنَ آدَمَ مَرِضْتُ فَلَمْ تَعُدْنِى . قَالَ يَا رَبِّ كَيْفَ أَعُودُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ . قَالَ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِى فُلاَنًا مَرِضَ فَلَمْ تَعُدْهُ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ عُدْتَهُ لَوَجَدْتَنِى عِنْدَهُ يَا ابْنَ آدَمَ اسْتَطْعَمْتُكَ فَلَمْ تُطْعِمْنِى . قَالَ يَا رَبِّ وَكَيْفَ أُطْعِمُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ . قَالَ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّهُ اسْتَطْعَمَكَ عَبْدِى فُلاَنٌ فَلَمْ تُطْعِمْهُ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ أَطْعَمْتَهُ لَوَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِى يَا ابْنَ آدَمَ اسْتَسْقَيْتُكَ فَلَمْ تَسْقِنِى .قَالَ يَا رَبِّ كَيْفَ أَسْقِيكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ قَالَ اسْتَسْقَاكَ عَبْدِى فُلاَنٌ فَلَمْ تَسْقِهِ أَمَا إِنَّكَ لَوْ سَقَيْتَهُ وَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِى

Wahai anak Adam, Aku sakit, namun mengapa kamu tidak menjenguk-Ku?” Anak Adam menjawab, “Ya Rabbi, bagaimana aku menjengukmu, sedangkan Engkau Tuhan semesta alam?” Allah berfirman, “Tidakkah kamu mengetahui bahwa hamba-Ku si fulan sedang sakit, tetapi kamu tidak menjenguknya. 

Kalau sekiranya kamu mau menjenguk, tentu kamu akan mendapati-Ku di dekatnya. 

Wahai anak Adam! Aku meminta makan kepadamu, namun mengapa kamu tidak memberi-Ku makan?” Ia berkata: “

Ya Rabbi, bagaimana aku memberi-Mu makan, padahal Engkau Tuhan semesta alam?” Allah berfirman, “Tidakkah kamu mengetahui bahwa hamba-Ku si fulan meminta makan kepadamu, tetapi kamu tidak memberinya. 

Kalau sekiranya kamu mau memberi, tentu kamu akan mendapatkan yang demikian di sisi-Ku. 

Wahai anak Adam! Aku meminta minum kepadamu, namun mengapa kamu tidak memberi-Ku minum?” Ia berkata, “Ya Rabbi, bagaimana aku memberi-Mu minum, padahal Engkau Tuhan semesta alam?” Allah berfirman, “Hamba-Ku si fulan telah meminta minum kepadamu, tetapi kamu tidak memberinya. 

Kalau sekiranya kamu mau memberinya minum, tentu kamu akan mendapatkan yang demikian itu di sisi-Ku.” (HR. Muslim)

Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan kita semua dan meringankan musibah yang kita hadapi serta memantapkan langkah-langkah kita. 

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهم بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهم اغْـفِـرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ،

 رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْـفِـرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. اللهم إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. 

اللهم إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ. وَآخِرُ دَعْوَانَا

أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَصَلى الله عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

 

Rabu, 21 November 2018

Apakah Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW Bi'dah? Simak Penjelasan Ustaz Abdul Somad


Minggu, 18 November 2018



Ustaz Abdul Somad mengisi tabligh akbar di Lapangan Tugu Darussalam, Banda Aceh, Selasa (3/7/2018). 

Terdapat dua pendapat mengenai hukum memperingati maulid Nabi Muhammad SAW.

Pertama, menyebut peringatan ini adalah bid'ah.

Pendapat kedua sebaliknya, yaitu memperbolehkan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW.

Lantas, harus pilih yang mana?

Ustaz Abdul Somad dalam ceramahnya menjelaskan terkait hukum memperingati maulid Nabi Muhammad SAW.

Menurutnya, ada sekitar 300 ribu hadist yang menerangkan bahwa peringatan maulid Nabi Muhammad SAW boleh dilakukan.

Adapun yang menganggap peringatan ini bid'ah, kata Abdul Somad, hanya sebagian kecil ulama Arab Saudi.

Dalam ceramahnya, Ustaz Abdul Somad memaparkan beberapa hadist serta pendapat ulama besar mengenai dasar diperbolehkannya maulid Nabi Muhammad SAW.

Salah satunya adalah Rasulullah SAW ternyata mengenang hari lahirnya sendiri.

Bukan setahun sekali, melainkan setiap minggu di hari senin.

Rasulullah SAW pernah ditanya mengapa melaksanakan puasa hari Senin.

Ma'rifat kepada Alloh swt


Makrifat kepada Allah

Bandung, 22/11/2018
Hubungan ilmu Allah dgn Manusia

Sebagaimana yg kita ketahui bahwa manusia dijadikan oleh Allah swt adalah untuk berbakti kepadanya dan untuk menyatakan diri pada zat, sifat, asma’ dan ap’alNya…(Bukan dijadikan untuk makan dan tidur..atau untuk bersuka ria…atau untuk menghisap darah…atau untuk berbuat maksi’at…atau melakukan segala kemungkaran demi kemungkaran lainnya).

Firman Allah Swt : “Tiada aku jadikan Jin dan manusia itu, melainkan untuk berbakti padaku” (Az-Azari’at -56).

“Jadi untuk berbakti kepada Allah, maka manusia haruslah mengenal Allah swt terlebih dahulu.”

Sabda Rasulullah Saw: “Bermula awal-awal kehidupan (ugama) adalah mengenal Allah swt.

Oleh itu untuk kita mengetahui makrifat kepada Allah, maka Allah memberi ilmu dan hidayahnya kepada manusia berupa akal dan keimanan.

Supaya manusia mengetahui akan hakikat…inilah tujuan sebenar-benarnya kita dizahirkan kedunia.

Dan sesungguhnya ilmu yg ada pada manusia adalah ilmu allah semata-mata.

Sebab pada hakikatnya kita manusia ini kosong,lemah tidak berdaya…bodoh dan tidak mengerti apapun…Firman Allah: “Laa Haulla Walla Quwata illa billah hi a’lyill adhzim”…artinya:

“Tiada daya dan upaya, melainkan daya upaya dan kehendak Allah jua”…

Firman Allah lagi:”Hai manusia…Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari tuhanmu, dan penyembuh bagi segala penyakit didalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (Yunus- 57).

Manusia sebenarnya langsung tidak berhak keatas sesuatu, melainkan hanya Allah sahajalah yang berhak atas segalanya.

Sedangkan dia sendiri pun hak allah.

Adapun ilmu Allah itu terbagi pada tiga bahagian:

(1) ILMU QALAM.
(2) ILMU GHAIB
(3) ILMU SYUHADAH

TUHAN itu bersifat AL-AKRAM :

Yaitu:…”Barang diminta barang diberi, barang dikehendak barang jadi.”

Firman Allah: “Dan sesungguhnya Allah itu memiliki Ilmu Ghaib dan ilmu Syuhadah (Al-Hasyri :22).

Dan yang boleh mencapai ilmu Ghaib ini hanyalah orang-orang yang mempelajari Ilmu Tasauf dan Saufi sahaja.

Ilmu Ghaib ini adalah tersangat luasnya, tak boleh didapati dgn jalan pemikiran atau akal kita yang bodoh.

Hanya boleh didapati dengan jalan keimanan seseorang sahaja.

Ilmu Ghaib boleh menguasai alam Saqir dan alam kabir.

Ilmu Ghaib boleh didapati oleh 2 golongan sahaja.

(1) Seorang manusia yang dipilih sendiri oleh Allah swt untuk dikurniakan ilmu Ghaib melalui penyampaian yang dinamakan LADUNI.

(2) Seorang manusia yang menemui jalan hakikat kepada Allah Swt melalui jalan berguru pada guru yang mursyid tentang hakikat dan makrifat.

Kemudian orang itu mendapat LADUNI melalui guru-guru Ghaib.

Maka bermulalah cara untuk mendapatkan ilmu-ilmu itu.

yang jalannya adalah dengan menyucikan jiwanya…dengan mengamalkan kaedah-kaedah hakikat, yaitu jalan menuju kepada Allah Swt.

Bertujuan hendak mendapatkan akal (ilmu ini) Haruslah menghancurkan ketulan-ketulan darah kotor dihujung jantung tempat kediaman IBLIS.

Bila sudah hancur barulah memancar Nur yang disebut NUR QHALBU yaitu: QHALBU MUKMININ BHAITULLAH artinya: “Hati orang-orang mu’minin itu istana ALLAH SWT.

Bila manusia ada akal, mesti dia ada iman…(tapi akal yang mana???) Keyakinan yang hakiki terhadap ALLAH SWT.

Firman Allah :”Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya dia akan diberi petunjuk kepada hatinya. (Al-Taqhaabun : 11)
Semangkin suci hatinya kepada Allah maka semangkin tinggilah tahap penerimaan ilmu ghaibnya.

Pengetahuan ilmu ghaib ini hanyalah dapat dilihat dengan mata basir.

Dapat didengar melalui telinga bathin.

Dapat merasai kelazatannya dengan perasaan hati yang hakiki bagi orang-orang ariffin billah.

Jikalau Nabi dan Rasul-Rasul Allah menerima wahyu dari Tuhan dengan 9 cara.

Maka ilmu ghaib diajar kepada orang-orang melalui LADUNI dengan 5 cara sahaja.

(1) DENGAN CARA NUR.
(2) DENGAN CARA TAJALLI.
(3) DENGAN CARA SIRR.
(4) DENGAN CARA SIRUSIRR.
(5) DENGAN CARA TAWASUL.

Firman Allah :”Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar (alam lain).”

Dan ini disifatkan oleh Rasulullah Saw sebagai orang mati sebelum mati.

Sabda Rasulullah Saw:” Matikan dirimu sebelum kamu mati.

“KETERANGAN”: Manusia yang hendak menuju kepada jalan allah Swt.

Hendaklah mengetahui keempat-empat ilmu ini…:yaitu: SYARI’AT, THA’RIKAT, HAKIKAT, MAKHRIFAT.

Manusia yang mengamalkan keempat-empat ilmu inilah yang akan menjadi manusia…

Keempat-empatnya harus bergerak serentak,seiring dan sejalan. Tidak boleh dipisahkan satu dengan sama lain.

Binasa satu maka binasalah semua….

Selasa, 20 November 2018

Kesatuan akidah


PENGERTIAN DAN KESATUAN AQIDAH

BAB 1

1.1  Pengertian Agama Islam

Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.

Agama berasal dari bahasa sansekerta, akar kata agama adalah “gam” yang mendapat awalan “a” dan akhiran “a” sehingga menjadi “a-gam-a”. Agama  artinya peraturan, tata cara, upacara hubungan manusia dengan Tuhan.

Secara etimologi islam berasal dari bahasa Arab, terambil dari kosakata “salima” yang berarti selamat sentosa. Kemudian dibentuk menjadi kata “aslama” yang berarti memelihara dalam keadaan selamat sentosa, yang berarti berserah diri, patuh, tunduk dan taat. Dari kata aslama dibentuk kata islam (aslam yuslimu islaman), yang mengandung arti selamat, aman, damai, patuh, berserah diri, dan taat. Orang yang masuk islam di namakan muslim, yaitu orang yang menyatakan dirinya telah taat, meyerahkan diri, dan patuh kepada Allah.

Ø  Menurut Maulana Muhammad Ali :

“islam adalah agama yang sebenarnya bagi seluruh umat manusia. Para nabi adalah yang mengajarkan agama islam dikalangan berbagai bangsa dan berbagai zaman, dan nabi Muhammad SAW adalah nabi agama itu yang terakhir dan paling sempurna.”

Ø  Menurut Harun Nasution :

“islam adalah agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada masyarakat manusia melalui nabi Muhammad SAW sebagai Rasul. Islam pada hakikatnya membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya mengenai satu segi, tetapi mengenai berbagai segi dari kehidupan manusia.”

Jadi kesimpulan mengenai Agama Islam adalah suatu ajaran tata cara yang diturunkan Allah SWT. kepada Nabi Muhammad SAW yang disiarkan dengan dakwah ke seluruh penjuru dunia, memberikan pertanda bahwa Islam diperuntukan bagi semua manusia yang ada dimuka bumi ini.

Di dalam Agama Islam ada tiga aspek atau tiga bagian terpenting yang terkait antara satu sama lainnya. Baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Secara tersurat maupun yang tersirat. Secara sadar maupun tidak sadar. Diantaranya adalah :

1.      Aqidah

2.      Syariat

3.      Akhlak

     Siapa saja yang ingin beragama Islam atau siapa saja yang ingin melaksanakan ajaran Islam di dalam kehidupan, wajib mempelajari ketiga aspek atau bagian yang ada di dalam ajaran Islam ini. Wajib dipelajari ilmunya, diyakini, dihayati, dan juga diamalkan.

1.2  Pengertian Aqidah

Aqidah berasal dari kata “aqada – ya’qidu – aqdan” yang berarti “mengikatkan atau mempercayai/meyakini” jadi “aqidah” berarti ikatan, kepercayaan atau keyakinan. Sedangkan pengertian aqidah dalam agama maksudnya adalah berkaitan dengan keyakinan, bukan perbuatan. Misalnya keyakinan adanya Allah dan diutusnya nabi Muhammad SAW sebagai rasul.

Aqidah di berikan oleh allah setelah rusaknya hati umat manusia dan tersesatnya kepercayaan yang mereka miliki juga runtuhnya semua akhlaq dan peri kemanusian. Di saat itu pasti nyata sekali kebutuhan manusia kepada suatu kekuasaan yang ampuh yang dapat mengembalikan meeka kepada fitrah asli mereka yang bener dan sejahtera. Bimbingan semacam itu mutlak di perluka oleh umat, agar secara langsung dapat lah manusia itu meneruskan perbaikan kemakmuran bumi dan agar kuat pula untuk membawa amanat kehidupan di alam semesta ini

Aqidah ini merupakan ruh bagi setiap orang dengan berpegang teguh kepadanya itu ia akan hidup dalam keadaaan yang baik dan memgembirakan,tetapi dengan meinggalkannya itu akan matilah semangat kerohanian manusia ia adalah bagaikan cahaya yang apabila seseorang itu buta dari padanya, maka pastilah ia akan terseset dalam liku-liku kehidupannya, malahan tidak mustahil bahwa ia akan terjerumus dalam lembah-lembah kesesatan yang amat dalam sekali.

Selain itu ada juga pengertian aqidah menurut para ahli yakni sebagai berikut :

1. Menurut Hassan Al-Banna

“Aqidah adalah beberapa perkara yang wajib diyakini keberadaannya oleh hatimu, mendatangkan ketentraman jiwa, menjadi keyakinan yang tidak bercampur sedikitpun dengan keragu-raguan”.

2. Menurut Abu Bakar Jabir al-Jazairy

“Aqidah adalah sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum oleh manusia berdasarkan akal, wahyu dan fithrah. (Kebenaran) itu dipatrikan oleh manusia di dalam hati serta diyakini kesahihan dan kebenarannya secara pasti dan ditolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu”.

1.3 Fungsi dan Peranan Aqidah

Dalam hubungan dengan Tuhan, aqidah memberi kejelasan tentang tuhan yang disembahnya sebagai dzat Yang Maha Kuasa; satu-satunya Dzat yang wajib disembah yang di Tangan-Nya nasib seluruh mahkluk ditentukan.

Dalam hubungan dengan manusia. Keyakinan tauhid ini menjadi dorongan utama untuk bergaul dan berbuat baik serta berbuat maslahat bagi manusia dan mahkluk lainnya. Dorongan keyakinan ini akan sanggup meniadakan segala pamrih duniawi dan balas jasa dari baikan yang ditanankan terhadap manusia lain.

Aqidah dapat dilihat peranannya dalam berbagai segi kehidupan seorang muslim serta memiliki implikasi terhadap sikap hidupnya. Implikasi dari aqidah itu antara lain dapat dilihat dalam pembentukan sikap, misalnya :

1. Penyerahan secara total kepada Allah dengan meniadakan sama sekali kekuatan dan kekuasaan diluar Allah yang dapat mendominasi dirinya.

2. Keyakinan terhadap Allah, menjadikan orang memiliki keberanian untuk berbuat, karena tidak ada baginya yang ditakuti selain melanggar perintah Allah. Keberanian ini menjadikan seorang muslim untuk berbicara tentang kebenaran secara lurus dan konsekuan dan tegas berdasarkan aturan aturan yang jelas diperintah Allah.

3. Keyakinan dapat membentuk rasa optimis menjalani kehidupan, karena keyakinan tauhid menjadikan hasil yang terbaik yang akan dicapainnya secara ruhaniah, karena itu seorang muslim tidak pernah gelisah dan putus asa, ia tetap berkiprah dengan penuh semangat dan optimisme.

     Dengan demikian aqidah dapat berperan sebagai landasan etik bagi seorang muslim dalam kehidupannya didunia dengan melihat hidup secara luas, yaitu hidup di dunia dan akhirat.

1.4 Tingkatan Aqidah

     Ditinjau dari segi kuat dan tidaknya, aqidah ini bisa dibagi menjadi empat tingkatkan, yaitu :

Tingkat ragu (Taklif), yakni orang yang beraqidah hanya karena ikut ikutan saja, tidak mempunyai pendirian sendiri.

1.      Tingkat yakin, yakni orang yang beraqidah atau sesuatu dan mampu menunjukan bukti, alasan, atau dalilnya, tapi belum mampu menemukan dengan data atau bukti (dalil) yang didapatnya. Sehingga tingkat ini masih mungkin terkecoh dengan sanggahan sanggahan yang bersifat rasional dan mendalam.

2.      Tingkat a’inul yakin, orang yang beraqidah atau meyakini sesuatu secara rasional, ilmiah dan mendalam ia mampu membuktikan hubungan antara objek (madlul) dengan data atau bukti (dalil). Tingkat ini tidak akan terkecoh lagi dengan sanggahan sanggahn yang bersifat rasional dan ilmiah.

3.      Tingkat haqqul yakin, yakni orang beraqidah atau meyakini sesuatu yang disamping mampu membuktikan hubungan antara objek (madlul)dengan bukti atau fakta (dalil) secara rasional, ilmiah dan mendalam, juga mampu menemukan dan merasakannya melalui pengalaman-pengalamannya dalam pengamalan ajaran agama.

1.5 Ruang Lingkup Aqidah

Secara sederhana sistematika agama islam dapat dijelaskan sebagai berikut kalau orang telah menerima tauhid sebagai prima causa yakni asal yang pertama, asal dari segala-galanya dalam keyakinan islam, maka rukun iman yang lain hanyalah akibat logis (masuk akal) saja penerimaan tauhid tersebut. Dari uraian singkat tersebut kita harus mengerti apa saja sistematisnya pokok-pokok keyakinan islam yang terangkum dalam rukun iman.

1.      Keyakinan kepada Allah

Allah, Zat yang maha mutlak itu, menurut ajaran islam, adalah Tuhan Yang Maha Esa. Menurut aqidah islam, konsepsi tetang Ketuhanan Yang Maha Esa disebut Tauhid

2.      Keyakinan kepada para Malaikat

Malaikat adalah mahkluk Gaib, tidak dapat ditangkap oleh pancaindra manusia akan tetapi, dengan izin Allah, malaikat dapat menjelmakan dirinya seperti manusia, Para malaikat mempunyai tugas tertentu seperti menyampaikan wahyu Allah kepada manusia melalui para rasulnya, mengukuhkan hati orang-orang yang beriman memberikan pertolongan kepada manusia, membantu perkembangan rohani manusia, mendorong manusia untuk berbuat baik, mencatat perbuatan manusia, dan melaksanakan hukuman Allah.

3.      Keyakinan kepada kitab-kitab suci

Kitab-kitab suci memuat wahyu Allah. Perkataan kitab yang berasal dari kata kerja Kataba artinya ia telah menulis. Memuat wahyu Allah. Perkataan wahyu berasal dari bahasa Arab al-wahy. Kata ini mengandung makna suara,bisikan, isyarat, tulisan dan kitab. Dalam pengertian yang umum wahyu adalah firman Allah yang disampaikan malaikat Jibril kepada para Rasul-Nya. Al-quran menyebut beberapa kitab suci misalnya Zabur yang diturunkan melalui nabi Daud, Taurat melalui nabi Musa, Injil melalui Nabi Isa dan Al-quran melalui nabi Muhammad sebagai Rasul-Nya.

4.      Keyakinan pada para nabi dan rasul

Para nabi menerima tuntan berupa wahyu, akan tetapi tidak mempunyai kewajiban menyampaikan wahyu itu kepada umat manusia. Rosul adalah utusan Tuhan yang berkewajiban menyampaikan wahyu yang diterimanya kepada umat manusia.

5.      Keyakinan pada hari kiamat dan pertanggung jawaban manusia di akhirat.

Keyakinan ini sangat penting dalam rangkaian satuan rukun iman lainnya, sebab tanpa mempercayai hari akhir sama halnya dengan orang tidak mempercayai agama islam walaupun orang itu menyatakan ia percaya kepada Allah, al quran dan Nabi Muhammad. Keyakinan pada hari akhir inilah yang mendorong manusia menyesuaikan diri dengan keranka nilai abadi yang ditetapkan Allah. Keyakinan kepada hari akhir ini pula lah yang menolong manusia memperkembangkan kepribadiannya secara sehat dan mantap karena itu pula ajaran islam mementingkan benar keyakinan pada hari akhirat.

6.         Keyakinan pada qada dan qadar

Yang dimaksud dengan qada adalah ketentuan mengenai sesuatu atau ketetapan tentang sesuatu, sedangkan qadar adalah ukuran sesuatu menurut hukum tertentu.


1.6 Kesatuan Aqidah

Aqidah merupakan kesatuan yang tidak akan berubah-ubah kerana pergantian zaman atau tempat tidak pula berganti-ganti kerana perbezaan golongan atau masyarakat.

Allah ta’ala berfirman:

“Allah telah mensyariatkan agama untukmu semua iaitu yang diwasiatkan kepada Nuh yang kami wahyukan padamu, juga yang kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, hendaklah kamu semua menegakkan agama itu dan jangan berselisih di dalam melaksanakannya” (Asy-Syura: 13) :

Jelaslah dari ayat di atas itu bahwa agama yang disyariatkan oleh Allah ta’ala kepada kita itu adalah sebagaiman yang pernah diwasiatkan kepada Rasul-rasulNya yang dahulu-dahulu, yakni agama yang merupakan pokok-pokok aqidah dan tiang-tiang atau rukun-rukun keimanan. Jadi bukannya cabang-cabangnya agama atau syariat-syariatnya yang berupa amalan. Sebabnya adalah kerana setiap ummat itu tentu memiliki syariat-syariat amaliah yang sesuai dengan keadaan mereka sendiri, hal-ehwal serta jalan fikiran serta kerohanian mereka itu pula.

1.7 Sebab Aqidah Itu Satu dan Kekal

Pertama, ialah ma’rifat kepada Allah Ta’ala yang akan memancarkan berbagai perasaan yang baik dan dapat dibina di atasnya semangat untuk menuju kearah perbaikan. Ma’rifat ini dapat pula memberi didikan kepada hati untuk senantiasa menyelidiki dan meneliti mana-mana yang salah dan tercela, malahan dapat menumbuhkan kemauanuntuk mencari keluhuran kemulian dan ketinggian budi dan akhlak dan sebaliknya juga menyuruh seseorang supaya menghindarkan dirinya dari amal perbuatan yang hina, rendah dan tidak berharga sedikitpun.

Kedua, ialah ma’rifat kepada malaikatnya Allah Ta’ala. Hal ini dapat mengajak hati sendiri untuk mencontoh dan meniru perilaku mereka yang serba baik dan terpuji itu, juga dapat tolong-menolong dengan mereka untuk mencapai yang hak dan luhur. Selain itu mengajak pula untuk memperoleh penjagaan yang sempurna, sehingga tidak satupun yang timbul dari manusia itu melainkan yang baik-baik dan segala tindakannya pun tidak akan ditujukan melainkan untuk maksud yang mulia belaka.

Ketiga, ialah ma’rifat kepada kitab-kitab suci Allah Ta’la. Ini adalah suatu ma’rifat yang memberikan arah untuk menempuh jalan yang lurus, bijksana dan diridhai oleh Tuhan yang tentunya sudah digariskan oleh Allah Ta’ala agar seluruh ummat manusia itu mentaatinnya. Sebabnya ialah karena hanya dengan melalui jalan inilah maka seseorang itu dapat sampai kearah kesempurnaan yang hakiki, baik dalam segi kebendaan (materi) atau segi kerohaniaan dan akhlak (adabi).

Keempat, ialah ma’rifat kepada rasul-rasul Allah Ta’ala. Dengan ma’rifat ini dimaksudkan agar setiap manusia itu mengikuti jejak langkahnya memperhias diri dengan meniru akhlak para rasul itu. Selain itu juga bersabar dan tabah hati dalam mencontoh sepak terjang beliau-beliau itu sebab sudah jelaslah bahwa tindak langkahnya para rasul itu mencerminkan suatu teladan yang tinggi nilainya dan yang bermutu baiksekali, bahkan itulah yang merupakan kehidupan yang suci dan bersih yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala agar dimiliki oleh seluruh ummat manusia.

Kelima, ialah ma’rifat kepada hari akhir dan ini akan menjadi pembangkit yang terkuat untuk mengajak manusia itu berbuat kebaikan dan meninggalkan keburukan.

Keenam, ialah ma’rifat kepada takdir dan ini akan memberikan bekal kekuatan dan kesanggupan kepada seseorang untuk menanggulangi segala macam rintangan, siksaan, kesengsaraan dan kesukaran. Sementara itu akan dianggap kecil sajalah segala penghalang dan cobaan, sekalipun bagaimana juga dahsyat dan hebatnya.

Akidah ini merupakan ruh bagi setiap orang, dengan berpegang teguh padanya itu ia akan hidup dalam keadaan yang baik dan menggembirakan, tetapi dengan meninggalkannya itu akan matilah semangat kerohanian manusia. Ia adalah bagaikan cahaya yang apabila seseorang itu buta dari padanya, maka pastilah ia akan teresat dalam liku-liku kehidupannya, malahan tidak mustahil bahwa ia akan terjerumus dalam lembah-lembah kesesatan yang amat dalam sekali.

Dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman :

“… Adakah orang yang sudah mati, kemudian kami (Allah) hidupkan dan kami berikan padanya cahaya yang terang yang dengannya itu ia dapat berjalan ditengah-tengah manusia, sama dengan orang yang dalam keadaan gelap gulita yang ia tidak dapat keluar dari situ?”. (QS. Al-An’am 122).

Memang akidah adalah sumber dari rasa kasih sayang yang terpuji, ia adalah tempat tertanamnya perasaan-perasaan yang indah dan luhur, juga sebagai tempat tumbuhnya akhlak yang mulia dan utama. Sebenarnya tidak suatu keutamaanpu, melainkan ia pasti timbul dari situ dan tidak suatu kebaikanpun, melainkan pasti bersumber daripadanya.

Al quran  diwaktu memperbincangkan perihalm kebaikan, maka disebutkanlah bahwa akidah itulah yang menjadi perintis atau pendorong dari amal-amal perbuatan yang shalih itu. Jadi akidah diumpamakan sebagai pokok yang dari situlah munculnya beberapa cabang atau sebagai fundamen yang diatasnyalah bangunan didirikan.








Allah SWT berfirman :



“.. Bukanlah kebaikan itu jika kamu semua menghadapkan mukamu kea rah timur atau barat, tetapi yang disebut kebaikan itu ialah kebaikan seseorang yang beriman kepada Allah, hari akhir (hari kiamat), malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi memberikan harta yang dicintainya itu kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin”

“Orang yang terlantar dalam perjalanan, orang minta-minta, orang-orang yang berusaha melepaskan perbudakan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, memenuhi janji apabila berjanji, sabar dalam kesengsaraan dan kemelaratan dan juga diwaktu peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan merekalah orang-orang yang bertaqwa kepada Allah.” (QS. Al Baqarah 177).

1.8 Jalan Yang Ditempuh Para Rasul Dalam Menanamnkan Aqidah

Sekalian rasul Tuhan memberitahukan kepada masing-masing ummatnya akidah sebagaimana yang tersebut dimuka danmereka menempuh cara yang semuanya itu dapat dikatakan mudah, ringan dan gampang. Juga semuanya itu mudah dimengerti, difahamkan dan diterima. Beliau ‘alaihimus salam itu menyuruh ummatnya supaya mengarahkan pandangan mereka ke kerajaan langit dan bumi, digerakanlah akal fikiran mereka itu supaya suka mengenang-ngenangkan serta memikir-mikirkan tanda-tanda kekuasaan Tuhan. Fithrahnya dibangunkan agar jiwanya dapat menerima tanaman dengan mempunyai perasaan yang teguh lagi cocok dalam beragama dan selain itu diajaknya pula merasakan suatu alam lain yang ada dibalik alam semesta yang dapat dilihat ini.

Diatas landasan-landasan sebagaimana diatas itu pula lah Rasulullah menanamkan akidah itu dalam hati dan jiwa ummatnya, ummat Muhammad yang terbesar ini. Beliau Nabi Muhammad SAW. dapat mengubah ummat yang asal mulanya sebagai penyembah berhala dan patung yang dahulunya melakukan syirik dan kufur menjadi ummat yang berakidah tauhid, meng-Esakan Tuhan sekalian alam. Hati mereka dipompa dengan keimanan dan keyakinan. Sementara itu beliau Nabi Muhammad SAW. dapat pula membentuk sahabat-sahabatnya menjadi pemimpin-pemimpin yang harus diikuti dalam hal perbaikan budi dan akhlak, bahkan menjadi pembimbing-pembimbing kebaikan dan keutamaan. Bahkan lebih dari itu lagi, karena beliau nabi Muhammad SAW. telah membentuk generasi dari ummatnya itu sebagai suatu bangsa yang menjadi mulia dengan sebuah adanya keimanan dalam dada mereka berpegang teguh pada hak dan kebenaran. Maka pada saat itu ummat yang langsung dibawah pimpinannya adalah bagaikan matahari dunia, disamping pengajak kesejahteraan dan keselamaatan pada seluruh ummat manusia.

Allah Ta’ala membuat kesaksian sendiri pada generasi itu bahwa mereka benar-benar memperoleh ketinggian dan keistimewaan yang khusus, sebagaimana firmanNya :

“.. Kamu semua adalah sebaik-baik ummat yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kebaikan mencegah kemunkaran dan beriman kepada Allah.”(QS. Ali Imran 110).

Susunan makmum



Susunan Makmum (Kitab Shalat Bagian 23)


Susunan Makmum

Kalau makmum hanya seorang hendaklah ia berdiri di sebelah kanan imam, agak ke belakang sedikit dan apabila datang orang yang lain hendaklah ia berdiri di sebelah kiri imam, sesudah ia takbir, imam hendaklah maju ke depan, atau makmum kedua orang itu mundur ke belakang.

Sabda Rasulullah SAW:

"Dari Jabir, katanya: Saya telah shalat mengikut Nabi SAW, saya berdiri di sebelah kanan beliau, kemudian datang Jabir bin Sakhrin berdiri di sebelah kiri beliau, maka beliau ambil tangan kami keduanya, sehingga beliau dirikan kami di belakang beliau. HR.Muslim".

Kalau jama'ah itu terdiri dari beberapa shaf, terdiri dari jama'ah laki-laki dewasa, anak-anak dan perempuan, maka hendaklah diatur shaf sebagai berikut : di belakang imam shaf laki-laki dewasa kemudian shaf anak-anak, kemudian shaf perempuan.

Sabda Rasulullah SAW:

"Nabi SAW pernah mengatur shaf laki-laki dewasa didepan saf anak-anak dan saf perempuan di belakang saf anak-anak. HR.Muslim".

Sabda Rasulullah SAW:

"Sebaik-baik saf laki-laki dewasa ialah saf yang pertama, seburuk-buruknya (saf laki-laki dewasa) ialah saf yang di belakang sekali, sebaik-baik saf perempuan ialah saf yang di belakang sekali dan seburuk-buruknya saf yang pertama. HR.Muslim".

Saf hendaklah lurus dan rapat, berarti jangan ada renggang antara yang seorang dengan yang lain.

Sabda Rasulullah SAW:
"Dari Anas, Rasulullah SAW menghadapkan muka beliau kepada kami sebelum takbir, beliau berkata: Rapatkanlah dan luruskanlah barisan kamu. HR.Bukhari dan Muslim".

Sabda Rasulullah SAW:
"Dari Abu Amamah, telah berkata Rasulullah SAW: Penuhkan olehmu jarak yang kosong diantara kamu, maka sesungguhnya syaitan dapat masuk di antara kamu sebagai anak kambing. HR.Ahmad".

6. Imam hendaklah jangan mengikuti kepada yang lain.

Imam itu hendaklah berpendirian tidak terpengaruh oleh yang lain, kalau ia makmum tentu ia akan mengikuti imamnya.

7. Hendaklah sama aturan shalat makmum dengan shalat imam.

Artinya tidak sah shalat fardhu, yang lima mengikuti kepada shalat gerhana atau shalat mayat, karena aturan (cara) kedua shalat itu tidak sama, tetapi tidak berhalangan orang shalat fardhu, yang lima mengikuti orang shalat sunnah yang sama aturannya, seperti orang shalat 'Isya mengikuti orang shalat tarawih, dan sebaliknya, karena aturan dua shalat tersebut sama.

8. Laki-laki tidak sah mengikut perempuan.

Berarti laki-laki tidak boleh menjadi makmum, sedang imamnya perempuan.

Adapun perempuan yang menjadi imam bagi perempuan pula tidak berhalangan.

Sabda Rasulullah SAW:
"Perempuan janganlah dijadikan imam sedang makmumnya laki-laki. HR.Ibnu Majah".

9. Keadaan imam tidak ummi sedang makmum qari.

Artinya imam itu hendaklah orang yang baik bacaannya.

10. Janganlah makmum berimam kepada orang yang diketahuinya bahwa shalatnya tidak sah (batal).

Seperti mengikut imam yang di ketahui oleh makmum bahwa ia bukan orang Islam atau ia berhadats atau bernajis badan atau pakaiannya atau tempatnya.

Karena imam yang seperti itu hukumnya tidak sah dalam shalat, sebagaimana akan diikut shalatnya.